Okt 312016
 

Bali, 26 September 1998

Kepada

Yth. Bapak H.M. Soeharto

di Jl. Cendana Jakarta

KAMI MALAH MAKIN SIMPATI [1]

Pak Harto yang terhormat,

Sebelumnya perkenankanlah saya mohon maaf yang sebesar­ besarnya karena telah lancang mengganggu kegiatan Bapak. Mungkin Bapak bertanya-tanya mengapa saya memberanikan diri melayangkan surat ke hadapan Bapak yang tidak lazim dilakukan oleh rakyat jelata. Tidak lain adalah ketidakmampuan saya menahan rasa simpati terhadap Bapak.

Terakhir saya lihat Bapak di layar TV sewaktu kedatangan Bapak ke Kantor Kejaksaan Agung. Hati saya trenyuh dan hampir menitikkan air mata. Mengapa cobaan begitu besar yang harus Bapak hadapi. Saya pribadi percaya akan ketabahan dan kekuatan Bapak menghadapi berbagai cobaan di masa-masa silam tentunya saya sangat berharap agar Bapak mampu lebih kuat lagi menghadapi cobaan sekarang ataupun yang akan datang.

Orang-orang demikian gencar menghujat Bapak dan keluarga sampai-sampai saya betul-betul tidak pernah membaca surat kabar lagi.

Bagaimanapun hati saya ternyata telah memilih sehingga sulit bagi saya untuk berpijak. Saya bukan orang politikus, bukan orang yang memiliki kekuatan massa tetapi hanya seorang rakyat biasa yang berpikiran sederhana dan amat tersentuh terhadap permasalahan yang Bapak hadapi.

Semoga dengan goresan saya ini sedikit tidaknya mampu menjadi dorongan semangat Bapak dan menyadarkan bahwa Bapak tidak sedang sendirian. Masih banyak orang yang bersimpati terhadap Bapak.

Percayalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Doa saya senantiasa menyertai Bapak. Berkenan kiranya Bapak memaafkan saya, jikalau ada hal-hal yang tidak berkenan dalam surat saya. (DTS)

Hormat saya,

Desak Made Setiasih

Denpasar – Bali

[1]     Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 78-79. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

  One Response to “Kami Malah Makin Simpati”

  1. Terimakasih atas penghargaan yang diberikan. Surat yang pernah saya kirim di bukukan. Sungguh di luar dugaan.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: