Feb 152018
 

JIKA DIRENCANAKAN CERMAT, TAK PERLU TAKUT TENAGA NUKLIR

 

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto mengatakan, penggunaan tenaga nuklir, seperti juga penggunaan teknologi lainnya, memang mengandung risiko. Namun bila penggunaan teknologi itu direncanakan dengan cermat, khususnya yang menyangkut faktor keamanannya, maka tidak perlu ragu lagi dalam menerapkannya.

Hal itu dikatakan Kepala Negara ketika meresmikan beberapa laboratorium di Puspiptek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) Serpong, hari Senin. Yang diresmikan terdiri dari Instalasi Produksi Elemen Bakar Eksperimental, Pusat Produksi Radioisotop, Pusat Perangkat Nuklir dan Rekayasa, Pusat Pengembangan Informatika yang dikelola Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Laboratorium Metalurgi Laterit yang dikelola Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Laboratorium Aero Gas Dinamika dan Getaran yang dikelola BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

“Dalam rangka mempersiapkan penggunaan tenaga nuklir, jika benar-benar kita perlukan nanti, saya minta agar kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya dari sekarang,” kata Presiden.

Dijelaskannya, pengembangan industri nasional di masa datang memerlukan energi yang besar. Pembangunan energi tidak boleh terlalu menggantungkan diri pada minyak bumi, yang memang terbatas jumlahnya. Sebaliknya, harus dikembangkan sumber­ sumber energi lain, seperti tenaga air, batu bara, gas alam, tenaga panas bumi dan sebagainya. “Jika semuanya itu nanti belum cukup, maka tidak ada lagi jalan lain bagi kita kecuali harus mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh penggunaan tenaga nuklir,” ucapnya.

 

Kekurangan

Presiden juga mengutip hasil penelitian, bahwa pada tahun 2015 nanti listrik di Pulau Jawa saja diperkirakan memerlukan 27.000 megawatt. Setelah diperhitungkan dengan cermat pemakaian semua sumber daya seperti tenaga air, panas bumi, gas alam, dan batubara, maka diperkirakan masih diperlukan tambahan tenaga listrik sekurang­ kurangnya 7.000 megawatt

Dengan bertambahnya kemampuan bangsa Indonesia dalam menguasai teknologi nuklir diharapkan kekurangan daya listrik itu dapat dipenuhi dengan menggunakan tenaga nuklir sebagai sumber altematif.

“Agar putra-putra bangsa kita dapat menguasai dan mengembangkan pengetahuan mereka di bidang nuklir ini maka kita bangun laboratorium dan instalasi­instalasi nuklir lainnya,” tambah Presiden Soeharto.

Kepala Negara menilai, di awal proses tinggal landas maupun masa selanjutnya, peranan Puspiptek sangat menentukan didalam perjalanan dan kelangsungan hidup bangsa. Berkembangnya Puspiptek dengan prasarananya yang lengkap dan tenaga ilmiahnya yang berpendidikan dan berkeahlian tinggi, perlu mendapat perhatian dan pembinaan, sehingga kelak dapat dijadikan modal untuk dimanfaatkan bagi pembangunan dan kesejahteraan bangsa.

Diingatkannya, investasi dalam prasarana dan tenaga ilmiah memang mahal. Padahal dana-dana yang dapat disediakan terbatas. Karena itu, dana yang terbatas itu digunakan secara terarah, yaitu ditujukan pada pengembangan prasarana dan tenaga ilmiah untuk penanggulangan masalah-masalah pembangunan.

Presiden mengharapkan, Puspiptek tidak saja mampu menghasilkan ilmu dan teknologi, tapi juga berhasil mengembangkan disiplin ilmu serta rasa cinta pada ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam masyarakat umumnya, dan khususnya di kalangan masyarakat yang bergerak di sektor industri.

Selain itu diharapkan agar Puspiptek menunjukkan kepada generasi muda bahwa masa depan mereka itu harus ditentukan oleh mereka sendiri melalui penguasaan iptek. Perguruan tinggi diharapkan dapat turut memanfaatkan sarana penelitan dan pengembangan yang ada di kawasan Puspiptek ini baik untuk meningkatkan kemampuan para calon sarjana maupun untuk memberikan kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi untuk mengembangkan ilmunya.

“Dengan demikian kemampuan bangsa untuk menghadapi tantangan ilmu dan teknologi di masa depan akan tetap terpelihara dan terkembangkan,” demikian Presiden Soeharto.

 

llmu Terapan

Menristek/Ketua BPPT/Ketua Dewan Riset Nasional, BJ. Habibie, melaporkan, laboratorium pusat dan instalasi ilmiah, yang diresmikan itu akan segera digunakan oleh para tenaga ilmiah dan teknisi untuk menyelesaikan masalah ilmu terapan di bidangnya masing-masing bagi kepentingan pembangunan nasional.

“Di masa datang fasilitas ini akan dikembangkan dan akan dimanfaatkan untuk melaksanakan program-program penelitian dasar dan pengembangan teknologi baru,” tambahnya.

Seusai meresmikan berbagai sarana itu, Presiden dan Ny. Tien Soeharto melakukan peninjauan di tempat yang diresmikannya.

 

 

Sumber : KOMPAS(12/12/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 719-720.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: