Des 062017
 

INDONESIA-VENEZUELA SEPAKAT PERJUANGKAN HARGA MINYAK TETAP STABIL

Jakarta, Antara

Indonesia dan Venezuela sepakat meningkatkan lagi perjuangan bersama untuk mencapai kestabilan harga minyak bumi pada tingkat yang wajar, demikian salah satu hasil penting pembiraan Presiden Soeharto dengan Presiden Dr. Jaime Lusinchi di Jakarta siang tadi.

Dalam pembicaraan dua jam di Istana Merdeka, yang oleh menteri/Sekretaris Negara Drs. Moerdiono digambarkan berlangsung dalam suasana bersahabat dan terbuka, kedua pemimpin tersebut sependapat bahwa untuk mencapai harga minyak yang stabil dan wajar sangat diperlukan persatuan erat semua negara anggota OPEC.

“Jelasnya, negara-negara OPEC diharapkan oleh kedua presiden itu perlu memegang teguh disiplin terhadap keputusan-keputusan OPEC,” kata Moerdiono kepada wartawan, seusai pertemuan Soeharto-Lusinchi.

Mereka, menurut Moerdiono, juga berpendapat perlunya diadakan dialog terus­menerus dengan negara-negara penghasil minyak bukan anggota OPEC (non-OPEC). kerjasama dalam perjuangan menyetabilkan harga minyak pada tingkat wajar telah berkembang diantara tiga negara penghasil minyak kelas menengah, yaitu Venezuela, Indonesia dan Nigeria.

Dalam pertemuan panitia pemantau OPEC pekan lalu, kata Moerdiono, Indonesia mendapat penilaian tinggi dalam ketaatannya melaksanakan kesepakatan OPEC. Demikian pula Venezuela patuh pacta kuota 1,7 juta barrel/hari meskipun kapasitas produksi minyaknya mencapai 2,5 juta barel/hari.

Dalam pembicaraan di Ruang Jepara, Istana Merdeka itu kedua presiden bertukar-fikiran mengenai pengalaman masing-masing dalam membangun negaranya.

Mengenai masalah-masalah internasional, mereka memiliki persamaan pandangan yang mendasar. Kedua pihak menghargai kedaulatan negara masing-masing serta menganut prinsip tidak menyampuri urusan dalam negeri negara lain, disamping sama­sama menghendaki pengembangan kerjasama konstuktif.

Soeharto dan Lusinchi sepakat persamaan-persamaan pandangan itu perlu ditingkatkan lagi dalam kerjasama bilateral.

Dalam pembicaraan tingkat menteri, yang berlangsung di mang lain serentak dengan pembicaraan kedua kepala negara, disepakati pengembangan ketjasama di bidang perminyakan, pertambanga n dan penanggulangan masalah obat bius.

Dalam meningkatkan kerjasama tersebut, ada fikiran agar Dubes Venezuela bersama Deplu RI serta departemen teknis lain segera melakukan penjajakan bidang­bidang mana yang dapat secara nyata dijalin kerjasama.

Untuk itu, lanjut Moerdiono, disepakati dalam waktu tiga bulan mendatang akan dapat dilihat pada bidang-bidang mana kerjasama kedua negara dapat dikembangkan.

Pada akhir pembicaraan, Presiden Lusinchi mengundang Presiden Soeharto untuk berkunjung ke Venezuela.

Undangan tersebut, menurut Moerdiono , diterima baik oleh Presiden Soeharto yang menjanjikan akan melaksanakan kunjungan itu pada waktu yang dianggap tepat oleh kedua pihak.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (13/04/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 293-294.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: