Mei 102017
 

PRESIDEN SOEHARTO:

JANGAN PAKSAKAN PROPINSI YANG TIDAK MAMPU UNTUK BERSWASEMBADA PANGAN

Presiden Soeharto memperingatkan agar dalam usaha mencapai swasembada pangan jangan memaksakan propinsi-propinsi yang ternyata tidak mampu berswasembada sendiri, karena usaha ini harus bersifat nasional.

Kepala Negara menyampaikan peringatan ini kepada Menteri Muda Urusan Pangan Ir. Achmad Affandi ketika melaporkan hasil lokakarya swasembada pangan di kediaman Cendana, Jakarta, Selasa pagi.

Presiden mengatakan, jika daerah-daerah yang tidak mampu seperti Riau dan Jambi dipaksakan untuk berswasembada, bisa saja. Tapi nantinya usaha itu terlalu mahal. Sedang daerah lain seperti Sumatera Barat masih mampu memberi bantuan untuk mencukupi kebutuhan pangan untuk kedua propinsi tersebut.

Menmud Affandi selesai diterima Presiden menjelaskan kepada pers bahwa memang ada beberapa pihak yang menghendaki swasembada pangan bersifat regional tapi jika usaha itu dilakukan akan menelan biaya yang tinggi.

Dia mengatakan, sebaiknya propinsi yang belum begitu mampu berswasembada pangan, dapat mengusahakan penanaman tanaman komersial seperti kopi, karet dan tanaman keras lainnya.

Lokakarya swasembada pangan yang berlangsung di Jakarta 21 Desember menyambut baik usaha melaksanakan swa-sembada pangan yang bersifat nasional, meskipun untuk daerah-daerah terpencil ada pengecualian.

Banjir Belum Berpengaruh

Menmud atas pertanyaan menyatakan belum adapengaruh banjir yang timbul di beberapa daerah sekarang ini terhadap persediaan pangan.

Selain genangan air yang hanya sedikit, daerah yang biasanya tergenang air seperti Karawang dan Indramayu sudah ditangani sejak tahun yang lalu. Tanah hero sekarang ini sudah dijadikan sawah cetak. Meskipun hasilnya belum optimal, tapi airnya lancar mengalir. Usaha-usaha tersebut telah banyak mengurangi pengaruh terhadap produksi pangan.

Mengenal perkiraan keadaan pangan dalam tahun 1982, Menmud mengatakan bahwa secara nasional tidak menghawatirkan, kecuali jika terjadi bencana alam yang besar.

Sebaliknya Menmud Affandi bahkan mengemukakan kemungkinan Indonesia mengekspor pangan.

"Namun hal ini jangan sampai membuat kita takabur, kita harus tetap waspada".

Di samping melanjutkan pelaksanaan Bimas, Inmas serta Insus, usaha peningkatan produksi pangan juga dilakukan dengan mendorong beberapa propinsi untuk meningkatkan produksi. Sekarang ini sudah ditangani enam propinsi.

Achmad Affandi melaporkan kepada Presiden usaha mendorong propinsi Lampung untuk meningkatkan produksi pangannya terutama pada areal seluas 62.000 hektar yang selama ini hanya panen sekali dalam setahun. Pada areal itu, setelah dilakukan penelitian, dapat diusahakan sekurang-kurangnya duakali panen setahun. Jika memungkinkan bahkan tiga kali setahun, kata Affandi.

Di Propinsi Lampung menurut rencana akan ditanam padi dengan sistem gogo­rancah, pelaksanaan sistem gogo-rancah ini dimulai Juni tahun depan. Setelah gogo­rancah ini panen sawah pada areal 62.000 hektar itu akan dijadikan sawah tadah hujan biasa.

Menmud Affandi optimis usaha ini akan berhasil mengingat pengalaman sistem gogo-rancah yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sudah berhasil menjadikan sawah di daerah bersangkutan panen dua kali setahun.

Dalam tahun 1983 Propinsi Lampung diharapkan sudah dapat berswasembada pangan, meskipun ada kesulitan untuk mencapainya mengingat besarnya ams pertumbuhan penduduk dipropinsi itu, antara lain sampai 5,5 persen per tahun. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (30/12/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 449-450.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: