Agu 162018
 

MAKNA HAKIKI PERINGATAN PRESIDEN[1]

 

Jakarta, Merdeka

Pernyataan Presiden Soeharto di pesawat DC-lO Garuda Indonesia dalam perjalanan dari New Delhi, India ke Jakarta, Jumat (17/12) lalu, mengisyaratkan kepada kita bahwa nampaknya ada suatu masalah serius sehubungan dengan kondisi politik yang berkembang sekarang ini.

Dalam pernyataannya, antara lain Presiden Soeharto mengatakan, “jika ada yang meninggalkan kepentingan yang lebih besar hanya untuk kepentingan individunya saja, ini sudah bertentangan dengan Pancasila. Mau tidak mau ini sudah merupakan warning atau peringatan kepada kita akan sama halnya dengan PKI, hanya namanya saja lain, tapi gerakannya sama, langkah-langkahnya sama. Karena itu kita harus waspada.”

Pernyataan Presiden Soeharto yang agak “mengejutkan” itu, dapat kita sebut merupakan respon dari timbulnya gejala memanasnya suhu politik seirama dengan meningkatnya tuntutan sebagian masyarakat terhadap demokrasi, keterbukaan, hak asasi menusia dan kebebasan.

Gejala memanasnya suhu politik tersebut, ditandai dengan meningkatnya aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa serta kelompok cendekiawan lainnya belakangan ini. Sehabis aksi unjuk rasa soal Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) yang membuahkan hasil dengan dihentikannya ijin SDSB, secara sporadis aksi unjuk rasa berlanjut dengan membawa isu hak asasi manusia di halaman kantor Sekretariat Negara, Jumat (10/12).

Dalam aksi unjuk rasa di Sekretariat Negara itu, puluhan mahasiswa yang menamakan dirinya Forum Dinamika Mahasiswa dan Pemuda Merdeka tersebut, antara lain menyebutkan bahwa Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang dibentuk pemerintah suiit untuk bisa independen, dan mereka juga mengkhawatirkan komite nasional HAM ini akan menjadi alat legitimasi baru para penindas hak asasi.

Unjuk rasa yang terakhir, berlangsung di kantor Dewan Perwakilan Rakyat, Jumat (17/12). Para pengunjuk rasa itu selain berharap bertemu Ketua DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasinya, juga menggelar poster yang dinilai oleh aparat keamanan, telah menghina Kepala Negara. Aksi unjuk rasa itu berakhir setelah aparat Mantan Sekjen OPEC itu mengatakan pasar minyak dunia tidak akan terpengaruh secara negatif dengan masuknya kembali Irak ke pasaran asal seluruh negara OPEC mau mematuhi kuota produksi mereka masing-masing.

Selain itu, kata Subroto, yang sebelumnya juga pemah menjadi Menteri Pertarnbangan dan Energi, pasokan Irak tak akan memerosotkan harga asal produsen minyak bukan anggota OPECjuga mampu mengendalikan produksi mereka.

“Kalau produksi OPEC selama triwulan ketiga dan keempat tahun ini sesuai dengan pagu produksinya, maka masuknya Irak tidak akan memberi dampak yang terlalu berarti,” kata Subroto.

Dalam sidangnya di Wina beberapa bulan lalu, OPEC menetapkan pagu produksi 25,033 juta barel/hari atau meningkat dibandingkan pagu sebelumnya sebesar 24,52 juta barel/hari. Subroto merasa optimis harga minyak akan tetap baik karena ia mengetahui bahwa beberapa negara di Teluk seperti Arab Saudi, UAE, Kuwait, Qatar dan Iran berusaha secara maksimal memenuhi kuota mereka.

Menurut Subroto, kestabilan harga minyak juga agak “ditunjang” oleh perbaikan fasilitas perminyakan milik Norwegia. “Perbaikan fasilitas perminyakan Norwegia ini mengakibatkan produksi mereka menurun sehingga ini ikut membantu jika Irak mulai masuk ke pasar,” katanya. Produksi non-OPEC adalah sekitar 43 juta barel/hari.

Sekalipun negara-negara di Teluk dan negara produsen non-OPEC berusaha mengendalikan produksi mereka, yang perlu diperhatikan adalah produksi sejumlah anggota OPEC di Afrika dan Amerika Latin yang cenderung di atas kuota. Konsumsi dunia adalah 69 juta barel/hari.

Harga minyak Brent sekarang ini sekitar 19,50 dolar/barel dan harga basket OPEC adalah 19 dolar/barel. Menurut Subroto, harga ideal itu berkisar antara 7-21 dolar/barel. (T.Eu02/EU05/ 9/08/96 14:02/RE3).

Sumber: ANTARA (09/08/1996)

____________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 379-380.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: