Sep 042017
 

LAPORAN PT. TAMBANG TIMAH 1986 PD PRESIDEN RI

 

 

PT. Tambang Timah berhasil menurunkan ongkos produksi logam timah rata-rata menjadi 6.100 dolar AS perton dalam tahun 1986, dibanding ongkos produksi tahun sebelumnya yang tercatat 9.700 dolar dan tahun 1984 yang mencapai 10.500 dollar/ton.

Dalam laporannya kepada Presiden Soeharto di Jakarta Kamis malam, Direktur Utama PT. Tambang Timah, Sujatmiko mengatakan, prestasi dalam menurunkan ongkos produksi itu dicapai berkat usaha gigih para karyawan melakukan penghematan dan efisiensi.

Penurunan ongkos produksi itu mutlak diperlukan untuk mengimbangi merosotnya harga logam timah di pasaran dunia dalam tahun itu menjadi hanya rata-rata 6.300 dolar AS per-ton dibanding harga tahun 1984 yang tercatat 12.300 dollar. Dalam tahun 1985 harga timah rata-rata 11.600 dolar AS per-ton.

Begitu rendahnya harga timah dunia, sehingga banyak tambang timah di berbagai negara produsen terpaksa ditutup atau mengurangi karyawan secara besar-besaran.

“Tahun 1986 merupakan “survival year”, hanya yang kuatlah yang dapat bertahan hidup,” demikian siaran pers PT. Timah hari Jum’at.

Sujatmiko melaporkan kepada Kepala Negara, bahwa PT. Timah dapat melalui tahun 1986 dengan selamat. Tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK), tidak minta modal tambahan dari pemerintah, bahkan dapat membayar pajak Rp 12 miliar dan memperoleh keuntungan bersih Rp 34 miliar lebih.

Selain itu badan usaha milik negara (BUMN) ini masih mampu meningkatkan produksi sehingga dalam tahun 1986 PT. Timah menjadi “produsen timah terbesar di dunia”, mengungguli perusahaan “Parapanema” dari Brazil dan “Malaysian Mining Corporation” dari Malaysia.

Dalam tahun ini PT. Timah melakukan konsolidasi menghadapi masa yang sedikit lebih baik. Namun, kata Sujatmiko, keadaan pasar timah diperkirakan masih belum menentu selama dua tahun mendatang.

Menurut perhitungan, permintaan timah dunia dalam tahun ini sekitar 172.000 ton, sedang suplai 145.000 ton dan simpanan (stock) sekitar 55.000 ton.

Tahun 1988 permintaan diperkirakan tetap 172.000 ton, suplai naik menjadi 148.000 ton dan stock berkurang menjadi 32.000 ton. Permintaan diperkirakan seimbang dengan suplai dalam tahun 1989 sehingga diharapkan harga lebih membaik.

Menurut Sujatmiko, ongkos produksi PT. Timah dalam tahun 1987 diharapkan dapat lebih rendah lagi dibanding tahun 1986.

Dengan demikian penghasilan BUMN tersebut dapat diharapkan lebih tinggi dalam tahun-tahun mendatang.

PT. Timah pernah memperoleh tingkat produksi tertinggi tahun 1981, di mana 30.000 karyawannya mampu memproduksi 30.000 ton timah setahun dengan ongkos produksi rata-rata 11.000 dolar AS per-ton. Sedang harga jual ketika itu pernah mencapai 16.500 dolar AS per-ton.

Sejak 1982 sampai 1986 produksi timah Indonesia rata-rata 22.000 ton per­tahun dan kini jumlah karyawan PT. Timah tercatat sekitar 27.000 orang.

Presiden memberi petunjuk mengenai pembinaan karyawan, pengelolaan perusahaan, pemeliharaan peralatan dan kegiatan di daerah-daerah penambangan. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (06/03/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 399-400.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: