Apr 142017
 

KEMBALIKAN KEPERCAYAAN DIRI PARA KORBAN

Presiden Tinjau Daerah Musibah Majalengka Laksanakan Padat Karya Untuk Beri Kesibukan dan Penghasilan

Presiden Soeharto didampingi Mensesneg Sudharmono, Sesdalopbang Solichin GP, Gubernur dan Muspida JawaBarat, selama dua jam kemarin, meninjau langsung lokasi bencana alam di Sunia dan Sangiang kecamatan Telaga kabupaten Majalengka.

Presiden sernpat memberikan wejangan dan menanyakan langsung kepada para korban tentang keadaan mereka serta meninjau puskesmas di Palaga tempat para korban dirawat. Di sini Presiden dengan penuh haru berbicara kepada mereka dan memberikan nasehat-nasehat.

Kepada para pejabat propinsi dan kabupaten, Presiden memberikan petunjuk tentang cara-cara menanggulangi bencana banjir tersebut. Usaha selanjutnya, menurut Presiden, ialah mengembalikan kepercayaan kepada diri mereka dan memberikan

Beberapa alur sungai yang datang dari daratan sebelah atasnya menjadi satu dalam alur sempit itu dan menyebabkan arus air jadi lebih besar lagi.

Hal ini, demikian Gubernur, mengakibatkan batu-batu yang ada disekitar air terjun terbawa air terjun dan melanda desa Sangiang.

Gubernur juga laporkan, bantuan darurat telah diberikan kepada korban untuk satu bulan ini.

Penguburan Massal

Sebagian besar jenazah korban banjir dan longsor telah dikebumikan secara massal dalam suatu upacara yang mengharukan dipimpin Sekda mewakili Bupati Majalengka H.Moh.S.Paindra.

Suasana berkabung di sekitar tempat peristiwa itu masih sangat terasa mencekam terutama karena banyaknya penduduk yang tewas dan dikhawatirkan hanyut terbawa air bah.

Masyarakat setempat tampak sangat sibuk mencari korban yang hilang serta mengurus mayat yang baru diketemukan. Selain upacara pemakaman massal dilangsungkan beberapa kali selama hari Sabtu dan Minggu kemarin, tampakkuburan­kuburan baru bermunculan.

Awan yang mendung serta kabut dan hujan rintik-rintik membuat suasana bertambah mengharukan. Ratapan anak dan isak tangis terdengar di hampir setiap rumah, mesjid dan di tanah pekuburan.

Terlihat hampir semua penduduk matanya membasah karena tangis dan ada pula yang diam tak berkata apa-apa selain ucapan istigfar.

Bencana banjir dan tanah longsor ini karena hujan turun terus menerus selama lima hari dari tanggal 22-26 Desember 1980.

Usaha penanggulangan dilakukan untuk menyelamatkan para penderita dengan mengungsikan ke tempat aman, merawat para korban, membentuk posko-posko tingkat desa, pemberian pengobatan dan bantuan pangan 17,5 ton beras, pakaian, mencari korban yang hilang.

Untuk mengatasi ini, pemerintah daerah mengharapkan bantuan dari Pusat Bantuan darurat diberikan 3000 orang selatan satu bulan 250 gram/hari beras dan lauk-pauk, pakaian, kesehatan. Sedangkan bantuan dari Pemda yang diperlukan sekitar Rp.18 juta, dan beras 22,5 ton.

Menurut Gubernur Aang Kunaefi, bencana alam ini sangat mendadak dan sukar diduga. Sedangkan usaha penanggulangan selanjutnya sebagian di luar jangkauan pemerintah daerah.

Untuk pengawasan selanjutnya, diperlukan penelitian danterus-menerus di daerah hutan tutupan yang mungkin terdapat kantong-kantong air yang dapat membahayakan penduduk. Menurut catatan kejadian seperti ini pemah juga terjadi pula di daerah Majalengka pada tahun 1815.

Sebab-sebab Bencana

Menurut Dirjen Pertambangan Prof.J.A. Katili, sebab-sebab timbulnya bencana alam longsor dan banjir itu adalah gundulnya hutan dan tipisnya lapisan tanah pada gunung Ceremai.

Hutan yang gundul dan lapisan tanah yang tipis selalu menimbulkan gerakan pada tanah dan terjadilah longsor. Dan batu-batu yang menempel tapi tidak terlindung itu pun jatuh dan terbawa arus.

Lapisan tanah yang tipis pada suatu gunung, menurut Dirjen, dapat diamankan dengan jalan melestarikan gunung melalui penghijauan.

"Usaha melestarikan hutan, sudah tentu menuntut partisipasi semua pihak termasuk masyarakat sekelilingnya," katanya.

Penebangan kayu di hutan secara liar bukannya membantu usaha pelestarian, tapi malah sebaliknya hutan menjadi gundul hingga merugikan pemerintah danmasyarakat sendiri.

Untuk menentukan pemukiman yang barn dan aman bagi para korban yg terkena musibah perlu waktu kira2 seminggu. Pihaknya akan mengerahkan empat tim ahli vulkanologi guna meneliti lokasi dimaksud, hingga dalam waktu singkat dapat menentukan lokasi yang aman dan tepat.

Menurut Dirjen, dalam catatan Direktorat Vulkanologi, tidak terdapat tanda2 bahwa di Gunung Ceremai akan tetjadi longsor yang dahsyat. Namun karena hutannya mendadak gundul tanpa sepengetahuan vulkanologj, terjadilah bencana alam longsor yang membawa korban ratusan jiwa manusia. (DTS).

Bandung, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (31/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 997-1000.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: