Nov 272017
 

JIM TAHAP DUA HANYA DIIKUTI EMPAT FRAKSI

Bogor, Antara

Pertemuan Informal Jakarta (JIM) hari ketiga Rabu hanya akan diselenggarakan pada tahap dua, artinya melibatkan empat fraksi Kampuchea, Vietnam, Laos dan negara negara anggota ASEAN.

Menlu Vietnam Nguyen Co Thach dalamjumpa persnya bersama dengan Menlu Ali Alatas, pemimpin KPNLF Son Sann dan Menlu Malaysia Abu Hassan Omar di Istana Bogor, Selasa petang menyebut pertemuan hari ketiga itu sebagai “pertemuan ketiga tahap dua (third round of meeting of the second stage).”

Pada hari pertama dan kedua, pertemuan itu dibagi dalam dua tahap sesuai dengan kesepakatan Ho Chi Minh City yang ditandatangani Indonesia dan Vietnam 29 Juli 1987.

Tahap pertama hanya melibatkan empat fraksi Kampuchea, yakni Khmer Merah, Front Pembebasan Nasional Rakyat Kampucha (KPNLF), Funcinpec (kelompok Sihanouk) dan pemerintah Phnom Penh.

Tahap kedua melibatkan empat fraksi itu Vietnam, Laos, dan ASEAN, Masalah yang akan dibahas dalam pertemuan Rabu itu lebih banyak berupa rincian dari berbagai hasil pertemuan Selasa.

Pertemuan hari ketiga dilaksanakan Rabu siang karena empat fraksi Kampuchea akan mengadakan pertemuan dahulu dengan Presiden Soeharto dan Pangeran Sihanouk pagi hari.

Menurut sumber ANTARA di Bogor, pada pertemuan dengan Sihanouk itu, keempat fraksi akan melaporkan keseluruhan hasil JIM dua hari (Senin dan Selasa) kemudian meminta petunjuk-petunjuk dari dia tentang langkah selanjutnya.

Sihanouk, baik oleh ASEAN mapupun oleh dunia internasional pada umumnya, dianggap sebagai tokoh sentral dalam penyelesaian masalah Kampuchea. Meskipun 10 Juli lalu ia mengundurkan diri sebagai Presiden CGDK, Ia tidak menghadiri JIM dan kedatangannya di Indonesia pun atas undangan pribadi Prsiden Soeharto.

Pemerintah Koalisi Demokratik Kampuchea terdiri atas tiga fraksi (Funcinfec, Klnner Merah dan KPNLF).

Bogor, ANTARA

Sumber : ANTARA (27/07/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 135.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: