Des 132017
 

IRAN-INDONESIA TANDATANGAN I PERSETUJUAN BARTER MINYAK

 

Nikosia, Antara

Iran dan Indonesia Senin di Teheran menandatangani persetujuan barter untuk penjualan sebanyak 30.000 barel per hari minyak mentah Iran, demikian kantor berita Iran, Iran melaporkan.

Sebagai bagian dari persetujuan itu, yang ditandatangani Menteri Pertambangan dan Energi, Ir. Ginandjar Kartasasmita pada akhir kunjungannya ke Iran, Indonesia akan mengekspor ke negara tersebut kertas, karet dan lembaran lapisan seng, demikian laporan itu menambahkan.

Menteri Pertambangan dan Energi Senin pagi menemui Kepala Negara Iran, Ali Khamenei untuk menyampaikan surat dari Presiden Soeharto, kata kantor berita tersebut.

Menteri Ginandjar menekankan “peranan penting” Iran dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mengharapkan pertemuan OPEC mendatang akan berhasil.

Senin sore Menteri Ginandjar tiba di Kuwait, demikian para pejabat di Kuwait mengatakan, dan juga akan mengunjungi Irak dalam rangka kunjungannya ke negara­negara di kawasan Teluk.

Radio Teheran sementara itu mengabarkan, Menteri Energi Venezuela, Grisanti Hernandez ditunggu kedatangannya di Iran.

Radio itu mengatakan, Caracas dan Jakarta merupakan pihak yang “moderat” yang ingin mengusahakan kemajuan bagi pertemuan OPEC di Wina tanggal 17 dan 21 November mendatang, yang sudah dijadwalkan sebagai bagian dari usaha untuk menahan turunnya harga minyak.

Menteri Perminyakan Iran, Gholamreza Aqazadeh, menurut Radio Teheran, mengulangi lagi pernyataannya bahwa negaranya akan menentang permintaan Baghdad yang menginginkan kuota produksi yang sama dengan Iran “walau pun pertemuan OPEC gagal menentukan patokan harga.”

Iran berargumentasi bahwa sejak konsumsi di dalam negerinya lebih tinggi 700.000 barel per hari dari Irak, hanya akan menerima kuota yang sama dengan Baghdad berdasarkan tingkat ekspor.

 

 

Sumber : ANTARA (15/11/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 385-386.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: