Mei 272014
 

Menguasai Permasalahan Secara Mendetail[1]

J Soedradjad Djiwandono[2]

Siapa yang tidak mengenal Presiden Soeharto? Bagi orang Indonesia tentunya jawabannya negatif. Bagaimana mungkin ada orang Indonesia yang tidak mengenal beliau. Mungkin kita malah merasa heran bahwa hal ini ditanyakan. Sebaliknya mungkin kita ganti bertanya, kalau semua orang mengenal Presiden Soeharto, apa istimewanya kita mengenal beliau? Akan tetapi pertanyaanya di sini adalah, apakah saya mengenal Presiden Soeharto secara pribadi. Kalau menjawab: “ya, saya kenal secara pribadi Presiden Soeharto”, maka permasalahannya menjadi berbeda. Karena tidak semua orang Indonesia memperoleh kesempatan demikian, maka bagaimana kita mengenal beliau perlu diutarakan agar lebih banyak warga Indonesia dan orang-orang lain mengetahui berbagai aspek kehidupan dan sifat beliau menurut mereka yang mengenal beliau lebih dekat daripada masyarakat luas.

Perkenalan saya dengan Presiden Soeharto dimulai dari persiapan dari suatu peristiwa penting untuk keluarga Presiden; yaitu pernikahan puteri kedua Presiden, Siti Hediyanti atau di kenal sebagai Titiek, dengan Prabowo, putera Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Karena saya bertindak sebagai salah seorang wakil keluarga Sumitro, maka dalam persiapan pesta perkawinan dalam rapat rapat panitia keluarga timbul keadaan yang menyebabkan saya bertemu dengan Presiden Soeharto secara langsung. Perkenalan tersebut terjadi pada waktu saya harus memberikan uraian mengenai rencana keluarga calon pengantin pria dalam acara ngunduh mantu yang harus saya paparkan di hadapan Bapak dan Ibu Soeharto beserta keluarga dan segenap anggota panitia pesta perkawinan. Pertemuan tersebut dilaksanakan di kediaman Presiden di Jalan Cendana, mendekati akhir April 1983.

Dalam perkenalan pertama ini kesan yang saya peroleh adalah bahwa Pak Harto sangat memperhatikan dan menguasai rincian dari upacara dan adat Jawa. Akan tetapi hal tersebut dibarengi dengan sikap akomodatif, penuh pengertian terhadap permasalahan praktis yang harus dihadapi oleh panitia yang bertanggungjawab atas kelancaran acara yang akan dilaksanakan. Terus terang sikap tersebut berbeda dengan persepsi yang ada pada saya sebelum bertemu dengan beliau secara pribadi. Persepsi tersebut timbul lewat orang-orang lain yang saya anggap mengetahui beliau lebih dekat; apa yang saya dengar itu mungkin tidak selalu benar. Ternyata persepsi yang saya tangkap dari perkenalan pertama tersebut benar, karena kemudian diperkuat melalui pengenalan atau pengamatan yang lebih dekat terhadap perilaku beliau dalam berbagai kesempatan bertemu Iewat berbagai acara keluarga yang kebetulan saya ikut hadir.

Dalam hal kedinasan, pertemuan yang dekat dengan Presiden Soeharto terjadi pada suatu pertemuan yang untuk Presiden merupakan sesuatu yang biasa akan tetapi bagi saya sangat penting, karena pertemuan tersebut banyak mengubah pekerjaan dan tanggung jawab saya sebagai warganegara. Pertemuan itu terjadi pada bulan Maret 1988 di Tapos, pada waktu bersama-sama Prof. Benny Mulyana, lr. Tungky Ariwibiwo, Dr. Sjarifudin Baharsjah, Drs. Saadillah Mursyid MPA dan Drs. Nasruddin Sumintapura MA, saya menghadap Presiden Soeharto, memenuhi undangan beliau yang disampaikan melalui Menteri Muda/Sekretaris Kabinet, Drs. Moerdiono. Memang pada waktu itu belum dapat dikatakan ada hubungan kedinasan, tetapi sebagai permulaannya. Sebelum sampai ke tempat pertemuan, terus terang saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Bagaimana mungkin bisa membayangkan, meskipun sudah sering dengar, Tapos pun saya tidak tahu bagaimana bentuk dan suasananya. Apalagi pertemuan tersebut nampak serba “misterius”.

Pertama, informasi yang disampaikan lewat Menteri Muda/ Sekretaris Kabinet adalah bahwa saya diundang bersama orang­orang yang dianggap perlu mengetahui mengenai apa yang di­kembangkan di Tapos, untuk mendengarkan penjelasan Presiden. Undangan tersebut disampaikan secara lisan, tepatnya per telepon, pada waktu saya sedang presentasi makalah membahas statistik bulanan indikator ekonomi Biro Pusat Statistik. Meskipun agak curiga mengenai apa yang akan terjadi, tetapi saya menyanggupi saja segala yang dimintakan Pak Moerdiono. Kedua, Pak Moerdiono mengatakan bahwa saya diminta datang di Wisma Baja, untuk bersama-sama dengan undangan lain “yang dijatahkan pada Menteri Muda/Sekretaris Kabinet” menuju Tapos dengan sebuah bis. Karena dikatakan bahwa Menteri Muda/Sekretaris Kabinet mempunyai jatah beberapa undangan, maka saya menyangka akan ada banyak orang yang hadir di Tapos, yang diundang lewat menteri lain. Akan tetapi ternyata nama-nama yang saya sebutkan di atas, sebut saja, yang hadir dan langsung diterima Presiden di rumah sederhana yang saya lihat merupakan bangunan utama di kompleks tersebut.

Pertemuan itu merupakan awal hubungan kedinasan saya dengan Presiden, karena dalam pertemuan yang untuk saya pribadi bersejarah tersebut saya ditanya apakah bersedia menjadi pembantu Presiden sebagai Menteri Muda Perdagangan dalam Kabinet Pembangunan V yang beliau pimpin. Dengan segala kerendahan hati, karena menyadari tugas tersebut amat berat, dengan perasaan yang bercampur antara takut, terima kasih dan bangga memperoleh kepercayaan demikian besar dari Presiden, saya menerima penugasan tersebut. Penerimaan tersebut merupakan pertanggungjawaban saya sebagai warga negara Indonesia yang dipanggil Kepala Negara dan Pemerintah, untuk memikul suatu tugas yang berat tetapi mulia.

Kesan yang sangat mendalam pada waktu itu adalah bahwa beliau telah mempertimbangkan begitu banyak aspek yang berkaitan dengan pembentukan Kabinet Pembangunan V, terutama dalam kaitannya dengan tugas konstitusional sebagai Mandataris MPR, untuk melaksanakan amanat seluruh rakyat, memimpin bangsa Indonesia yang sedang memasuki tahap yang sangat penting dalam pembangunan nasional. Beliau sangat menguasai permasalahan secara mendetail, dengan konsep dan garis strategi yang jelas. Berbagai pesan telah secara langsung dikemukakan beliau mengenai apa yang harus diperhatikan dalam menjalankan tugas sebagai orang kedua di Departemen Perdagangan nantinya.

Setelah itu kita diajak beliau melihat kegiatan yang dilakukan di Tapos. Saya sudah sering mendengar bagaimana penguasaan beliau mengenai segala seluk beluk masalah pertanian, yang saya memang merasa terlalu awam. Akan tetapi mendengar sendiri secara langsung penjelasan beliau mengenai berbagai percobaan pembibitan tanaman dan ternak, produksi dan penggunaan pupuk kandang, percobaan penanaman rumput jenis unggul untuk makanan ternak, pemeliharaan ternak untuk potong dan untuk diambil susunya, dan sebagainya, semuanya menjadi sangat jelas, dan paling sedikit sangat impressive. Dalam segala kesibukan beliau menjalankan roda pemerintahan, kesibukan luar biasa dalam penyusunan kabinet waktu itu, kegiatan sosial yang sangat banyak dan kegiatan keluarga, beliau masih sangat teliti dan gamblang menjelaskan semua permasalahan pertanian yang terkait dengan usaha percontohan yang dikembangkan di Tapos. Terus terang, saya masih penuh dengan berbagai perasaan yang campur aduk setelah mendengar dan menerima penugasan sebagai Menteri Muda Perdagangan. Akan tetapi saya mendengarkan dan mempelajari dengan baik. Meskipun permasalahan-permasalahan tersebut tidak pernah saya pelajari, saya menjadi tertarik seketika, karena penjelasan yang sangat jelas, rinci dan menarik dari Presiden.

Sebagai orang yang mempunyai latar pendidikan yang sangat makro dengan pengalaman lapangan yang sangat minim, apa yang saya lihat pada Presiden sebagai seorang pemimpin pemerintahan, negara dan bangsa, adalah sangat mengesankan. Beliau sangat menguasai permasalahan secara mendetail, selain sudah barang tentu konsepsi dan strategi yang jelas dengan segala nuansa politik, sosial dan aspek-aspek lain yang terkait. Semuanya ini menjadikan saya merasa kecil dan tidak berpengalaman. Tetapi kata-kata beliau yang menunjukkan pertimbangan yang masak dan kepercayaan yang besar pada kita yang diserahi penugasan baru itu membangkitkan saya untuk melihat penugasan tersebut sebagai tantangan yang harus saya jawab dengan positif.

Daya ingat beliau yang sangat kuat dan perilaku yang konsekuen sangat menonjol. Dalam hubungan ini ada peristiwa yang meskipun kecil, untuk saya, memberikan gambaran tersebut secara jelas. Sehari sebelum pelantikan kabinet baru kebetulan ada acara keluarga, ulang tahun Didiet, cucu Presiden dari Titiek dan Bowo. Suatu ketika pada sore hari tersebut pembicaraan berkisar pada proses penyusunan kabinet yang hari sebelumnya diumumkan susunannya oleh Presiden. Ibu mertua saya, Ibu Sumitro, mengatakan bahwa saya “agak kebangetan” karena sama sekali tidak memberitahu tentang pengangkatan saya. Dengan cepat Presiden berkomentar: “Jangan disalahkan dia Bu Mitro, karena saya yang suruh supaya jangan cerita dulu”. Bapak Presiden memang berpesan demikian pada waktu di Tapos. Pada waktu itu Bapak Presiden nampak sangat rileks. Nampaknya karena beberapa minggu yang penuh ketegangan, dari sidang MPR yang memilih beliau, sampai pada penyusunan kabinet yang jelas memakan seluruh pikiran, perhatian dan tenaga beliau, telah berakhir.

Dalam lingkungan keluarga, yang saya lihat adalah bagaimana dekatnya beliau dengan putera-puteri dan cucu-cucu. Nampak sekali bahwa dalam segala kesibukan beliau dengan urusan kenegaraan dan pemerintahan serta kemasyarakatan, beliau masih menyediakan waktu khusus bagi keluarga. Tanpa itu tidak mungkin terjadi hubungan yang demikian erat dengan seluruh anggota keluarga. Hubungan sangat erat ini nampak dalam semua acara keluarga yang saya hadiri.

Kembali di sini hal-hal yang mendetail mengenai adat istiadat dan nilai-nilai kebudayaan Jawa yang beliau kuasai sangat tampak. Bagaimana beliau memimpin berbagai peristiwa keluarga yang mengikuti kebiasaan/aturan secara sangat teliti dilaksanakan dengan penuh kedalaman dalam penghayatannya. lni tampak dalam semua peristiwa, apakah itu dalam hal upacara perkawinan, kelahiran, tedak siten, kematian, dan sebagainya. Semua ini didasari oleh nilai keagamaan yang sangat kuat. Pada waktu persiapan pesta perkawinan, misalnya Presiden Soeharto menjelaskan dengan menunjukkan contoh secara jelas bagaimana cara mengenakan keris secara benar kepada semua petugas, yang kebanyakan memang tidak tahu. Tetapi tidak hanya terbatas pada upacara Jawa. Perasaan keindonesiaan beliau jelas tidak perlu ditanyakan. Coba lihat saja susunan keluarga beliau, putera-puterinya menikah dengan berbagai suku bangsa. Semua ini jelas menunjukkan penghayatan dan konsekuensi dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang tak henti-hentinya beliau masyarakatkan kepada kita semua.

Suatu pengalaman yang baru terjadi mengenai hal yang berkaitan erat dengan penghayatan nilai-nilai luhur bangsa serta pemasyarakatannya dengan memberikan suatu contoh yang jelas, dapat saya tuturkan di sini. Untuk tahun 1989 saya diminta menjadi Ketua Umum Panitia Natal Pegawai Republik Indonesia (pegawai negeri dan ABRI) dengan keluarga mereka. Dalam petunjuk yang diberikan pada waktu Panitia melapor dan secara resmi mengundang Bapak Presiden beserta Ibu Tien Soeharto, beliau secara jelas menunjukkan perlunya kita memisahkan suatu acara keagamaan yang merupakan “kebaktian” dengan “peringatan”. Bapak Presiden menekankan bahwa karena dalam acara ini diundang pula tokoh-tokoh masyarakat yang bukan beragama Kristen, apalagi juga dihadiri Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden dan menteri-menteri yang juga bukan beragama Kristen, maka jangan sampai acara ini menjadi suatu atau bagian dari ibadah keagamaan atau kebaktian yang menjadikan para undangan yang tidak seiman canggung.

Acara peringatan Natal bersama ini justru harus merupakan bukti penghayatan kita terhadap nilai-nilai luhur Pancasila. Di sini dapat ditunjukkan adanya kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang menghayati kerukunan beragama dengan dasar toleransi antar pemeluk agama. Hadirnya mereka yang beragama Islam, Hindu, Budha atau kepercayaan lain dalam acara ini menunjukkan penghayatan tersebut. Karena itu acara Natal ini memang sebaiknya bersifat peringatan dan bukan kebaktian. Sebab kalau itu merupakan kebaktian, akan menimbulkan rasa kikuk dan canggung bagi mereka yang diundang dan hadir, tetapi tidak merayakan Natal karena berlainan agama atau kepercayaan yang dianutnya.

Acara yang merupakan atau nampak seperti bagian dari kebaktian perlu disesuaikan dengan maksud peringatan tersebut. Toleransi satu sama lain antara suku yang berbeda, agama yang berbeda sudah merupakan bagian dari kekayaan nasional. Ini harus dipupuk dan dikembangkan. Karena itu jangan sampai suatu acara yang maksud dan maknanya sangat bagus untuk pemupukan tersebut justru menimbulkan perasaan tidak enak bagi yang hadir dan menimbulkan dampak yang sebaliknya. Ini sesuatu yang perlu kita sadari bersama sebagai warga negara Indonesia yang merupakan insan Pancasila.

Penguasaan yang sangat mendetail dari permasalahan yang dihadapi, ditambah dengan daya ingat yang sangat kuat dan daya analisis yang tajam, tampak sangat menonjol dalam pembahasan yang disampaikan beliau atau dalam komentar terhadap laporan yang kita susun. Dalam suatu negara yang sedang membangun; hal ini jelas sangat penting dan merupakan unsur dominan keberhasilan bangsa Indonesia dalam pembangunan nasional. Akan tetapi dalam negara kita yang besar dengan permasalahan sangat kompleks yang harus dihadapi, penguasaan secara mendetail dan menyeluruh tersebut sungguh mengagumkan bagi seorang pemimpin negara yang sekaligus pemimpin pemerintahan. Kesan ini sangat mendalam pada diri saya, saya peroleh setiap kali mendengarkan uraian beliau mengenai sesuatu permasalahan atau petunjuk jalan keluar yang beliau berikan terhadap permasalahan yang kita ajukan.

Penugasan terhadap seorang Menteri Muda telah diuraikan Bapak Presiden, baik pada waktu kami dipanggil ke Tapos, untuk ditanya apakah bersedia menjalankan tugas ini, maupun pada waktu beliau mengumumkan susunan Kabinet Pembangunan V, Dalam kesempatan saya melaporkan kepada Presiden mengenai berbagai masalah yang saya garap, beliau juga mengingatkan kembali hal-hal tersebut. Pembagian tugas yang tegas antara menteri senior dan saya sendiri dalam lingkungan Departemen Perdagangan juga tidak dilakukan. Menteri muda merupakan pembantu Presiden yang ditugaskan dalam sektor tertentu untuk membantu dan bersartra menteri yang menangani suatu departemen bertanggung jawab melaksanakan penugasan tersebut. Akan tetapi karena suatu sektor terkait dengan sektor yang lain, maka Presiden selalu menekankan perlunya komunikasi dan kerjasama antar departemen dalam penanganan masalah yang timbul.

Selain itu, terutama yang saya rasakan, tentunya karena latar belakang saya, Presiden menekankan perlunya saya mempelajari masalah di lapangan; bagaimana suatu masalah secara riil timbul di daerah, bagaimana kaitannya dengan masalah dan instansi lain.

Orientasinya harus ke permasalahan atau kasus yang riil. Karena sektor yang ditugaskan pada saya, saya harus banyak belajar dan mendengarkan dunia usaha yang karena pengalaman mereka memang mengetahui hal ini secara nyata. Ini terus menerus saya pegang, dan karena itu dalam setiap kesempatan ke daerah, saya mempelajari masalah-masalah lapangan yang harus mendapatkan perhatian untuk diselesaikan. Sebenarnya memang aneh, sebagai pembantu beliau seharusnya saya mengetahui hal-hal ini untuk dilaporkan dan diusulkan penyelesaiannya. Akan tetapi memang kerapkali penguasaan beliau mengenai berbagai permasalahan lebih mendetail dari pembantunya.

Saya menyadari bahwa dalam pelaksanaan tugas saya harus berorientasi pada pemecahan masalah secara nyata yang menuntut penguasaan masalah itu sendiri dan kemudian mengkoordinasikannya dengan instansi lain. Setelah itu, keberanian untuk menentukan langkah nyata yang terbaik dalam kaitannya dengan berbagai aspek lain yang harus diperhatikan. Dari berbagai laporan yang saya sampaikan pada Bapak Presiden dan pembahasan maupun petunjuk yang saya peroleh dari beliau, saya memperoleh gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana masala-masalah secara konsepsional, yang bersifat sektoral, bahkan mikro, diangkat ke permukaan untuk diselesaikan secara tuntas. Yang ingin saya tekankan dalam hal ini adalah kesan yang menonjol yang saya peroleh mengenai kepemimpinan beliau yang menunjukkan contoh kongkrit kepada pembantunya. Penerapan mengenai konsep panutan dilaksanakan oleh beliau secara jelas sekali. Jelas beliau juga seorang pendidik yang sangat baik. Sebagai pembantu beliau saya terus menerus belajar dari beliau bagaimana menyelesaikan permasalahan secara efektif. Saya berpendapat memang demikian semestinya proses belajar terjadi.

Sebagai pembantu beliau, perasaan yang paling tidak enak tentu saja kalau saya merasa atau menemukan bahwa apa yang saya lakukan tidak sesuai dengan harapan beliau. Memang hal ini tidak selalu jelas, akan tetapi saya dapat mengambil konklusi dari komentar atau petunjuk beliau. Saya merasakan bahwa komunikasi mengenai permasalahan dan pesan beliau dapat saya tangkap dengan jelas.

Kapan saya menghadap Bapak presiden untuk memohon petunjuk? Mungkin agak sulit untuk memberikan garis yang jelas. Sebagai konsekuensi bahwa beliau mengetahui semua permasalahan nasional secara mendetail, maka yang jelas permohonan untuk memperoleh petunjuk mengenai sesuatu masalah harus sangat lengkap dan baik dipersiapkan dahulu. Ini sering menimbulkan suatu dilema. Di satu pihak permasalahan yang timbul di sektor perdagangan kerapkali menuntut penyelesaian yang cepat. Kita berpacu dengan waktu. Di lain pihak, latar belakang pengalaman saya yang belum banyak dengan latihan dalam disiplin ekonomi yang sering memang terlalu banyak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, menyebabkan bahwa pertimbangan yang saya lakukan terlalu makan banyak waktu. Apalagi saya mengetahui bahwa Bapak Presiden mengetahui permasalahan secara mendetail. Ini menimbulkan keadaan kurang cepatnya pertimbangan dan pilihan kemungkinan yang dapat kita ajukan kepada Bapak Presiden. Ini saya rasakan. Sudah barang tentu ini harus dikurangi, meskipun secara berangsur­angsur.

Memang ada berbagai persoalan yang dari semula saya mengetahui selalu kita ajukan kepada Bapak Presiden. Dengan demikian, maka permasalahan serupa akan saya bawa kepada Presiden. Akan tetapi permasalahan memang terus berkembang. Dalam berbagai hal, yang jelas kita membahasnya dahulu dengan rekan menteri lain, apalagi dalam hal yang menyangkut berbagai kepentingan yang terkait. Setelah itu kita ajukan kepada Presiden.

Mengenai hal ini, Bapak Presiden pernah mengemukakan bahwa kalau menghadapi permasalahan yang perlu dikoordinasikan dengan rekan-rekan menteri (menteri muda) lain agar segera dilakukan. Dan kalau setelah proses ini dilakukan masih menghadapi masalah agar langsung dilaporkan kepada beliau agar masalahnya tidak menjadi berlarut-larut. Dan hal ini saya Iakukan.

Masyarakat memang tidak selalu mengetahui bagaimana status menteri muda, bagaimana pembagian tugas dengan menteri, kapan melapor kepada Presiden, dan sebagainya. Karena itu, paling sedikit sampai beberapa bulan pertama, pertanyaan yang dikemukakan teman selalu, “Bagaimana pembagian tugas antara anda dengan menteri senior?” Di luar negeri hal ini sering juga merupakan masalah. Dalam pelaksanaan tugas saya ke luar negeri, hal ini sering membingungkan dan menimbulkan masalah protokoler. Memang sebutan junior minister tidak selalu ada di negara lain. Selain itu, di negara-negara dimana ada junior minister, kerapkali mereka bukan merupakan anggota kabinet. Ini berbeda dengan sistem kita. Dalam berbagai hal ini menimbulkan kejanggalan.

Dalam kenyataannya, saya hampir selalu menyertai Menteri Perdagangan dalam melapor pada Presiden. Akan tetapi dalam keadaan yang tidak memungkinkan kita melapor berdua, misalnya salah satu tidak ada di tempat, maka Menteri Perdagangan atau saya melapor sendiri. Ini yang telah dilaksanakan.

Dalam pengenalan saya terhadap Presiden Soeharto selama ini, sifat sangat menonjol yang saya kagumi adalah penguasaan sangat detail beliau mengenai permasalahan, daya ingat yang luar biasa dan daya analisa yang sangat tajam dengan penyampaian yang jelas. Saya baru sekali mengikuti acara temu-wicara beliau dengan berbagai kelompok masyarakat, yaitu pada waktu Peringatan Hari Pangan Sedunia di Wonogiri. Meskipun telah beberapa kali melihat dalam acara TV, peristiwa tersebut menunjukkan lagi pada saya berbagai sifat menonjol yang telah saya singgung di atas, disertai daya komunikatif beliau dengan masyarakat yang sangat kuat untuk membahas permasalahan yang hidup di lingkungan petani, nelayan, ibu-ibu PKK, anggota koperasi, dan lain-lain secara sangat efektif. Bapak Presiden menjawab semua pertanyaan dengan cara sungguh­ sungguh menyentuh permasalahan yang diajukan dan mengajak penanya menyadari masalah yang timbul dalam kerangka permasalahan yang Iebih Iuas, ataupun menunjukkan jalan keluar yang dapat di peroleh secara kongkrit. lni memang sangat mengesankan.

***



[1]     J Soedradjad Djiwandono, “Menguasaipermasalahan Secara Mendetail “, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 444-453.

[2]     Menteri Muda Perdagangan dalam Kabinet Pembangunan V.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: