Jul 312017
 

INDONESIA TAK AKAN “MERAYAH” NEGARA LAIN

 

Presiden Soeharto Ketika Melantik 8 Dubes

 

Presiden mengucapkan selamat kepada Para Duta Besar Indonesia yang akan menempati posnya di masing-masing negara sahabat, seusai kepala negara melantiknya Rabu di Istana Negara

Presiden Soeharto menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak pernah berpikir untuk merayah dan mengganggu wilayah negara lain, karena politik luar negerinya bertitik tolak pada politik perdamaian, kerja sama dan pembangunan.

“Karena itu kita tidak pernah menyusun kekuatan untuk tujuan-tujuan seperti itu”, kata Presiden, pada upacara pelantikan 8 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara-negara tetangga di Istana Negara Jakarta, Rabu.

Delapan Dubes RI yang dilantik berdasarkan SK Presiden No. 41/86 tertanggal 5 Maret 1986 itu adalah Sajid Basoeki Sastrohartojo untuk Republik Pakyat Bulgaria, Rafly Rasad SH, (59) untuk Republik Socialis Cekosloskia, Pongky Soepardjo (59) untuk Republik Finlandia dan Abdullah Alwi Murtadho untuk Republik Moderat Irak.

Sedang Atmono Suryo MA (61) untuk Kerajaan Belgia dan Luxemburg, Mayjen – TNI (purn) Bagus Sumitro (59) untuk republik Papua Nugini dan Solomon. R. Achmad Djumiri (63) untuk Arab Mesir dan Sudan, dan Laksda TNI (purn). Haryono Nimpuno (65) untuk Spanyol.

Dikatakan Presiden, jika Indonesia merasa perlu memiliki Angkatan Bersenjata yang kuat, maka hal itu adalah wajar dan merupakan tanggung jawab dalam rangka memelihara martabatnya sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

“Telah berulang kali saya tegaskan, andalan kita dalam mempertahankan kemerdekaan nasional dan keutuhan bangsa adalah ketahanan nasional. Hal ini harus secara terpadu kita kembangkan terus menerus terutama dalam bidang-­bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan,” Ujarnya.

Dikatakan pula, untuk dapat melaksanakan pembangunan, jelas diperlukan perdamaian. Pembangunan tidak akan berjalan dalam suasana kacau dan tidak menentu, baik di dalam negeri sendiri, di kawasan sekitar maupun dunia.

“Karena itu kita perlu selalu mengambil bagian dalam setiap kegiatan yang dapat memperkuat perdamaian dunia.”

Usaha memperkuat perdamaian dunia itu, hanya akan mempunyai makna bagi umat manusia, jika usaha itu dibarengi dengan perjuangan untuk memerangi keterbelakangan dan kemiskinan.

“Karena itu usaha untuk memperkuat perdamaian dunia harus disertai dengan perjuangan untuk menjembatani ruang pemisah antara negara-negara maju dengan negara­negara yang sedang membangun,” kata Presiden.

Tidak Sepi Ujian

Pelaksanaan pembangunan menurut Kepala Negara, tidak akan sepi dari ujian, malahan tidak jarang ujian yang berat dan sulit.

Dari itu Presiden mengingatkan, segala kelegaan dan kegembiraan atas hasil pembangunan selama ini baru ada pada tahap awal dari keberhasilan jangka panjang, karenanya tidak boleh lengah danlekas berpuas diri.

Diingatkan, turunnya harga minyak bumi di pasaran dunia dalam waktu terakhir mengakibatkan turunnya penerimaan negara dan penerimaan devisa. Perkembangan ini tentu menimbulkan persoalan yang harus ditangani.

Juga disadari, untuk mengatasi situasi yang berat dan untuk memelihara gerak pembangunan, masih diperlukan aliran modal dari luar, tetapi ini juga mengandung berbagai risiko bagi perkembangan ekonomi selanjutnya.

“Walau demikian, kalau kita tetap waspada, maka resiko itu akan dapat diperkecil,” kata Presiden.

Presiden juga minta secara khusus, agar para Duta Besar yang baru saja dilantik ini terus berusaha sekuat tenaga untuk ikut mendorong aliran modal ke Indonesia serta meningkatkan ekspor non migas di samping memberikan perhatian dalam bidang tugasnya lain.

Tak Usah Didengar

Sementara, Pangab/Pangkopkamtib Jenderal L.B. Moerdani seusai pelantikan, ketika ditanya wartawan perihal munculnya pendapat di Australia bahwa Indonesia merupakan ancaman, mengatakan : “Tugas ABRI adalah menjaga kelangsungan pembangunan, bukan untuk menyerang negara manapun. Jadi, tak usah didengar, itu.”

Ketika dikemukakan bahwa kuping para wartawan Indonesia juga sakit mendengar suara-suara demikian, Pangab menukas : “Kalau sakit, tulis saja. Pers di sini kan bebas dan bertanggung jawab. Di sana bebas dan tidak bertanggung jawab.”

Menurut Jenderal L.B. Moerdani, kalau ada orang yang takut terhadap kekuatan Indonesia, maka yang ngomong itu jelas bukan tentara, tetapi memang sengaja untuk mengacau. (RA)

 

 

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (19/06/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 422-424.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: