Jul 202017
 

MENGABAIKAN KAUM IBU, BERARTI MENUJU KE JURANG KEHANCURAN

Presiden pada Peringatan Hari lbu

Presiden Soeharto dan Ibu Tien bersama sekitar 5000 kaum wanita Indonesia Sabtu merayakan Peringatan Hari Ibu ke-56 di Balai Sidang Senayan.

Menyambut Hari Ibu ini berbagai kegiatan telah dilakukan sebelumnya antara lain lomba gerak jalan keluarga sehat dan kegiatan sosial.

Sebagai puncak acara Kepala Negara menyerahkan piagam kepada Ny. Rohazul Yaumi dari Bengkulu mewakili pelaksana terbaik 10 program PKK dan kepada Ny. Margareta Tukan dari NTT, Ia keluar sebagai pemenang pelaksana terbaik program terpadu Proyek Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WK-SS). Sementara itu Ibu Tien Soeharto membuka bazar sehari di Balai Sidang.

Dihadapan kaum ibu Presiden Soeharto menegaskan, peranan wanita pada jaman kapanpun tidak pernah berkurang malah harus lebih meningkat.

“Mengabaikan kaum ibu, sama halnya dengan membiarkan masyarakat dan kemanusiaan menuju kejurang kehancuran,” ujarnya.

Menurut Kepala Negara agar peran yang besar itu dapat dilaksanakan sebaik­baiknya maka perlu dilancarkan gerakan pendidikan kaum Ibu Indonesia yang lebih meningkat dan lebih sempurna dibanding sekarang.

Antara lain melalui tambahan program pendidikan yang dipadukan dengan PKK, mengusahakan agar kaum ibu mempunyai kecintaan kepada olahraga dan perlu ditingkatkan minatnya pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peningkatan pendidikan kaum ibu itu sangat penting sebab hanya di tangan ibulah, dapat diharapkan tumbuh suburnya tunas-tunas bangsa ini, sehingga dapat tercipta manusia Indonesia seutuhnya.

Di samping itu, sangat banyak masalah bangsa yang hanya mungkin ditangani dengan baik jika memperoleh sentuhan keibuan. Baik masalah kekeluargaan sehari-hari maupun masalah hidup berbangsa yang sedang dimantapkan.

Ajang Pengabdian

Dalam kaitan itu pula pembinaan hidup kekeluargaan yang sehat, sejahtera dan serasi memang seyogyanya tetap merupakan ajang pengabdian utama setiap wanita. Sebab dari hidup kekeluargaan itulah sendi utama setiap masyarakat.

Jika keluarga dapat hidup mantap maka mantap pula kehidupan masyarakat. Sebaliknya jika hidup keluarga goncang, akan goyahlah masyarakat.

Harus diakui keluarga mempakan lingkungan hidup pertama yang dimengerti saat lahir. Selanjutnya keluarga merupakan lingkungan hidup utama dan pangkalan tempat menghadapi perjuangan hidup.

Peranan ibu, kata Presiden pula, bukan saja bagi kehidupan anak-anaknya tetapi juga bagi kaum pria yang menjadi suami.

“Jangan kita lupakan, dalam lubuk hati yang terdalam setiap pria tetap merupakan putra dari seorang wanita. Dengan naluri keibuannya yang amat peka, seorang wanita sesungguhnya mempunyai wibawa yang lebih ampuh dari kekuasaan apapun juga” ujarnya.

Kepala Negara kemudian mengutip pepatah jawa untuk menunjukkan betapa ampuhnya keluhuran kaum ibu. “Siro dirojayaningrat, lebur dening pangastuti”. Artinya, betapa dahsyatnya kekuasaan itu namun ia akan dapat diluluhkan oleh kebajikan dan keluhuran budi.

Berdasarkan pepatah itu kepada seluruh gadis remaja calon ibu Indonesia penting dicanamkan kearifan itu supaya jika kelak menjadi ibu, dapat menunaikan tugas luhurnya dengan penuh kelembutan, kearifan serta martabat.

Melalui ibu pula semua berharap nilai terdasar budaya serta adat istiadat bangsa diwariskan kepada manusia muda secara sambung-menyambung. Di samping itu kepercayaan agama, semangat kebangsaan dan kemanusiaan juga perlu ditanamkan oleh kaum ibu kepada putra putrinya.

Dengan demikian mereka akan memiliki bekal rohani menghadapi pergolakan hidup yang belum tentu akan lebih ringan di masa datang.

“Karena itu pula kita dengan sadar menempatkan keluarga sebagai lingkungan pcnting dalam penghayatan dan pcngalaman Pancasila. Para ibu kita harapkan dapat mcnebarkan butir-butir nilai pandangan hidup sebagai bangsa kepada jiwa putra-putri yang diasuhnya. Tunjukkan melalui contoh teladan pribadi atau melalui petunjuk dan bimbingan,” pesan Presiden Soeharto.

Kaum ibu juga punya peranan penting dalam menapis pengaruh dari luar, terutama unsur kebudayaan lain yang makin luas masuk ke negeri ini.

Unsur-unsur yang baik dan bermanfaat seperti disiplin diri, kerja keras dan kecintaan kepada ilmu pengetahuan perlu diambil sebagai tambahan khasanah budaya yang sudah dimiliki.

Sebaliknya, unsur merusak seperti, mementingkan diri sendiri budaya kekerasan atau budaya santai harus ditolak jauh-jauh.

Diingatkan pula, maju mundurnya bangsa ini di masa mendatang akan ditentukan berhasil atau gagalnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menyinggung tentang perlunya kecintaan terhadap keindahan dan kesenian, para Ibu mempunyai andil besar supaya putra-putri Indonesia mampu menghargai alam negerinya ciptaan Tuhan dan akan melestarikannya di masa datang.

Pada diri ibu dituntut memiliki keteguhan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan sehingga dalam jiwa keturunannya akan tertanam kuat kecintaan kepada kebenaran dan keadilan.

Melalui berbagai kegiatan itu gerakan kaum ibu Indonesia akan memegang peranan yang lebih melembaga dan merasuk dalam pembangunan nasional di masa datang, sebagai pembina manusia Indonesia yang utuh.

Dirgahayu Kaum Ibu

Sebagai seorang Bapak, Presiden Soeharto dengan hati tulus mengatakan, bahwa kaum ibu adalah belahan jiwa yang besar jasanya dalam mendampingi suami, baik dalam keadaan susah maupun senang.

”Atas nama kami semua kaum Bapak dan juga seluruh anak-anak dan putra-putri Indonesia, terimalah ucapan kami semua Dirgahayu lah Kaum Ibu Indonesia” ucapnya.

Pada awal sambutannya, Kepala Negara secara panjang lebar mengungkapkan kembali kehadiran wanita dalam mengemban tugas menghantarkan lahirnya bangsa Indonesia merdeka. Dari situ nampak jelas bahwa tujuan perjuangannya bukan hanya menuntut persamaan hak, melainkan untuk tujuan lebih luhur yakni sebagai lbu Bangsa.

Namun diharapkan kaum ibu tidak hanya merenungi kegemilangan pemikiran dan kebesaran di masa lampau. Sebagai lbu Bangsa yang sedang membangun, peranannya akan menjadi semakin rumit dan berat karena di jaman modern akan mengalami perubahan yang makin cepat dan mendasar.

Bagaimanapun Ibu adalah seorang wanita yang dimuliakan. Ibu lah yang paling pertama merasakan kebahagiaan maupun penderitaan putra-putrinya.

Dengan memilih nama Hari ibu sebagai lambang agung perjuangan kaum wanita Indonesia, maka kaum lbu Indonesia telah menempatkan citranya pada tempat yang luhur.

“Sejarah perjuangan memang telah menunjukkan keluhuran itu. Sering kali, tanpa menampilkan diri ke depan, kaum wanita Indonesia telah ikut memikul tanggung jawab berat perjuangan bangsa hampir tidak ada kiprah dalam perjuangan bangsa ini yang tidak ikut ditangani wanita” demikian Presiden Soeharto. (RA)

 

 

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (24/12/1984)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 996-998.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: