MASYARAKAT HARUS DIBERI.TAHU MENGENAI KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH

MASYARAKAT HARUS DIBERI TAHU MENGENAI KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto hari Sabtu di Jakarta mengemukakan, masyarakat hendaknya diberi penerangan yang jelas mengenai isi kebijaksanaan yang diambil Pemerintah, sehingga benar2 tahu akan maksud dan tujuan kebijaksanaan yang diambil pemerintah.

Kepala Negara mengemukakan hal itu kepada Menteri Keuangan Prof. Ali Wardhana, Menteri Pertambangan Prof. M. Sadli, Menteri Perhubungan Dr. Emil Salim, Menteri Negara Dr. Sumarlin dan Pangkopkamtib Jenderal TNI Sumitro yang hari itu mengadakan pembicaraan ber-sama2 di tempat kediaman Presiden.

Kepala negara selanjutnya mengharapkan agar tiap2 departemen memberikan penjelasan mengenai kebijaksanaan pemerintah dalam bidangnya masing2 kepada masyarakat, seperti yang dilakukan menteri pertambangan baru2 ini mengenai kebijaksanaan pemerintah dalam menaikan harga minyak, yaitu dengan memberikan suatu konperensi pers dll.

Menurut Menteri/Sekretaris Negara Soedharmono SH, dalam pertemuan itu telah pula dibicarakan mengenai konperensi tahun Bank Pembangunan Asia yang akan dimulai hari Senin yad. dan akan dihadiri Menkeu Ali Wardhana.

Dengan Menteri Perhubungan Emil Salim telah dibicarakan mengenai masalah transport secara umum.

Menteri/Sekretaris Negara Soedharmono mengemukakan pula bahwa kehadiran Jendral Soemitro dalam pertemuan itu, dimaksudkan agar pada setiap sidang2 Dewan Stabilisasi Ekonomi Panglima Kopkamtib hadir pula.

Pertemuan antara menteri2 Bidang Ekonomi hari Sabtu ini menurut Soedharmono, adalah untuk membicarakan kelanjutan sidang paripurna kabinet yl. yang seharusnya dibicarakan dalam sidang dewan stabilisasi ekonomi. Tetapi berhubung banyaknya hari2 libur akhir2 ini maka para menteri itu membicarakannya dalam pertemuan tsb. (DTS)

Sumber: ANTARA (22/04/1973)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 371-372.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: