Sep 142017
 

INDONESIA PERJUANGKAN KUOTA EKSPOR KOPI ICO

 

Jakarta, Antara

Indonesia akan terus berjuang agar memperoleh kuota ekspor kopi yang wajar, karena kuota yang sekarang hanya 4,6 persen dari seluruh kuota negara-negara anggota organisasi ICO. “Volume ekspor kita sekarang kurang dari separuh kemampuan ekspor yang sebenarnya,” kata Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Tanaman Keras, Ir. Hasjrul Harahap, kepada wartawan di Bina Graha Jakarta, setelah ia melapor kepada Presiden Soeharto.

Ekspor kopi Indonesia tahun 1985/86 berjumlah 5,3 juta karung (60 kg) dengan nilai 965 juta dolar AS, meningkat pesat dibanding tahun 1976/77 yang tercatat 2,1 juta karung dengan nilai 599 juta dolar.

Dari 5,3 juta karung volume ekspor tahun 1985/86, di antaranya 3,9 juta karung diekspor ke negara anggota ICO dan 1,3 juta karung kenegara bukan anggota.

Dalam rangka perjuangan memperoleh kuota yang lebih wajar, Menmuda Hasjrul Harahap akan memanfaatkan forum seminar kopi Robusta ke-2 di Bali yang akan berlangsung 1 sampai 6 Juni nanti.

Berdasarkan petunjuk Presiden, Harahap akan menjelaskan keadaan perkopian di Indonesia di mana sebagian besar komoditi itu dihasilkan oleh petani kecil sehingga penambahan kuota akan sangat berpengaruh pada penghasilan mereka.

“Dengan penjelasan itu nanti kita berharap peserta yang terdiri dari negara anggota ICO memahami keadaan kita dan menyetujui penambahan kuota bagi Indonesia,” kata Menmuda.

Dalam kaitan itu Presiden menekankan pentingnya peningkatan mutu kopi petani yang antara lain dapat dilakukan dengan pengeringan yang sempurna, pemetikan buah kopi yang sudah merah (matang) dan pengupasan yang baik.

Presiden telah memberikan sekitar 1.500 unit alat pengupas kopi (harnmermill) kepada sejurnlah kelompok tani kopi di berbagai daerah.

Bantuan Presiden itu, menurut Hasjrul Harahap, akan dilanjutkan untuk daerah penghasil kopi lain.

Dengan alat tersebut, kata Menmuda, terbukti kadar kopi yang rusak (pecah) berkurang dan ongkos pengupasan menurun dari rata-rata Rp 65 menjadi Rp 25 per kg. Satu unit alat tersebut dapat digunakan untuk kelompok tani yang memiliki 50 ha tanaman kopi.

Presiden mengungkapkan kemungkinan diperolehnya alat pengupas kopi itu dengan kredit perbankan apabila ada kelompok tani kopi lain yang memerlukan . “Harganya sekarang kira-kira Rp 1,5 juta per unit,” ujar Hasjrul Harahap. (LS)

 

 

Sumber: ANTARA (25/05/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 456-457.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: