Mei 162017
 

KITA HARUS MEMBUAT MASJID SEBAGAI TEMPAT YANG MEMBERIKAN RASA DAMAI

Pers Telah Menjadikan Dirinya Sebagai Kebutuhan Hidup

Masyarakat Modern

Penggunaan masjid sebagai ajang pertikaian pendapat dan sikap, baik yang menyangkut masalah-masalah keagamaan maupun yang berkaitan dengan masalah­masalah kemasyarakatan, harus dicegah. Demikian ditegaskan oleh Presiden Soeharto Senin kemarin, ketika meresmikan masjid "Sabilal Muhtadin" dan pembukaan Konkemas (Konferensi Kerja Nasional) PWI (Persatuan Wartawan Indonesia).

"Kita harus membuat masjid sebagai tempat yang memberikan rasa kedamaian, rasa sejuk kepada setiap umat Islam apapun paham keagamaannya dan apapun golongan politiknya. Setiap kaum muslimin mestilah memelihara kehormatan masjid sebagai ”rumah Allah” yang terbuka bagi seluruh umat Islam tanpa pandang bulu.”

Menurut Kepala Negara, dengan terpeliharanya ukhuwah Islamiyah, bangsa Indonesia mempunyai modal yang besar untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat persatuan kesatuan, semangat pembangunan menuju kemajuan dan keadilan, harus terus dikobarkan di mana-mana, ujar Kepala Negara.

Ia sebelumnya menilai peresmian masjid "Sabilal Muhtadin" dan pembukaan Konkemas PWI ini mempunyai arti penting.

"Karena masjid dan pers merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang kedua-duanya menjadi kekuatan penggerak pembangunan," ujar Presiden.

Gembira dan Bangga

Menyaksikan masjid ini, kata Kepala Negara, benar-benar membuat hati gembira dan bangga. Karena merupakan salah satu bukti nyata, betapa bangsa Indonesia dengan sungguh-sungguh berusaha membangun kehidupan agama sebagai usaha pembangunan bangsa secara keseluruhan.

"Bangsa kita adalah bangsa yang sangat dalam rasa keagamaannya, dan ini merupakan modal rohani yang penting dalam kehidupan bangsa," kata Presiden Soeharto.

"Masjid adalah sarana penting bagi kehidupan beragama kaum muslimin. Ini berarti wujud kegiatan umat Islam yang diselenggarakan dalam dan dari masjid justru jauh lebih penting dah wujud bangunan masjid itu sendiri. Untuk itu diperlukan kesungguhan dalam mengelola masjid bukan hanya dalam kegiatan ibadah dalam kegiatan pembinaan jemaah."

Presiden Soeharto menganggap masalah pembinaan jamaah ini sangat penting sesuai dengan tujuan utama agama bangsa Indonesia, yakni membangun manusia yang berakhlak mulia.

"Ia meliputi akhlak terhadap Tuhan, akhlak terhadap sesama manusia, dan akhlak terhadap alam sekitar kita," tambah Kepala Negara.

"Karena itu, seorang muslim bukan hanya seorang yang teguh akidahnya dan tekun ibadahnya, melainkan juga seorang yang tinggi kesadaran sosial dan lingkungannya. Kesadaran sosial dan kesadaran lingkungan inilah yang perlu mendapat perhatian kita semua, agar pembangunan masyarakat terus bertambah bergelora."

Ia berpendapat, Islam bukan sekedar agama ibadah, tetapi juga merupakan agama muamalah dan untuk mengembangkan segi-segi agama ini, kita harus meningkatkan kesadaran sosial.

Dalam semangat bangsa yang sedang bekerja keras untuk mencapai kemakmuran dan kemajuan, maka nilai-nilai muamalah itu harus diwujudkan dalam usaha bangsa secara menyeluruh, di segala bidang kehidupan bangsa dan masyarakat yang dilandasi oleh persatuan dan kesatuan yang teguh, ujar Presiden Soeharto.

Melebihi Pemerintah

Untuk persatuan dan kesatuan tersebut, kata Presiden, bangsa Indonesia sangat mengharapkan peranan pers nasional harapan itu adalah pantas, sebab pers telah tumbuh dan menempatkan diri pada posisi yang strategis dalam kehidupan masyarakat.

Ia mengatakan, setapak demi setapak pers telah dapat menjadikan dirinya sebagai salah satu kebutuhan hidup manusia atau masyarakat modern.

Pers tidak hanya bersifat pasif meneruskan berita-berita tanpa makna, tetapi pers telah menunjukkan peranan aktif dapat membentuk dan merubah pikiran masyarakat, tambah Presiden.

"Tidak berlebihan kalau saya katakan, bahwa dalam beberapa hal kekuatan dan kemampuan pers dapat melebih pemerintah. Pers lah yang setiap hari, dengan daya kecepatan dan penyebaran yang luar biasa, dapat menyampaikan berita dan pandangan mengenai segala kejadian di sekitar kita, di seluruh wilayah tanah air, malahan di setiap penjuru dunia".

Tidak untuk Mematikan

Selanjutnya Presiden Soeharto menegaskan, penghapusan iklan dalam acara TVRI mulai 1 April nanti, tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha periklanan yang kini makin tumbuh.

”Karena itu, Pemerintah memberi kesempatan untuk mengalihkan iklan itu pada mass-media lainnya, khususnya surat kabar," tutur Presiden.

”Karena itu pula, saya minta pandangan dari kalangan pers sendiri mengenai cara yang terbaik untuk menampung pengalihan TVRI ke surat kabar dengan tetap memperhatikan segi dan fungsi ideal dan surat kabar itu sendiri. Sejalan dengan semangat pemerataan yang kini sedang giat-giatnya kita usahakan, yang setiap hari juga selalu didengung-dengungkan oleh pers nasional, maka penampungan pengembangan iklan di surat kabar-surat kabar ini pun hendaknya memperhatikan semangat pemerataan dipers sendiri."

Kepala Negara menambahkan, dalam hubungan pemerataan ini, hendaknya diusahakan agar surat kabar baik surat kabar di pusat maupun di daerah yang masih kecil dan lemah periklanannya dapat didorong untuk menyerap periklanan secara optimal, sesuai dengan ketentuan yang ada.

"Dalam hubungan ini saya berikan petunjuk agar instansi-instansi Pemerintah dan perusahaan milik negara memelopori pelaksanaannya dengan mengutamakan mernasang iklan pada surat kabar yang masih lemah dan kecil iklannya," demikian Presiden Soeharto.

Sambutan Luar Biasa

Presiden Soeharto bersama lbu Tien sekitar jam 10.45 waktu setempat tiba di Banjarmasin dengan memperoleh sambutan masyarakat yang luar biasa sejak pagi hari.

Hujan turun rintik-rintik, tetapi masyarakat di desa-desa telah berusaha mendatangi tempat upacara yang bertempat di Jalan Jenderal Sudirman, tepat di depan Masjid Raya Banjarmasin.

Puluhan ribu penduduk Banjarmasin menyambut kedatangan Presiden sejak pagi hari. memenuhi jalan sejak di batas kota. Pedagang sungai juga memenuhi sungai Martapura yang terletak dipinggir tempat upacara. Paduan suara "Junjung Buih" ikut menyemarakkan pembukaan PWI dan Peresmian Masjid Raya Banjarmasin dengan lagu-lagu Banjar.

Selesai mengucapkan pidato, Presiden langsung melepas balon besar dengan memutuskan tali menggunakan Mendao, senjata tradisional. Balon mengangkasa bertuliskan “Interaksi antara Masyarakat, Pers dan Pemerintah”.

Presiden selanjutnya berjalan kaki menuju Masjid Raya Banjarmasin dan sekaligus menekan tombol diresmikan pemakaian Masjid Raya yang menelan Rp. 36 milyar.

Presiden dan Ibu Tien kemudian melakukan sujud syukur di dalam Masjid yang dilanjutkan dengan peninjauan keliling.

Setelah beristirahat di Gubernuran, Presiden dan Ibu Tien langsung meninggalkan Banjarmasin menuju Jakarta. (DTS)

Banjarmasin, Kompas

Sumber: KOMPAS (10/02/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 491-493.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: