Mar 202017
 

KEPRIBADIAN PEJOANG MENURUT PRESIDEN SOEHARTO: LEBIH BAHAGIA MENDERITA DARI PADA KORBANKAN CITA2

Presiden Soeharto menandaskan, penderitaan bagi seorang pejoang dan pemimpin seperti Jenderal Soedirman jauh lebih membahagiakan daripada mengorbankan cita2 dan membuat jarak dengan rakyat.

Hal ini dikemukakan Kepala Negara dalam sambutannya pada peresmian patung Panglima Besar Jenderal Soedirman di halaman AKABRI bagian Darat di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu pagi dalam memperingatkan Hari Pahlawan 10 Nopember.

Kepala Negara menegaskan sesungguhnya kebesaran Jenderal Soedirman bukan hanya karena pikiran dan gagasan2 besar yang dia tanamkan sebagai benih jiwa ABRI, namun lebih dari itu, keteguhan Jenderal Soedirman dalam mewujudkan tekad perjuangan ber-sama2 di tengah2 rakyat walaupun dalam keadaan jasmani yang menderita, merupakan hal yang patut dicontoh.

Mengawali sambutannya, Kepala Negara mengingatkan pula bahwa diresmikannya monumen2 untuk mengenang jasa2 Jenderal Soedirman bukan dengan maksud untuk mengkultuskan seseorang.

"Tujuan kita adalah untuk menghormati dan mengenang keprajuritan dan keperjoangan Pak Dirman yang penuh keteladanan", kata Kepala Negara.

Nama Khusus

Nama Jenderal Soedirman menurut Kepala Negara mempunyai arti yang khusus dalam sejarah perjoangan bangsa Indonesia.

"Nama Pak Dirman mengandung kekuatan. Kepemimpinan Pak Dirman beroleh tempat tersendiri di hati Tentara Nasional Indonesia”,

Jenderal Soedirman menurut Kepala Negara adalah seorang pejoang besar yang kehidupannya, keprajuritannya dan keperjoangannya menjadi sumber semangat yang tak pernah kering.

Kesemuanya itu senantiasa memberikan inspirasi bagi setiap patriot tanah air, sekarang danjuga untuk masa2 yang akan datang.

Oleh karena itu, demikian Kepala Negara kembali menegaskan, lebih dari sekedar membuat monumen, mengawetkan jalan gerilya dan mendirikan patung Jenderal Soedirman, "kita harus meresapkan kembali semangat keprajuritan dan keperjoangan Pak Dirman yang kesetiaanya kepada cita2 proklamasi 17 Agustus 1945 tak pernah kendor dan yang dengan penuh kesungguhan menghayati kemantmggalan dengan rakyat, merasakan keprihatinan dan mendengarkan harapan2 rakyat."

Mawas Diri

Berkata Kepala Negara selanjutnya, "kita kenang beliau karena kita ingin mencontoh tauladannya mengorbankan semangatnya danmengikuti jejaknya”. Namun ini semua menurut Kepala Negara mengharuskan kita mawas diri.

"Ini mengharuskan kita bertanya pada diri kita masing-masing dengan penuh kejujuran apakah kita masih tetap setia pada sikap kepejoangan Pak Dirman yang menempatkan kepentingan rakyat dannegara diatas segala-galanya, diatas kepentingan pribadi keluarga dan golongan," kata Kepala Negara.

Pertanyaan seperti itu perlu diresapi bersama justru karena pada saat2 ini kita telah mencanangkan kembali perlunya dipelihara, dibina dan dikembangkan terus semangat kemanunggalan ABRI dan Rakyat seperti yang telah dihayati dibawah kepemimpinan Pak Dirman.

Pertanyaan seperti itu perlu juga kita renungkan karena pada saat ini kita berusaha lebih memantapkan penghayatan dan pengamalan Pancasila dan UUD 1945 yang dibela dengan mati-matian oleh Pak Dirman, kata Kepala Negara.

"Sesungguhnya Pak Dirman adalah contoh dari seorang pejoang yang benar2 menghayati cita2 kemanunggalan ABRI dengan Rakyat. Contoh seorang patriot pembela Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang senantiasa setia antara tekat, ucapan dan perbuatannya."

Hal ini, menurut Kepala Negara benar2 harus menjadi perhatian kita semua terutama dari mereka2 yang pada saat inimenduduki fungsi kepemimpinan.

Selanjutnya dikatakan, PakDirman juga merupakan lambang kepemimpinan yang berkepribadian yang dapat menjadikan dirinya sebagai teladan dari yang dianjurkan.

"Kita tergugah pertama-tama bukan karena anjuran beliau akan tetapi karena sikap hidup beliau sebagai pejoang dan sebagai pemimpin," kata Kepala Negara.

Kepala Negara berharap agar semangat yang dilambangkan dalam patung Panglima Besar Jenderal Soedirman tetap membimbing Angkatan Bersenjata yang setia kepada rakyat sepanjang zaman, setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Presiden Soeharto meresmikan monumen tsb dengan menekan tombol dari bom tanah dimana kemudian selubung patung terjurai turun ke bawah.

Komandan Jenderal Akabri Mayor Jenderal TNI Susilo Sudharman kepada Presiden melaporkan pembangunan monumen itu diprakarsai oleh KSAD dengan direstui oleh Menhankam/Pangab pada waktu kunjungan kerja Menhankam di Akabri Bagian Darat Magelang tgl 23 mei 1978. (DTS)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (10/11/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 193-195.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: