Sep 022017
 

LEE SOEHARTO BICARAKAN ASEAN TAKESHITA BATAM

 

 

Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew meminta Presiden Soeharto memanfaatkan pertemuannya dengan PM Jepang Noburo Takeshita setelah KTT ASEAN di Manila Desember nanti untuk membicarakan langsung kepentingan­kepentingan negara-negara ASEAN dalam kerjasama dengan Jepang.

Presiden Soeharto menjelaskan kepada para wartawan di Batam Minggu sore setelah melakukan pembicaraan empat mata dengan PM Lee, bahwa pertemuan dengan PM Jepang itu juga akan dimanfaatkan menanggapi kesediaan Jepang untuk memberikan kelebihan dana akibat surplus neraca perdagangannya bagi pembangunan negara-negara di Asia Tenggara.

“Bukan sebagai juru bicara ASEAN, tapi beliau (maksudnya PM Lee, Red) meminta saya untuk mempergunakan kesempatan yang singkat itu untuk lebih menekankan lagi masalah penempatan tawaran Jepang itu bagi kepentingan bersama ASEAN,” kata Presiden pada wartawan.

PM Lee sebelumnya telah berjumpa dengan Takeshita di Jepang untuk membicarakan masalah yang sama.

Dalam pertemuan dgn PM Jepang nanti Presiden Soeharto juga akan membicarakan langkah-langkah kerjasama untuk mengatasi keadaan ekonomi sekarang, di mana swasta diberi peranan lebih besar dalam pembangunan ekonomi dengan menggunakan dana dari Jepang.

Tunjukkan Kesetiakawanan

Dalam pembicaraan satu jam di Wisma Batam, Soeharto dan Lee membicarakan masalah bilateral, kerjasama yang saling mengisi dalam pembangunan Batam serta persiapan KTT ASEAN.

Soeharto menegaskan, semua negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Pilipina, Thailand, Singapura dan Brunei Darussalam) merasa bertanggung-jawab akan kelancaran KTT di Manila, meskipun di sana-sini memang diperkirakan ada resiko.

Namun resiko itu, menurut Presiden, harus diatasi untuk menunjukkan bahwa bangsa-bangsa Asia Tenggara benar-benar berusaha mewujudkan kesetiakawanan ke luar dan ke dalam, masa sekarang maupun masa mendatang.

Untuk itu Presiden dan PM Lee berpendapat agar hal-hal yang tidak penting misalnya menyangkut keprotokolan, tidak perlu dilaksanakan dalam KTT Manila. Yang penting, adalah bahwa para Kepala Pemerintahan ASEAN bisa bertemu di sana, Ujarnya.

Tidak ada Perbedaan

Atas pertanyaan wartawan, Presiden Soeharto menegaskan bahwa antara Indonesia dengan Singapura tidak ada perbedaan sikap dan pandangan dalam masalah ASEAN

Pernyataan serupa juga disampaikan PM Lee kepada wartawan, seusai pertemuannya dengan Presiden dalam lawatan sehari di Batam Menyangkut pembangunan Batam, PM Lee mengharapkan agar pulau itu dikembangkan untuk saling mengisi dengan Singapura.

Atas pertanyaan wartawan, Presiden mengatakan masalah Kamboja tidak dibicarakan dengan PM Lee, karena dalam soal itu ASEAN sudah memiliki saling pengertian.

Perbedaan apa yang akan terjadi di antara Kepala-kepala Negara ASEAN di Manila nanti, tanya pers. “Mudah-mudahan tidak ada,” jawab Presiden dengan tersenyum sesaat sebelum ia menaiki pesawat terbang kembali ke Jakarta. (RA)

 

 

Pulau Batam, Antara

Sumber : ANTARA (29/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 380-381.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: