KUNJUNGAN PRESIDEN SOEHARTO KE SARAJEVO

KUNJUNGAN PRESIDEN SOEHARTO KE SARAJEVO[1]

Jakarta, Media Indonesia

SEJAK tanggal 13 Maret Presiden Soeharto berkunjung ke Sarajevo, sebuah kota yang sejak 3 tahun yang lampau menjadi ajang peperangan sengit antara pasukan pemerintah dan milisi Serbia. Kunjungan Kepala Negara singkat saja cuma 6 jam. Ia datang dari Zagreb. Ibukota Republik Kroasia, yang dulu bersama Bosnia­ Herzegovina dan 4 republik lainnya menjadi bagian dari negara Yugoslavia. Dari kota tersebut, Kepala Negara akan kembali ke Zagreb, melanjutkan kunjungan kenegaraannya di sana selama 3 hari. Bagaimana Kepala Negara datang ke Sarajevo dan kembali ke Zagreb, pers belum melaporkannya. Bisa lewat udara. bisa juga darat. Agenda pokok kunjungan Pak Barto di Sarajevo cuma satu, yakni mengadakan pembicaraan khusus dengan Presiden Bosnia, Allja Izetbegovic, yang pernah datang ke Jakarta pada awal tahun 1994.

Ketika itu, Presiden Izetbegovic meminta Presiden Soeharto selaku Ketua Gerakan Non Blok untuk mengupayakan perdamaian di negerinya, seraya mengundangnya untuk berkunjung ke Sarajevo. Setahun kemudian, Pak Harto merealisir janjinya untuk datang ke Bosnia. Kenapa kunjungan hanya berlangsung 6 jam ? Menurut hemat kita, hal itu berkaitan dengan aspek keamanan Bosnia sudah 3 tahun lebih dilanda perang saudara. Entah sudah berapa banyak upaya perdamaian dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk PBB. Namun semua upaya itu gagal. Setidak-tidaknya, tidak mampu menghentikan peperangan secara total. Sarajevo sendiri, hanya sebagian kecil yang masih dikuasai oleh Pemerintah Pimpinan Sarajevo Izetbegovic. Selebihnya sudah diduduki oleh milisi Serbia dengan segala perlengkapan berat mereka. Upaya pasukan pemerintah untuk mengusir milisi Serbia tidak pernah berhasil. Sebaliknya, jika pasukan Serbia mau, mereka dengan mudah sesungguhnya dapat menghancurkan seluruh pertahanan Bosnia di kota tsb. Serbia tidak pernah melakukannya, karena menyadari kehadiran pasukan PBB yang bermarkas besar di Sarajevo. Menghancurkan dan menduduki Sarajevo sama juga mempennalukan PBB secara total, sekaligus akan memancing reaksi masyarakat Internasional.

Lapangan terbang Sarajevo sendiri sering menjadi sasaran empuk serangan roket pasukan Serbia. Bandar udara ini secara formal, dikuasai oleh pasukan perdamaian PBB. Namun mereka tampaknya tidak infull command. Paus Johannes beberapa waktu yang lampau gagal berkunjung ke Sarajevo, karena ada ancaman maut dari pihak Serbia. Ia terpaksa membatalkan rencana kunjungan. kendati semula ia nekad pergi.

Kita tidak mengerti kenapa pasukan perdamaian PBB tidak sanggup memberikan jaminan kepada Paus. sehingga kunjungan yang memiliki arti simbolis (bagi perdamaian) itu bisa terwujud. Namun, kali ini pasukan perdarnaian PBB berani memberikan full guarantee terhadap keamanan Presiden Soeharto. Atas dasar jarninan kearnanan itu pula. Pak Harto berani datang ke Sarajevo. Beberapa faktor mungkin bisa menjadi penyebabnya. Pertama, kunjungan Pak Harto selaku Ketua Gerakan Nonbolok bisa saja dipandang lebih penting daripada kunjungan Paus.

Setelah PBB dan pihak Barat termasuk mantan Presiden Amerika Jimmy Carter gagal mengupayakan perdamaian di Bosnia, harapan baru kini mungkin ditujukan kepada Gerakan Non Blok. Setiap upaya perdamaian memang pantas diberikan peluang, darimanapun datangnya upaya Ketika Jimmy Carter datang ke Sarajevo, pihak pemerintah Bosnia agak skeptis, mengingat inisiatif misi Carter datang dari Serbia. Sesungguhnya. Serbialah yang meminta Carter datang mengupayakan perdamaian, karena mereka melihat keberhasilan misi perdamaian Carter di Korea Utara. Carter berhasil mengupayakan gencatan senjata 4 bulan antara pihak-pihak yang kemudian dilanjutkan dengan perundingan. Ternyata, sasaran tersebut kurang berhasil. Perang sporadik disana-sini masih terjadi. Maka pertanyaan kita adalah bagaimana tanggapan pihak Serbia atas kunjungan Presiden  Soeharto ? Dari laporan pers,kita tidak pernah mendengar tanggapan tersebut, baik yang bersifat pro maupun kontra. Apakah Serbia secara rahasia juga memberikan j aminan keamanan atas kunjungan Pak Harto yang berarti memberikan kesempatan kepada Gerakan Non Blok untuk berperan, kita tidak tahu. Jaminan semacam itu bukan sesuatu yang mustahil. Tanpa lampu hijau dari Serbia, kunjungan Pak Harto niscaya terlampau riskan. Pada akhir Februari yl. Presiden Turki, Suleyman Demirel, tidak berhasil berkunjung ke Sarajevo, karena mendapat ancaman dari Serbia. Para petinggi Serbia di Bosnia terang-terangan meminta Presiden Demirel untuk tidak menginjakkan kakinya di Sarajevo, kecuali jika sang Presiden siap menghadapi kemungkinan paling buruk atas dirinya.

Non Blok

Yugoslavia, dulu, juga tennasuk negara pencetus lahimya Gerakan Non Blok. Yugoslavia dibawah kepemimpinan Tito aktif sekali berperan dalam Gerakan Non Blok. Selama sekian puluh tahun negara ini betul-betul berhasil memainkan peran netralnya untuk perdamian global. Ia tidak benci pada blok Barat,sekaligus memiliki hubungan yang baik dengan blokkomunis. Kendati hubungan Tito dengan Moskow hingga saat-saat terakhir hayatnya tetap diliputi suasana dingin. Uni Soviet (ketika itu), mungkin tidak pernah melupakan dan tidak pernah memanfaatkan tindakan berkhianat Yugoslavia ketika negara ini menolak mengikuti jalan Moskow dalam pembangunan komunismenya.

Baru setelah negara ini dilanda perang saudara yang dahsyat selepas Juni 1991 dan masyarakat dunia memprotes tetangganya. Yugoslavia- yang kinihanya terdiri atas Serbia dan Montenegro -dikeluarkan dari Gerakan Non Blok.

Adanya historis semacam itu, rupanya, mendorong Serbia menghormati kedudukan Indonesia sebagai Ketua Gerakan Non-blok. Kecua1i itu, Serbia niscaya tidak pernah lupa akan sikap Indonesia ketika Kroasia, Slovenia dan Bosnia memproklamirkan kemerdekaan mereka dari Yugoslavia. Berbeda dengan sikap sementara negara, khususnya blok Barat, kita dengan hati-hati sekali mengikuti perkembangan di sana, tidak begitu saja mengekor Barat untuk mengakui kedaulatan negara-negara baru itu. Pada akhirnya, memang mengakui dan menjalin hubungan diplomatik dengan Kroasia, Slovenia dan Bosnia. Ada faktor ketiga, yakni perbedaan situasi politik dan medan laga. Tatakala Paus mau datang ke Sarajevo tahun lalu, peperangan di Bosnia tengah berkecarnuk ganas sekali. Kini, pasukan pemerintah Bosnia dan milisi Serbia masih dalam keadaan gencatan senjata (hingga 30 April). Dalam situasi semacam itu, keamanan kunjungan Presiden Soeharto bisa lebih terjamin.

Meskipun, demikian, situasi di medan laga Bosnia saat ini, sebetulnya, mencekam juga. Ada 2 faktor penyebabnya. Pertama, tekad Presiden Kroasia Franjo Tudjman, untuk mengakhiri kehadiran paukan perdamaian PBB di negerinya pada akhir bulan ini. Mundurnya pasukan perdamaian PBB dipastikan akan menyulut perang baru antara Kroasia dan Serbia. Kedua, aliansi militer antara Republik Kroasia dan Pemerintah Bosnia yang diumumkan di Zagreb tanggal 2 Maret ybl. Aliansi inipun hampir dipastikan akan meningkatkan skala peperangan antara milisi Serbia dan pemerintah Bosnia.

Kita belum tahu apa konsep perdamaian yang ditawarkan oleh Presiden Soeharto selama kunjungannya di Zagreb dan Sarajevo. Apakah Pak Harto juga akan membujuk Presiden Tudjam untuk membatalkan niat pemerintahnya mengusir pasukan perdamaian PBB dari Kroasia? Atau mengusulkan perpanjangan gencatan senjata yang berlaku sekarang antara Bosnia dan Serbia ? Mengusulkan konperensi Internasional mengenai Bosnia yang diselenggarakan oleh Gerakan Non Blok?

Satu hal kiranya sudah pasti: Presiden Soeharto mustahil datang ke Sarajevo dengan tangan kosong. Atas nama Gerakan Non Blok. Pak Harto tentu akan menawarkan sesuatu upaya perdamaian baru untuk mengupayakan pengakhiran peperangan di Bosnia yang telah menelan korban sekian ratus ribu jiwa. ***

Sumber: MEDIA INDONESIA (15/03/ 1995)

_________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 143-146

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.