Agu 022017
 

Presiden Menegaskan : INDONESIA MAMPU BAYAR KEMBALI HUTANG BESERTA BUNGANYA

Presiden Soeharto menegaskan kepada Michio Watanabe, Ketua Lembaga Persahabatan Parlemen Jepang dan Parlemen Indonesia, bahwa Indonesia mampu membayar kembali hutang-hutang beserta bunganya.

Namun Presiden menghimbau, pinjaman tersebut akan lebih baik jika tidak dikembalikan dulu, tetapi dapat dipinjamkan kembali. Sebab jika pinjaman itu tidak bisa dipinjam lagi, kemungkinan dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan pembangunan Indonesia.

Watanabe menerangkan hal itu, Rabu pagi di Bina Graha, selesai diterima Presiden Soeharto. Kepada para wartawan, lewat penterjemahnya, Watanabe menerangkan, Presiden minta agar, Pemerintah Jepang tetap membantu rakyat Indonesia, yang sedang membangun.

Jepang, kata Watanabe, akan membantu Indonesia dalam Repelita mendatang melalui IGGI. Bantuan Jepang lewat IGGI akan berjumlah 80 milyar yen, 26 prosen dari bantuan tersebut akan diberikan dalam bentuk rupiah.

Bantuan dalam bentuk rupiah, baru kali ini, diberikan oleh Pemerintah Jepang, kata Watanabe. Pesan Presiden, agar Pemerintah Jepang, terus membantu Indonesia, akan disampaikan oleh Watanabe kepada Pemerintah Jepang.

“Saya akan berusaha sekuat tenaga agar keinginan Indonesia ini bisa tercapai,” ujar Watanabe, menurut penterjemahnya.

Kebijaksanaan Pemerintah Jepang, dewasa ini, kata Watanabe, mengimpor sebanyak mungkin dari negara lain dan menanam modalnya sebanyak mungkin di negara lain. Tetapi pihak Pemerintah Jepang tentunya tidak bisa memaksa pihak swasta untuk juga berbuat demikian.

Baginya, juga para investor di Jepang, kenyataannya lebih, mengutamakan penanaman modal di Indonesia, karena alasan iklimnya yang cukup baik. Michio Watanabe adalah bekas Menteri Industri dan Perdagangan Luar Negeri. (RA)

 

 

Jakarta, Berita Buana

Sumber : BERITA BUANA (18/08/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 506-507.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: