KEPERCAYAAN MASYARAKAT THD RUPIAH PULIH LAGI

KEPERCAYAAN MASYARAKAT THD RUPIAH PULIH LAGI

 

 

Kepercayaan masyarakat terhadap rupiah mulai pulih kembali, terbukti dengan terjadinya arus balik penjualan valuta asing, khusus dolar AS, oleh masyarakat di Bursa Valuta Asing, kata Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Swasta Nasional (Perbanas), I Nyoman Moena dalam percakapannya dengan ANTARA di Jakarta, Jum’at.

Dikatakan, kepercayaan masyarakat terhadap rupiah kembali mantap terutama setelah adanya pidato Presiden Soeharto ketika mengantar Nota keuangan dan RAPBN 1987/1988 di mana dinyatakan bahwa RAPBN 1987/1988 naik 6,4 persen dari Rp 21,4triliun menjadi Rp 22,7 triliun.

Pengaruh pidato Presiden Soeharto tersebut terhadap stabilitas rupiah sangat besar, terbukti dengan anjloknya pembelian dolar AS di Bursa Valuta Asing (BVA) Bank Indonesia yang hanya mencapai sekitar 50 juta dolar AS, padahal sebelumnya mencapai di atas 100 juta dolar AS, katanya.

Bahkan bank-bank asing di Jakarta umumnya menjual dolar AS di bawah kurs yang ditetapkan Bank Indonesia. Di samping itu tingkat suku bunga di pasar uang dalam beberapa hari terakhir ini kembali normal setelah mencapai angka tertinggi (22 persen) pada awal Januari 1987.

“Hal itu membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap rupiah kembali mantap,” ia menambahkan.

Bank-bank swasta nasional pada media Desember 1986 secara serentak menaikkan tingkat suku bunga depositonya bervariasi antara 0,5 sampai 1,5 persen setahunnya.

Hal itu teljadi karena kepercayaan masyarakat terhadap rupiah agak goyah akibat terjadi pembelian dolar AS secara besar-besaran baik untuk keperluan tutup buku perusahaan-perusahaan asing maupun untuk spekulasi sambil menunggu diumumkannya RAPBN 1987/1988.

“Namun sekarang kepercayaan masyarakat terhadap rupiah mulai pulih kembali dan diharapkan tingkat suku bunga deposito juga secara bertahap akan turun kembali,” kata Moena.

Kurs tengah dolar AS di BVA Bank Indonesia pada hari Jum’at, turun tiga point dari Rp 1.638,00 menjadi Rp 1.635,00 /dolar AS.

Sedangkan kurs tengah mata uang asing lainnya juga mengalami penurunan, hal itu membuktikan bahwa nilai tukar rupiah cukup mantap.

Kurs tengah Mark Jerman Barat turun dari Rp 856,52 menjadi Rp 855,62, kurs tengah franc Perancis turun dari Rp 257,37 menjadi Rp 257,04, kurs tengah Poundsterling Inggris turun dari Rp 2.432,78 menjadi Rp 2.422,59 dan kurs tengah Special Drawing Rights (SDR) turundari Rp 2.017,69 menjadi Rp 2.015,85.

“Langkah yang diambil Bank Indonesia selaku Bank Sentral dengan menurunkan nilai tukar berbagai mata uang asing terhadap rupiah, merupakan upaya untuk memantapkan stabilitas rupiah,” demikian Ketua Umum Perbanas. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (09/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 362-363.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.