Okt 062013
 

Maka Meletuslah Pemberontakan PKI Madiun[1]

Sekali waktu saya pergi ke Jawa Timur dan bertemu di sana antara lain dengan Pak Sungkono dan Kretarto. Ketika itu suasana di Solo sedang panas. Saya ingat, waktu itu disana ada Letkol. Suadi sebagai komandan Resimen di Solo dengan komandan batalyonnya Mayor Suharto, ada Mayor Slamet Rijadi, Mayor Sunitioso dan Mayor Sudigdo. Tetapi sebagian dari satuan Panembahan Senopati sudah dipengaruhi PKI. ltulah yang menyebabkan terjadinya insiden, bentrokan dengan Siliwangi yang sedang hijrah.

Sewaktu saya kembali dari Jawa Timur, persis di jembatan Jurug Solo, saya ditahan, lalu dibawa ke pos Siliwangi. Saya dilucuti, senjata saya diambil. Ternyata, karena nama saya Soeharto, saya dikira Mayor Suharto dari batalyon di Solo. Lalu saya dibawa ke markas kesatuan Siliwangi yang berada di gedung Walikota Solo sekarang. Saya diinterogasi di sana. Tetapi kebetulan muncul seseorang yang mengenal saya dan dia itu adalah panglimanya sendiri, Kolonel Sadikin.

”Lho, mengapa kamu di sini ?” katanya. “Saya sendiri tidak tahu, mengapa saya ditahan di sini,” kata saya. Lalu saya terangkan dari mana dan akan ke mana saya waktu itu. Pak Sadikin sendiri yang menegaskan bahwa saya adalah temannya. “Dia teman kita,” katanya. “Letnan Kolonel Soeharto, dari Yogya.” Maka kemudian saya dilepaskan. Senjata dikembalikan dan saya terus pergi ke Yogya. Kejadian inilah yang ditulis orang sekian tahun kemudian. Tetapi peristiwa itu terjadi sebelum meletusnya Madiun Affair.

Di minggu kedua bulan Agustus 1948, Muso, yang sejak tahun 1926 sudah meninggalkan Indonesia, datang dari Rusia di Yogya bersama Suripno yang disebut-sebut telah mengadakan hubungan diplomatik atas nama pemerintah Indonesia dengan beberapa negara blok Timur. Muso diterima oleh Presiden Soekarno dan mengadakan pembicaraan. Tetapi nyatanya pertemuan mereka itu tidak menghasilkan buah yang baik. Malahan sebaliknya.

Amir Sjarifuddin sudah membuka topengnya dan sangat menentang pemerintahan Hatta yang  teguh melaksanakan rasionalisasi atas Angkatan Perang kita. Sementara itu rundingan diplomasi berjalan terus dengan berpindah-pindah tempat. Cochran bicara dengan Pak Hatta, tetapi hasilnya tidak memuaskan, malahan terasa tak berujung. Dalam pada itu, Muso bersama Sjarifuddin yang telah berfusi dengan PKI, Setiadjit, dan kawan-kawannya meningkatkan kampanye politiknya dengan mengadakan rapat-rapat besar di tempat-tempat terbuka. Yang jadi sasarannya adalah kebijaksanaan pemerintahan Hatta.

Sementara itu, tokoh-tokoh militer kita berkumpul di Jalan Code 4 di Yogya, membicarakan keadaan yang terasa sekali menekan dan mencekam. Gerak-gerik Muso dan kawan-kawannya menjadi persoalan berat yang dirundingkan. Lebih-lebih lagi karena Muso berusaha merangkul pihak-pihak yang bersenjata.

Di tengah suasana ini saya mendapat tugas dari Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk meyakinkan Letkol. Suadi, komandan pasukan “Panembahan Senopati” dari Solo, supaya jangan sampai ia masuk perangkap Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang melawan pemerintah kita itu. Memang FDR waktu itu berusaha merangkul satuan-satuan kita, antara lain satuan “Panembahan Senopati”. Maka saya pergi ke Solo. Tapi saya tidak bisa menemukan Suadi di sana.

Dengan adanya tugas dari Jenderal Soedirman itu kepada saya, saya sudah mengetahui bahwa Pak Dirman tidak mendukung gerakan FDR. Apa lagi terlibat, jelas tidak. Dari Solo saya pergi ke Wonogiri, lewat Sukoharjo. Di Wonogiri saya bertemu dengan Suadi . Saya dan Suadi ternan baik. Maka saya sampaikan dan saya jelaskan pendapat pihak kita, supaya ia tidak sampai masuk perangkap dan terjerumus.

Kemudian saya diajak oleh Suadi untuk pergi ke Madiun. Suadi ingin menunjukkan kepada saya, bagaimana mereka yang di Madiun bersikap terhadap saya. Ia tidak mengatakan, bahwa ia terlibat. Tetapi ia mengemukakan untuk mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya mereka yang di Madiun itu, maka baik pergi ke sana.

Saya mengikuti permintaan Suadi. Gerombolan Muso, Sjarifuddin, Supeno, dan lain-lainnya itu sudah ada di Madiun. Saya pikir, kita harus mencegah jangan sampai terjadi pertempuran. jangan sampai terjadi perang saudara di antara FDR dengan TNI. Suadi bersama saya di dalam mobil saya.

Di tengah jalan, waktu dari Wonogiri ke Madiun, melewati Jatisrono dan Ponorogo, kami berpapasan dengan sebuah konvoi yang dikepalai oleh sebuah sedan. Saya bertanya kepada Suadi, siapa yang ada di dalam sedan itu. Maka Suadi menjawab, “Pak Alimin”. Terus saya bertanya lagi, “Mau ke mana mereka  ?” “Tidak tahu”, jawab Suadi. Sesampai di Madiun, kami terus ke Karesidenan. Tadinya saya akan dipertemukan dengan Amir Sjarifuddin yang sudah saya kenal. Tetapi Sjarifuddin masih tidur waktu itu. Jadi, saya tidak bisa bertemu dengan dia.

Kemudian seseorang keluar. Baru waktu itu saya tahu, bahwa dia itulah Muso. Saya belum pernah bertemu dengan dia sebelum ini, baru pertama kali itu saya melihatnya. Ia mengenakan kemeja putih, celana, dan memakai kopiah. Maka kemudian kami bicara-bicara, mengobrol. Saya tidak mengatakan bahwa saya disuruh oleh Pak Dirman. Tetapi entah apa yang dikatakan oleh Suadi kepadanya. Lalu saya kemukakan kepada Muso, bahwa “janggal, waktu kita sekarang menghadapi  Belanda, kok kita saling bermusuhan”. “Apakah tidak baik kalau kita tinggalkan permusuhan di antara kita ini dan bersatu menghadapi Belanda?” kata saya.

Dia menjawab, “Bagi saya pun demikian, Bung Harto. Saya juga datang, kembali ke Indonesia, untuk mempertahankan  kemerdekaan yang sudah kita capai. Tetapi masalahnya, saya tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Saya tidak percaya lagi kepada Belanda. Belanda itu harus kita hadapi. Sementara kita menghadapinya, rupa-rupanya Soekarno dan Hatta tidak senang kepada saya, mencurigai saya. Bahkan saya akan dihancurkannya. Padahal saya memberikan saran.”

“Ya, pokoknya ada perbedaan cara dalam perjuangan”, tambabnya dengan menegaskan lagi, babwa ia tidak percaya kepada Belanda dan akan terus melawan Belanda. “Tetapi Soekarno dan Hatta mau berunding dengan Belanda”, kata Muso. “Justru saya yang menghadapi Belanda, malahan akan dihancurkan. Dan saya, kalau akan dihancurkan, tidak akan menyeran begitu saja, saya akan melawan”, katanya lagi.

“Kenapa tidak diadakan pembicaraan saja ? Apakab tidak perlu diadakan pertemuan lagi  ?” tanya saya. “Malahan baru saja ada pertemuan,” katanya, “tapi toh tidak bisa sepakat.” Lalu saya bertanya lagi, “Apakah boleh saya sampaikan ini, Pak Muso, kepada Bung Hatta dan Bung Karno, bahwa sebenarnya Pak Muso memang masih menginginkan persatuan di antara kita untuk mengbadapi Belanda ?” “Ya, sampaikan,” katanya. “Tapi terus terang saja, Bung Harto, kalau saya akan dibancurkan, saya akan melawan.” “Susah ini,” pikir saya.

Setelah itu, saya kembali dengan Suadi ke Wonogiri. Sampai di Wonogiri Suadi turun dan kami berpisah. Saya terus menuju ke Solo, melewati Sukoharjo. Tetapi waktu itu Siliwangi sudah kelibatan bergerak.

Kalau saya terus ke Solo dari Wonogiri, maka kemungkinan besar saya akan ditangkap oleb Siliwangi, sekalipun kesatuan dari Wonogiri yang dicarinya. Begitu pikir saya. Di balik itu, si Digdo, komandan Batalyon Kleco (yang kelak jadi Batalyon 444) dengan komunisnya sudah curiga terbadap saya, karena dia tahu bahwa saya menyampaikan pesan kepada Suadi. Maka kalau saya pergi ke Solo, ada kemungkinan ditangkap oleh Siliwangi, sedang kalau tinggal di Wonogiri bisa diculik oleh Digdo.

Karena saya sudab tabu daerah Wonogiri, dan tahu pula jalan dari Wonogiri ke Manyaran, terus ke Wonosari dan terus ke Yogya, maka saya tempuh jalan yang saya kenal itu. Dalam perjalanan ini saya singgah di Wuryantoro, tempat di mana saya dibesarkan dan tiba di Yogya pagi bari.

Maka kemudian saya lapor kepada Panglima Besar Soedirman, babwa saya bertemu dengan Muso, dan saya ceritakan segala seperti adanya. Pak Dirman yang menyampaikan  kejadian  dan  basil pertemuan  saya dengan Muso  kepada Bung Karno dan Bung Hatta. Lalu saya yang bertanggungjawab atas keamanan dan ketertiban Ibukota RI (red=Yogya) dengan cepat mengambil tindakan-tindakan yang perlu untuk mengamankan segalanya dari ancaman kekacauan, dari ancaman PKI.

Perkembangan terasa amat cepat. Serbu-menyerbu antar-pasukan tak terelakkan. Kaum pemberontak mengangkat  Kolonel Djokosujono menjadi “Gubernur Militer” Madiun dan Letnan Kolonel Dahlan, Komandan Brigade 29 menjadi “Komandan Komando Pertempuran” Madiun. Pihak pemberontak menguasai kota Madiun dan radio Gelora Pemuda. Sementara itu pihak kita mengangkat Kolonel Gatot Soebroto menjadi Gubernur Militer.

Tanggal 18 September 1948 pemberontakan PKI di Madiun terjadi, mengambil alih kekuasaan yang sah di sana. Presiden Soekarno dengan tegas menjawab perebutan kekuasaan itu dengan mengatakan “Pilih Muso dengan PKI-nya atau pilih Soekarno-Hatta”. Gerakan Operasi Militer I yang dilancarkan oleh Angkatan Perang kita dalam menggulung pemberontakan itu dengan cepat menguasai kembali Madiun pada tanggal 30 September. Dua bulan kemudian operasi-operasi penumpasan terhadap PKI dinyatakan selesai. Kegiatan partai politik, setelah pemberontakan itu, menurun dan untuk sementara, oposisi terhadap Kabinet Hatta mereda.

***


[1]     Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, hal 51-55.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: