KEWASKITAAN SEORANG PRESIDEN

KEWASKITAAN SEORANG PRESIDEN

 

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

JIKA anda seorang warga negara yang berjiwa sportif dan berkenan membaca secara mendalam Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun Tahap Pertama serta mencocokkan dengan kondisi dan situasi sekarang, terasa benar ketepatan rumusan dan hasil-hasil pembangunan yang dilakukan bangsa Indonesia dengan penuh kesungguhan, kerja keras dan gotong royong dalam semua bidang dan telah membuahkan kegembiraan bagi seluruh generasi termasuk generasi penerus yang pada tahun 1969 belum dilahirkan atau masih relative anak-anak.

Diantara semua warga negarayang berbahagia, penulis percaya bahwa Presiden Soeharto adalah pribadi yang paling berbahagia, penuh ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta tetap memobon taufik dan hidayah Nya dalam memimpin bangsa Indonesia. Demikian pula para pembantu beliau, keluarga beliau, pengagum beliau, seluruh rakyat Indonesia, bahkan mungkin pula para pemimpin luar negeri yang gembira akan keberhasilan pembangunan nasional kita sebagai model pembangunan di negara berkembang yang majemuk sifatnya.

Sebagai umat yang bertaqwa dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita percaya bahwa Allah Subhanahu Wataala menurunkan pribadi Soeharto ke dalam bumi nusantara Indonesia dengan rencana yang indah. Seluruh kehidupan beliau melekat erat dalam sejarah perjuangan bangsa initanpa sedikitpun penulis mengecilkan makna dan pen gorbanan para pahlawan dan pejuang besar lainnya. Dua puluh lima tahun pembangunan nasional bukanlah perjalanan yang pendek, apa lagi pencanangan.

25 tahun pembangunan dimulai pada saat-saat sulit setelah kita menumpas habis pemberontakan komunis yang didalangi PKI dengan Gerakan 30 September 1965, dan telah pula kita menyelesaikan masalah kepemimpinan Bung Kamo dengan sebaik­ baiknya sesuai prosedur konstitusional. Dengan kata lain,dua puluh lima tahun pertama pembangunan merupakan perjalanan yang panjang, penuh dinamika, dan selalu berada dalam situasi untuk meyakinkan akan kebenaran tujuan pembangunan nasional yang mengacu kepada tujuan nasional sebagaimana terdapat dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945.

Konon banyak pihak berpendapat bahwa keberhasilan. Pak Harto dalam memimpin bangsa Indonesia merupakan kharisma pribadi yang dimiliki sebagai anugerah Tuhan kepadanya mengingat dalam setiap situasi dan kondisi, beliau selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon perlindungan dan petunjuknya, senantiasa bersyukur atas pemberian dan karunia Tuhan.

Secara kalkulator, anugerah Tuhan diberikan kepada pribadi Pak Harto memang berlimpah karena seluruh amal baktinya terlebih lagi menumpas habis kaum komunis yang menghujat Tuhan. Kepada pribadi Pak Harto diberikan kewaskitaan untuk melihat Indonesia 25 tahun di masa depan dan berkesempatan bersama -sama bangsa Indonesia untuk menikmatinya. Bukan main besarnya nikmat Allah Subhanahu Wataala kepadanya dan kepada bangsa Indonesia.

Keberhasilan pembangunan nasional memungkinkan bangsa Indonesia hidup sejahtera, dan berada di tengah-tengah bangsa yang selalu mengejar kemajuan Pancasila mengajarkan kepada kita pentingnya keserasian, keselarasan dan keseimbangan dalam kehidupan yang tidak sepi dari tantangan. Sebagai bangsa yang tidak ingin ketinggalan dan tidak ingin mundur dari posisi keberhasilannya bangsa Indonesia, Insya Allah pada Pelita VI, tepatnya 1 April 1994 atau memulai Tahap

Tinggal Landas sebagai awal dari 25 tahun Pembangunan Nasional Jangka Panjang tahap Kedua. Kiranya segala perhitungan dan rumusan yang sedang dimatangkan dan akan digodok oleh para wakil rakyat dalam Sidang Umum MPR 1993 mendapat Terang Ilahi dan obor perjuangan generasi pendahulu bangsa terutama The Founding Fathers yang telah meletakkan dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bemegara yang berwawasan ke masa depan.

Dalam pada itu, kita percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa berkenan memberikan arah dan petunjuk kepada bangsa Indonesia melalui kepemimpinan nasional Presiden Soeharto. memiliki berbagai amanat dan wejangan beliau, ada tiga hal yang menarik untuk diungkap sehubungan Tahap Tinggal Landas, yakni (1) Era Kebangkitan Nasional II, (2) Pembangunan Nasional masih tetap bertumpu pada pembangunan ekonomi. Pembangunan bidang-bidang lainnya dibangun sesuai tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi, (3) Pembangunan nasional memperlihatkan ciri sebagai pembangunan yang berketahanan nasional dengan dimensi wawasan nusantara.

Tahap Tinggal landas yang secara harfiah pembangunan yang dilakukan berdasarkan kemampuan bangsa sendiri, percaya akan potensi dan kekuatan ekonomi bangsa, serta pembangunan yang digerakkan oleh seluruh partisipasi rakyat bersama pemerintah, dengan penekanan pada sektor industri yang didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.

Kita tidak meremehkan pandangan atau mengecilkan pemikiran para pakar bangsa Indonesia. Malahan sudah merupakan konvensi ketatanegaraan, Presiden Soeharto melalui Wanhankamnas menghimpun pandangan dan pemikiran yang dapat mempercayai wawasan kita sebagai bangsa yang bergerak maju, kemudian Presiden Soeharto akan membentuk Tim Kecil sebelum membulatkannya menjadi Sumbangan Rancangan Naskah GBHN yang kelak akan disampaikan kepada Sidang Umum MPR untuk dibahas bersama-sama dengan sumbangan gagasan lainnya dari masyarakat dan kekuatan sosial politik untuk sampai kepada GBHN berikutnya.

Dalam persepsi itulah kita memandang betapa pentingnya GBHN 1993 baik dalam kerangka kurun waktu 1993-1998 maupun 1993-20 18. Sebagai manusia yang terbatas umumya, kita tentu berbahagia bila diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menyaksikan lagi keberhasilan pembangunan nasional 25 tahun tahap ke dua dari kita masih berkeinginan agar Presiden Soeharto bersedia memimpin lagi bangsa Indonesia.

Semua itu kita kembalikan kepada rakyat yang berdaulat dan kepada Tuhan yang memiliki alam semesta ini. Namun kita bangga dan berbahagia, kita pernah memiliki Indonesia yang lebih jaya dari Sriwijaya dan Majapahit.

Kita bangga akan Indonesia karena letusan Krakatau yang menggelegar dunia pada tahun 1883. Letusan yang sama pun terjadi pada 17 Agustus 1945 dengan Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh Bung Karno, Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Kini kita pun bangga dengan keberhasilan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Seandainya kita tidak diberi kesempatan melihat keberhasilan pembangunan nasional pada 2018, tokoh kita patut bersyukur.

 

 

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA (21/02/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 90-93.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.