MASYARAKAT PERLU TAHU KESULITAN YANG DIHADAPI DALAM PEMBANGUNAN

MASYARAKAT PERLU TAHU KESULITAN YANG DIHADAPI DALAM PEMBANGUNAN

 

 

Presiden Resmikan Pusdiklat Ahli Multi Media:

 

Presiden Soeharto menekankan perlunya masyarakat mengetahui kesulitan yang dihadapi, sebab pembangunan menggarap dan memperbaiki semua segi kehidupan bangsa menghadapi persoalan-persoalan yang tak kecil jumlahnya.

“Keberhasilan pembangunan tergantung pada keberhasilan kita dalam mengatasi persoalan-persoalan tadi,” kata Kepala Negara Rabu siang di Yogyakarta, sewaktu meresmikan berfungsinya Lembaga Pendidikan dan Latihan Ahli Multi Media, Departemen Penerangan.

Presiden menekankan perlunya terus membangun aparat penerangan. “Sebab penerangan merupakan bagian dari tugas pembangunan bangsa kita,” kata Kepala Negara.

Hal ini mengingat, tujuan penerangan untuk membantu masyarakat memahami persoalan pokok yang kita hadapi dan menjelaskan usaha yang kita laksanakan dalam menghadapi persoalan itu serta arah mana yang kita tuju.

Presiden mengingatkan, “Melalui penerangan, masyarakat harus tahu hasil-hasil apa yang akan kita peroleh dengan melaksanakan setiap tahap pembangunan. Malahan, masyarakat pun harus tahu apa yang belum mungkin kita capai pada suatu saat. Masyarakat juga harus tahu, kesulitan-kesulitan yang kita hadapi”.

Menurut Kepala Negara, agar kita berhasil mengatasi persoalan­-persoalan pembangunan, maka persoalan itu harus kita rasakan sebagai tanggung jawab bersama dan kita atasi secara bersama pula.

“Bangsa kita akan sulit menjadi bangsa yang maju dan sejahtera, jika tidak mampu memikul beban pembangunan dan tak dapat melaksanakan pembangunan bagi kemajuan dan kesejahteraan kita sendiri. Karena di samping modal, kekayaan, dan ketrampilan, maka kemauan dan usaha kita semua akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan kita itu”.

Kemauan untuk membangun akan timbul jika rakyat tahu bahwa pembangunan itu untuk kepentingan mereka, dan bahwa arah dan tujuan pembangunan sesuai dengan keinginan mereka, serta menjamin kesejahteraannya di masa datang.

Lebih Rumit

Kata Kepala Negara, “Tugas-tugas penerangan di masa depan akan lebih sulit dan rumit. Di satu pihak, masalah kemasyarakatan yang kita hadapi juga semakin rumit dan luas. Sedang di lain pihak masyarakat kita semakin cerdas, kritis dan dinamis”.

Untuk itu perlu dibangun berbagai sarana dan perlu tenaga penerangan yang punya pengetahuan dan ketrampilan. Dengan begitu, menurut Presiden, penerangan kepada masyarakat dapat diberikan secara cepat dan tepat.

Tanpa tenaga penerangan yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tinggi, peralatan modern yang kita bangun tak ada gunanya.

Pada kesempatan sama, Direktur Jenderal UNESCO Amadou Mahtar M’bow menilai, kemampuan komunikasi dan informasi sangat tak merata. Perbedaan dalam produksi dan penyebaran informasi tadi ikut menciptakan ketidakseimbangan di tiap wilayah dunia dan bahkan dalam satu negara.

Sementara itu Menteri Penerangan Harmoko menunjukkan adanya harapan khalayak di pedesaan Indonesia terhadap bobot dan mutu siaran radio dan televisi.

“Ini merupakan hasil dan dinamika pembangunan serta hal yang wajar,” kata Harmoko.

Angkatan Pertama

Dengan upacara semarak, Kepala Negara meresmikan berfungsinya Pusdiklat Ahli Multi Media Deppen di Jalan Magelang, 6 kilometer luar kota Yogyakarta. Nyonya Tien Soeharto menggunting untaian bunga melati, dan gedung beserta perlengkapannya yang telah rampung tahap pertama resmi digunakan.

Hari itu pula, 72 siswa Diklat Multi Media Radio-Televisi angkatan pertama, mulai mengikuti pendidikan delapan bulan. Kuliah pertama diberikan Dirjen UNESCO Amadou Mahtar M’bow.

Para siswa merupakan sebagian dari 240 siswa yang diharapkan bisa dididik dalam periode 1985/1986. “Mereka adalah sebagian dari prajurit­prajurit penerangan dari stasiun penyiaran dan stasiun pemancar radio dan televisi yang berlokasi di punggung bukit dan pegunungan dari Sabang sampai Merauke,” kata Menpen.

Sekitar 250 tamu menghadiri upacara peresmian pusdiklat Ahli Multi Media ini. Di antaranya Pangab Jend. L.B. Moerdani, beberapa menteri, Dubes negara sahabat, dan para ahli komunikasi massa. Karena ruang di dalam gedung sempit, sewaktu Kepala Negara dan Nyonya Tien Soeharto meninjau fasilitas pendidikan, para tamu dipersilahkan menunggu di luar.

Melalui lima pesawat televisi yang dipasang di luar gedung, undangan bisa menyaksikan acara peninjauan di dalam gedung. Tapi sedikit gangguan teknis pada pesawat televisi penerima, menjadikan mutu gambar yang ditampilkan kurang bagus.

“Namanya saja pusdiklat, maklum kalau gambarnya bergerak naik turun dan bergoyang terus” komentar seorang tamu.

Peningkatan Bobot

Menpen Harmoko mengakui perlunya meningkatkan bobot dan mutu siaran radio dan televisi. Ia menunjuk contoh para anggota kelompok pendengar radio di pedesaan terpencil di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka merasa senang karena RRI mengudara 24 jam terus­menerus. Tapi para kelompok pendengar tadi juga meminta agar RRI selalu meningkatkan bobot siaran-siarannya.

Pernyataan senada pernah dikemukakan kelompok pemirsa televisi di puncak gunung Brengos, Pakis Baru, Pacitan, Jawa Timur. Mereka bergembira sudah bisa menyaksikan acara-acara televisi yang dianggapnya tontonan sekaligus tuntunan. “Namun mereka tetap mengimbau agar TVRI dapat terus meningkatkan bobot dan mutu siarannya”.

Harmoko melukiskan, tuntutan masyarakat semacam itu tidak keliru. Peningkatan mutu di bidang apa pun harus dikembangkan termasuk mutu siaran media massa.

Dirjen UNESCO Amadou Mahtar Mbow menyampaikan penghargaan terhadap pemerintah Indonesia, karena menyediakan pusdiklat juga kepada peserta dari negara lain.

“Percayalah, UNESCO akan selalu berusaha membantunya dalam batas-batas kemampuan”.

Dubes Jepang Toshiyasi Moto yang negaranya sudah memberikan hibah 1.800 juta yen, juga menjanjikan bantuan kepada Pusdiklat Ahli Multi Media. (RA)

 

 

Yogyakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (01/04/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 342-345.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.