Feb 152018
 

JALUR PENERBANGAN JAKARTA-SEOUL DI BUKA AWAL SEPTEMBER 1989

 

 

Jakarta, Antara

Jalur penerbangan Jakarta-Seoul direncanakan akan dibuka awal September 1989 jika perjanjian di bidang transportasi udara (air agreement) antara Indonesia­Korea Selatan selesai ditandatangani pada 1 September 1989.

Kedua negara tidak menemui masalah yang berarti dalam proses perjanjian, bahkan ingin mempercepat proses tersebut, kata Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negri Departemen Perhubungan Soebagijo Surnodihardjo SH, mengutip pembicaraan antara Menteri Perhubungan Azwar Anas dengan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Korea Selatan Seung Soo Han di Jakarta, Sabtu.

Dalam pertemuan sekitar 45 menit itu Menteri Korea Selatan itu didampingi Dubes Korsel untuk Indonesia Young Sup Kim, Atase Perdagangan Korsel Moon Hoh dan Ketua Komite Kerjasama Ekonomi Korea-Indonesia Byun Kyoon Chi.

Pada jalur penerbangan tersebut Pemerintah Indonesia menunjuk Garuda, sementara Pemerintah Korea Selatan menunjuk Korean Airlines, yang masing-masing penerbangannya dijadwalkan 3 kali seminggu. Selama ini belum ada penerbangan antara Jakarta-Seoul, kata Soebagijo.

Dikatakannya, tanggal 10 Juli 1989 staf Direktorat Perhubungan Udara Depretemen Perhubungan dan pihak Korea Selatan secara teknis akan membahas proses persetujuan tersebut.

Pada tahap awal, menurut Soebagijo, jadwal penerbangan antara Jakarta-Seoul hanya berlangsung satu kali seminggu.

Dalam pertemuan itu Menteri Perhubungan Azwar Anas mengimbau Pemerintah Korea agar menanamkan investasi di bidang transportasi di Indonesia mengingat masih ada beberapa tempat di Indonesia yang masih terbuka untuk penanaman investasi di bidang tersebut seperti rehabilitasi rel kereta api.

Seung Soo Han, yang berada di Jakarta dari tanggal 7-8 Juli, telah menemui Presiden Soeharto, Menteri Koordinator Ekuin Radius Prawiro dan Menteri Perindustrian Hartarto.

 

 

Sumber : ANTARA (08/07/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 729-730.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: