Jan 122013
 
soeharto-b464

BIOGRAFI PRESIDEN SOEHARTO (1)

(Masa Kecil)1

 

Presiden Soeharto, Presiden ke-2 RI, lahir pada tanggl 8 Juni 1921, di desa Kemusuk daerah Argomulyo Godean, sebelah Barat Yogyakarta. Merupakan putra ketiga dari istri pertama (Nyonya Sukirah) dari Bapak  Kartosudiro, seorang ulu-ulu atau petugas pengatur air di desa Kemusuk. Masa kecilnya dihabiskan sebagaimana layaknya anak-anak pedesaan Jawa. Sebagai anak desa, ia tumbuh tidak dalam suasana kemegahan sebagaimana kalangan bangsawan. Pernah suatu ketika di ejek teman-temannya dengan sebutan “Den Bagus tahi mabul” (tahi kering).

Berpindah-Pindah Sekolah

Agar memperoleh sentuhan pendidikan secara lebih baik, usia 8 tahun ia dititipkan oleh ayahnya kepada adik perempuan satu-satunya yang berdomisili di Wuryantoro Wonogiri. Suatu daerah sebelah timur Yogyakarta yang secara sosio-ekonomi tidak lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi Godean. Hanya saja bibinya bersuamikan mantri tani, Bapak Prawirowihardjo dan disinilah ia memperoleh pendidikan lebih baik daripada yang diperolehnya di Kemusuk. Belum satu tahun tinggal di Wonogiri, Soeharto kecil dijemput untuk pulang ke Kemusuk karena dirindukan oleh Ibunya. Setahun kemudian ia baru dijemput keluarga Prawirowihardjo untuk menetap lagi dan melanjutkan sekolah di Wuryantoro Wonogiri.

Setelah menamatkan sekolah rendah lima tahun, ia dimasukkan sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia terpaksa pindah rumah ke Selogiri, 6 kilometer dari Wonogiri dan tinggal di rumah Citratani, kakak perempuan yang menikah dengan pegawai pertanian. Saat usia menginjak 14 tahun , ia baru di khitan (sunat), dan dirayakan dengan selamatan (tasyakuran) secara sederhana.

Kehidupan keluarga Citratani retak, sehingga ia terpaksa pindah ke Wonogiri lagi dan tinggal di keluarga Bapak Hardjowiyono, teman ayahnya, seorang pensiunan pegawai Kereta Api. Keluarga ini tidak punya anak. Di tempat ini, Soeharto kecil biasa membersihkan rumah sebelum berangkat sekolah, dan pergi ke pasar untuk belanja ataupun menjualkan hasil kerajinan tangan buatan Bu Hardjo. Melalui keluarga ini pula, Soeharto kecil bersentuhan dengan Kyai Daryatmo, sosok kyai sufistik yang tidak hanya memiliki penguasaan ilmu agama sangat luas, akan tetapi juga merupakan seorang tabib (menguasai ilmu pengobatan) dan psikolog sekaligus guru masyarakat. Kediaman Kyai Daryatmo tidak berjauhan dengan kediaman Bapak Hardjowiyono dan di langgar (mushola) Kyai inilah, Soeharto kecil belajar agama. Ia juga sering mendengarkan nasehat-nasehat Kyai Daryatmo kepada mereka yang banyak datang memerlukan, orang-orang terpelajar, pedagang, pegawai, petani sampau bakul-bakul (pedagang kecil).

Keceriaan tinggal di keluarga ini harus terputus dan Soeharto kecil harus kembali ke Kemusuk untuk melanjutkan sekolah Muhammadiyah yang dijalaninya setiap hari dengan naik sepeda dari Kemusuk ke Yogyakarta. Ia terpaksa meninggalkan keluarga Hardjowiyono dan langgar (mushola) Kyai Daryatmo karena ada peraturan sekolah yang mengharuskan murid pakai celana pendek dan bersepatu, sedang orang tuanya tidak sanggup membelikan. Walaupun di kota, di Yogya ia bisa bersekolah dengan memakai sarung atau kain. Ia tidak kikuk, karena ada murid lain yang ke sekolah dengan pakaian seperti dirinya. Pada saat di Yogya inilah ia mulai mendengar gerakan-gerakan menentang penjajahan yang digerakkan oleh tokoh-tokoh politik. Ia tetap saja fokus pada pelajaran dan pada tahun 1939 (usia 18 tahun) ia berhasil menamatkan sekolah di schakel Muhammadiyah Yogyakarta.

Mengadu Nasib

Setelah tamat ia justru dihadapkan kesulitan baru, karena ayahnya maupun anggota keluarga ayahnya yang lain tidak ada yang sanggup membiayainya melanjutkan sekolah. Ia masih ingat kata-kata ayahnya saat itu. “Nak… tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Dari sekarang kamu sebaiknya mencari pekerjaan saja. Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri”. Ia kesana kemari mencari pekerjaan. Pada waktu itu tidak gampang mendapatkannya tanpa uluran tangan orang yang berkedudukan, berpengaruh, orang kaya ataupun pengusaha besar. Setelah kesana kemari tidak berhasil, ia pergi ke Wuryantoro, karena di tempat ini banyak kenalan.

Sampai suatu ketika ia memperoleh pekerjaan sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks Bank). Ia mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda dengan mengenakan pakaian Jawa lengkap, dengan kain blankon dan baju beskap. Di kantor-kantor lurah ia membantu klerek menampung permintan para petani, pedagang kecil dan para pemilik warung yang menginginkan pinjaman. Disinilah ia belajar pembukuan dan dalam dua bulan pembukuan itu dikuasainya. Bahkan Mantri Bank Desa mengakui jika otak Soeharto kecil encer. Tapi takdir tidak selalu sejalan apa yang direncanakan oleh setiap orang, begitu pula dengan apa yang dialami Soeharto kecil. Suatu ketika, saat turun dari sepeda yang sudah reot, kain yang dipakainya tersangkut pada per sadel yang menonjol keluar dan sobeklah kain yang dipakainya. Ia dicela klerek yang didampinginya dan juga dimarahi Bibinya. Ia dibentak Bibinya dan dikatakan kalau itu satu-satunya kain yang baik dan tidak ada kain lain yang bisa diberikan kepadanya. Peristiwa itu mengantarkannya kembali menjadi pengangguran dari pekerjaan yang sudah dengan susah payah didapatkannya. Ia mencoba mengadu nasib ke Solo, tapi tidak juga mendapatkan pekerjaan. Ia kembali ke Wuryantoro Wonogiri dan hari-harinya diisi dengan kegiatan gotong royong, membangun sebuah langgar (mushola), menggali parit dan membereskan lumbung.

Masuk Pendidikan Militer

Tangga karier Soeharto remaja mulai terbuka ketika ada pengumuman dibuka pendataran masuk KNIL (Koninlijk Nederlands-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Ia diterima masuk Kortverband di Gombong. Merupakan dinas pendek yang latihannya mirip milisi, dalam waktu 3 tahun. Ia lulus terbaik dan ditugaskan praktek menjadi wakil Komandan Regu di Batalyon XIII Rampal Malang. Ia juga praktek jaga malam di pantai pertahanan di Gresik selama dua minggu, tapi malang nasibnya ia diserang Malaria. Penyakitnya itu kambuh lagi ketika di Malang dan memaksanya dirawat di rumah sakit. Setelah keluar rumah sakit ia ikut ujian masuk Sekoilah Kader di Gombong untuk mendapatkan pangkat sersan. Setelah selesai mengikuti pendidikan dan mendapatkan pangkat sersan, ia dikirm ke Bandung, dijadikan cadangan pada Markas Besar Angkatan Darat dan ditempatkan di Cisarua.

Garis takdir menentukan lain, setelah dua minggu penempatan, Balanda menyerah pada Jepang. Tepatnya pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang mulai menguasai Hindia Belanda. Dalam suasana penuh ketidakpastian atas kemungkinan penangkapan oleh Jepang, dengan berbekal uang satu gulden, ia main kartu cemeh dan kertu londo. Uangnya bertambah menjadi 50 gulden dan ia gunakan bekal pulang kampung bersama seorang temannya, Amat Sudono, naik kereta dari Cimahi menuju Yogyakarta. Dari Yogya ia kembali ke Wuryantoro dan harus berbaring selama enam bulan oleh serangan Malaria.

Sementara Jepang sudah membentuk lembaga-lembaga keamanan mulai dari Karisidenan hingga kampung-kampung, seperti Keibodan dan Seinendan. Wanita-wanita dikerahkan melalui Fujin Kei. Kenco atau Bupati dibentuk tanpa menurut kebiasaan lama yang bertumpu pada garis keturunan sebagaimana jaman Belanda. Begitu pula dengan pengangkatan pamongpraja. Romusha juga dibentuk sebagai Badan Pengerahan Pekerja Paksa. Tenaga-tenaga itu dipakai untuk membangun dobuku (dam irigasi) di pelbagai tempat di Jawa, namun juga dikirim ke Birma untuk membangun jalan sesuai kebutuhan Jepang. Pengibaran bendera Merah-Putih yang semula diijinkan segera dilarang da diganti bendera Jepang, Hinomaru. Begitu pula dengan lagu Indonesia Raya digantinya dengan Kimigayo. Setelah mulai sembuh, Soeharto muda mulai lagi mencari pekerjaan dan mengadu nasib di Yogya.

Masuk Peta

Pantang menyerah merupakan salah satu ciri kas pemuda desa yang kelak memimpin Indonesia ini. Soeharto muda ikut kursus mengetik dan juga sakitnya kambuh ketika mengadu nasib di Yogyakarta ini hingga suatu ketika ada penerimaan keanggotan Keibuho, Polisi Jepang di Indonesia. Ia diterima dan bahkan lulus latihan dengan predikat terbaik. Kepala Polisi Opsir Jepang bahkan menyuruhnya Belajar Bahasa Jepang dan menganjurkannya mendaftarkan menjadi tentara sukarela PETA (Pembela Tanah Air). Ia diterima dan dilatih sebagai Shodancho, komandan peleton. Disini ia memperoleh tempaan keras khas Jepang dengan titik berat pada penguasaan taktik kesatuan kecil, peleton atau seksi. Selesai pelatihan ia ditempatkan di Batalyon di Wates Yogyakarta, pos pertahanan di Glagah di pantai selatan Yogyakarta, Solo dan Madiun.

Nasib baik memayungi Soeharto muda ini karena segera terpilih menjadi untuk mengikuti pelatihan Chudancho (komandan kompi), untuk mempelajari taktik dan strategi perang. Selesai latihan ia di tempatkan di Seibu, markas besar Peta di Solo, di Kusumoyudan. Setelah itu ia di tugaskan Jaga Monyet (nama asrama Tentara) Jakarta, untuk melatih siswa STM menjadi tentara zeni. Kemudian dipindah lagi Markas Besar PETA yang sudah pindah ke Madiun. Ia berhasil lolos dari pembersihan akibat pemberontakan PETA di Blitar dan masih dipertahankan Jepang untuk kemudian ditempatkan di kaki Gunung Wilis di desa Brebeg selatan Madiun melatih prajurit PETA. Kini pemuda yang masa lalu sokolahnya berpindah-pindah dan kesulitan mencari pekerjaan itu telah mengenal dua tradisi kemiliteran (Belanda dan Jepang) yang sangat berpengaruh dalam menopang karirnya kelak dikemudian hari.

***

 Leave a Reply

(required)

(required)

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>