Nov 072014
 

Ibu Tien, Melestarikan Warisan Arsitektur Rumah Nusantara

 

Ibu Negara Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien), selain aktif melakukan kerja-kerja kemanusiaan melalui beragam Yayasan Sosial, seperti “gerakan siaga bencana” Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, pembinaan anak-anak jalanan, pembinaan gelandangan (tuna wisma), membangun rumah sakit kanker, rumah sakit jantung, pengembangan Perpustakaan Nasional dan “Pusat Pelestarian Plasma Nutfah” Taman Buah Mekar Sari, juga banyak melakukan kerja-kerja kebudayaan. Salah satu kerja kebudayaan itu berupa pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai miniatur, sekaligus pelestari keragaman budaya Nusantara. Selain karya-karya tersebut, Ibu Tien juga melakukan upaya-upaya pelestarian warisan arsitektur bangunan Nusantara yang salah satunya berupa pembangunan Wisma Bali PURI JATI AYU di bawah naungan Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.
Ibu Briesina Soehardjo, adik kandung Presiden kedua Republik Indonesia HM Soeharto, menangkap dua pesan sederhana pada saat Ibu Tien membangun Wisma Bali Puri Jati Ayu.

“Rumah ini sebagai surprise untuk Bapak, Presiden Soeharto, dan tidak untuk di komersialkan”, ungkap Ibu Tien suatu ketika.

Presiden Soeharto bukan saja telah membawa Indonesia keluar dari negara miskin menjadi macan ekonomi baru, sebagaimana diakui Lee Kwan Yew, Perdana Menteri Singapura, namun juga mewariskan sistem pembangunan Indonesia yang sistematis, komprehensif, berkesinambungan. Dalam upayanya membangun Indonesia, Presiden Soeharto bukan saja menjaga dan melestarikan, namun juga mengelaborasi secara penuh akar kultural Nusantara dalam setiap denyut nadi pembangunan. Presiden Soeharto memandang warisan budaya merupakan sumber kepribadian bangsa. Ketika kepribadian bangsa itu tercerabut, sebuah bangsa akan menjadi bangsa yang lemah dan kehilangan daya dukung berupa pijakan spirit sebagai bangsa besar.
Indonesia memiliki banyak warisan karya arsitektur bangunan yang tercermin dari banyaknya ragam arsitektur rumah Nusantara dengan segala estetika dan filosofinya yang tersebar di semua pulau besar. Ada corak arsitektur rumah Jawa, Sunda, Madura, Bali, Minang, Melayu, Dayak, Toraja, Maluku dan Irian. Jika warisan arsitektur bangunan nusantara ini dielaborasi dalam pembangunan perumahan dan gedung-gedung publik, tentu akan menjadi keunikan tersendiri ketika siapapun menjejakkan kaki di setiap sudut wilayah Indonesia. Sayangnya, modernitas telah menggiring pembangunan perumahan dan bangunan-bangunan publik di Indonesia kedalam corak arsitekur yang kurang melindungi dan mengelaborasi kembali khasanah arsitektur bangunan yang dimiliki bangsa kita.

Puri Jati Ayu Tampak Depan

Puri Jati Ayu Tampak Depan

Ibu Tien membangun Puri Jati Ayu dengan mengelaborasi penuh corak arsitektur dan filosofi rumah Bali, tentu dapat dipahami dalam konteks pelestarian warisan arsitektur rumah Nusantara. Ibu Tien merupakan sosok yang tidak banyak bicara, namun membuktikannya dengan lebih banyak karya. Pesan sederhana sebagaimana dikemukakan kepada Ibu Briesina tentang pembangunan Puri Jati Ayu merupakan ungkapan syarat makna, sebagai buah ide yang dipersembahkan kepada suami, sekaligus Presiden Republik Indonesia kala itu, yang sangat menekankan perlunya pelestarian warisan kultural bangsa sendiri dalam pembangunan. Puri Jati Ayu merupakan contoh rumah keluarga yang dibangun berdasarkan corak arsitektur bangsa sendiri, yang dalam hal ini mengelaborasi arsitektur dan filosofi rumah Bali.
Wisma Bali (Puri Jati Ayu) terletak di area Museum Purna Bhakti Pertiwi, dibangun di atas keseluruhan luas lahan + 10.354 m2 dengan luas bangunan 4.410 m2. PURI JATI AYU memiliki bagian-bagian rumah yang terdiri dari KORI AGUNG, CANDI BENTAR, BALE KUL-KUL, CANOPY, BANGUNAN UTAMA, BANGUNAN PENUNJANG, BANGUNAN PELAYANAN dan ANGKUL-ANGKUL.
KORI AGUNG merupakan pintu gerbang yang fungsinya untuk menerima tamu Agung, terletak di bangunan depan tepat pada as (sumbu) bangunan utama dengan luas + 270 m2. Dilengkapi dengan pelataran untuk pelaksanaan sendratari atau tari-tarian pada saat penyambutan tamu dan upacara-upacara.
CANDI BENTAR berfungsi sebagai site entrance yang diapit oleh bangunan semacam candi terbelah dua sama besar, berjumlah dua buah, terletak di kanan dan kiri KORI AGUNG. BALE KUL-KUL merupakan bangunan kembar yang terletak pada bagian sudut-sudut depan site (bangunan Puri) dengan luas + 32 m2, yang secara tradisional dalam kultur Bali, berfungsi sebagai Pos Penjagaan sekaligus sebagai tempat untuk mengundang masyarakat dan menyampaikan pengumuman penting kepada masyarakat luas. CANOPY merupakan bangunan yang berfungsi sebagai bangunan penerima tamu sebelum memasuki bangunan utama. Luas bangunan ini + 49 m2.
BANGUNAN UTAMA terdiri dari 4 (empat) massa bangunan, yaitu Bangunan Utama Bagian Tengah, Bangunan Utama Bagian, dan Bangunan Utama Bagian Timur, merupakan bangunan berlantai 2 (dua). Sedangkan pada bagian belakang terdapat (Bangunan Ajudan) berlantai 1 (satu). Keseluruhan Bangunan Utama, mempunyai luas + 3954 m2. Bangunan Utama Bagian Tengah memiliki luas + 1.304 m2. Bangunan Utama lantai 1 (satu), terdiri dari hall (ruang tamu utama), ruang duduk dan ruang makan besar yang dapat berfungsi sebagai meeting room. Sedangkan Bangunan Utama lantai 2 (dua) terdiri dari ruang duduk, ruang kerja, ruang makan dan ruang tidur.
Bangunan Utama Bagian Barat memiliki luas + 1.122,50 m2. Bangunan Utama Bagian Barat lantai 1 (satu) terdiri dari Ruang Hobi, Ruang Perpustakaan, Ruang Koleksi dan 2 (dua) Kamar Putra-Putri. Masing-masing Kamar Putra-Putri terdapat satu buah master bedroom, living room, ruang makan dan dua kamar untuk cucu. Pola ruangan pada Bangunan Utama Bagian Barat lantai 2 (dua) terdiri dari 2 (dua) Kamar Putra-Putri, masing-masing terdapat satu buah Master Bedroom, living room, Ruang Makan dan dua kamar untuk cucu. Bangunan Utama Bagian Timur memiliki luas + 1.122,50 m2. Baik lantai 1 (satu) maupun lantai 2 (dua) Bangunan Utama Bagian Timur memiliki pola ruangan yang sama dengan pola ruangan Bangunan Utama Bagian Barat, yaitu terdapat 2 (dua) Kamar Putra-Putri, masing-masing terdapat satu buah Master Bedroom, Living Room, Ruang Makan dan dua kamar untuk cucu. Sedangkan Bangunan Bagian Belakang (Bangunan Ajudan) terdiri dari 1 (satu) lantai dengan luas + 405 m2 terdiri dari Ruang Duduk Ajudan, Ruang Operator, Ruang Tidur dan Ruang Dapur.
BANGUNAN PENUNJANG, terdiri dari 1 (satu) lantai massa bangunan dengan luas + 103 m2 yang di dalamnya terdapat Ruang Makan, Ruang Tidur Dan Ruang Pantry. BANGUNAN PELAYANAN terdiri dari 1 (satu) lantai massa bangunan dengan luas + 272 m2 yang di dalamnya terdapat Garasi Mobil (kapasitas 7 mobil), Ruang Makan, Ruang Duduk Pelayan, Ruang Ganti dan Gudang. ANGKUL-ANGKUL merupakan pintu belakang, sebagai jalan keluar masuk di bagian belakang dari bangunan beratap yang juga berfungsi sebagai jalur pelayanan.
ARSITEKTUR Puri Jati Ayu mencerminkan pola utama bentuk burung Garuda dengan sayap mengembang yang melambangkan kesetiaan, keyakinan dan ketangguhan (Puri Jati Ayu terdiri dari Bangunan Utama Bagian Tengah, Bangunan Utama Bagian Kanan (sayap bagian kanan), Bangunan Utama Bagian Timur (sayap bagian timur). Orientasi bangunan mengarah ke arah yang lebih tinggi (selatan) dan belakangnya mengarah ke arah laut (utara) sebagaimana filosofi bangunan-bangunan Rumah Bali pada umumnya, dengan menjadikan tinggi rendahnya geografi sebagai penunjuk arah. Area rumah bagian depan dipersonifikasikan sebagai kepala, pengarah, sekaligus berfungsi sebagai pintu masuk. Badan dipersonifikasikan sebagai wadah bersemayamnya jiwa, perlambang hubungan dengan sang pencipta. Area perut difungsikan sebagai tempat bersantap, sedangkan area sayap diperlambangkan sebagai daya pengembangan serta daya dorong.
Unsur-unsur penting dari bangunan Puri Jati Ayu meliputi Bentuk Atap, Pintu Masuk, Kolam Hias dengan Patung Bidadari, Tangga Menuju Pintu Utama, Tiang Utama, dan Patung Dewi Laksmi. Bentuk atap Puri Jati Ayu merupakan Atap Limasan Astalada, dilengkapi dengan hiasan atap Murda pada puncak, dan Ikut Celedu pada ujung jurai. Sebagaimana telah diuraikan di atas, pintu masuk area wisma terdiri dari Kori Agung, Candi Bentar dan Angkul-Angkul. Kori Agung berfungsi sebagai penangkap utama dan pengarah jalan masuk yang dilengkapi dengan plaza untuk kegiatan kesenian dan upacara. Candi Bentar mengapit kiri-kanan Kori Agung berfungsi sebagai pintu gerbang dan Angkul-Angkul merupakan gerbang belakang digunakan sebagai jalur servis (pelayanan).

Puri Jati Ayu Tampak Samping

Puri Jati Ayu Tampak Samping

Selasar menuju pintu utama diapit dua buah kolam hias dengan elemen-elemen terdiri dari Patung Bidadari dan sepasang Naga Besuki, melambangkan pembersihan hal-hal yang kurang baik (sebelum memasuki ruang utama). Pada tangga menuju pintu utama lantai II diapit sepasang Naga Anantaboga yang melambangkan Penjaga Bumi. Pusat bangunan terdapat tiang utama masing-masing 4 (empat) buah pada tiap lantai, yang melambangkan Astabrata, dengan setiap unsur digambarkan pada setiap ukiran tiang utama. Sedangkan pada bordes tangga utama terdapat patung Dewi Laksmi melambangkan sifat utama seorang Wanita/Ibu (pendidik, stabilizer). Patung ini menjadi pusat orientasi pada tata ruang dalam.
Tata ruang PURI JATI AYU, baik tata ruang luar dan tata ruang dalam, mengelaborasi filosofi rumah Bali secara lengkap. Tata ruang luar meliputi pagar, jalan, land scape, kolam renang dan kolam hias. Tata ruang dalam meliputi penataan komposisi furniture, ukir-ukiran dan material.
Pagar pada bagian depan dan sebagian ke arah belakang dipagari oleh pagar berornamen Bali, selanjutnya sampai dengan bagian belakang merupakan pagar biasa dari tiruan ornamen yang menjadi satu dengan pagar, antara lain Kori Agung beserta terasnya, Candi Bentar di kanan dan kiri Kori Agung dan Bale Kul Kul pada sudut-sudut site (Puri) bagian depan. Sedangkan pagar belakang menyatu dengan Angkul-angkul sebagai pintu bagian belakang Puri. Jalan berada di sekeliling bangunan utama, berupa jalan melingkar beraspal, sebagian dilengkapi dengan pedestrian berupa trotoar di bagian depan. Khusus jalan di bawah Canopy dilapis batu alam India.
Land scape terdiri dari soft scape dan hard scape. Soft scafe berupa pentaan tata ruang luar yang mendukung penampilan arsitektur bangunan. Pada daerah penerima, penataan disusun sebagai penunjang area formal, dengan keterbukaan-keterbukaan, simetri dan teratur. Penataan di daerah lainnya disusun secara non formal, sebagai penguat suasana serta fungsi lainnya didasari oleh konsep tradisional (rumah Bali). Di depan area hobby terdapat putting green, kolam renang, area sayuran dan buah-buahan. Sedangkan hard scape merupakan obyek-obyek tata ruang luar yang diperkaya dengan pagar pembatas dan pada area penerima utama ditempatkan Kori Agung sebagai eye catcher dan Candi Bentar sebagai pengarah jalan masuk. Plaza pada Kori Agung dapat dimanfaatkan sebagai panggung terbuka. Dua buah Bale Kul-Kul dielaborasi dari fungsi tradisionalnya sebagai menara pengintai, keamanan dan pengumuman kepada masyarakat. Selain itu juga terdapat kolam hias beserta patung-patung yang berornamen Bali dan kolam renang beserta ruang ganti yang dilengkapi pula oleh patung-patung bersuasana Bali.
Kolam renang berada di bagian belakang bangunan utama sebelah barat, mempunyai luas + 394 m2 dengan kedalaman 60 cm dan 150 cm, dilengkapi tempat berteduh dan bersantai serta ruang ganti dan shower. Sedangkan kolam hias sebanyak empat buah memiliki luas 170 m2 setiap kolam. Dua buah kolam hias ditempatkan di kanan dan kiri pintu utama bangunan dan dua kolam hias lainnya di tempatkan di belakang bangunan. Masing-masing kolam hias dilengkapi oleh Patung Dewi yang sedang menumpahkan air dari guci yang dipegangnya. Kolam hias bagian depan terdapat 4 (empat) patung Dewi dan 2 (dua) naga Basuki, sedangkan kolam hias bagian belakang terdapat 2 (dua) patung Dewi. Bagian dalam kolam di tanami tumbuhan air (Lotus), yang hidup diantara gemercik air tumpahan guci.
Pada tata ruang bagian dalam, furniture lepas dan terpasang disesuaikan dengan suasana Bali yang penuh dengan ukiran. Furniture terpasang itu antara lain Lemari (built-in) koef gorden, mega mendung dan lain-lain. Sedangkan furniture lepas terdiri dari meja kursi, lemari lepas dan lain-lain.
Ukir-ukiran yang paling menonjol ditempatkan pada pintu railing tangga utama, soko guru dan kaca etza. Khusus Soko Guru menggambarkan Asta Brata yang mencerminkan cerita Ramayana, sedangkan Kaca Etza menceritakan Arjuna Wiwaha. Hal paling spesifik, mengingat Presiden Soeharto dan Ibu Tien seorang muslim, adalah adanya ukiran kaligrafi pada lemari yang ada di Musholla, berupa tampilan Surat Al-Baqoroh, Al-Maidah, Al-Ankabut, Al-Fatehah dan Al-Ikhlas.
Material pendukung keindahan ruang (interior) dan material penunjang di dasarkan pada pilihan dan komposisi yang seimbang. Ruang lantai dasar pada umumnya berlantai marmer, lantai atas digunakan karpet. Demikian juga untuk kelengkapan toilet ditentukan desain-desain khusus sanitair, keramik dan asesorisnya. Khusus untuk ruang toilet VIP dinding-dinding menggunakan batu onix dengan tata cahaya yang disesuaikan. Kecanggihan teknologi juga diadopsi untuk mendukung kesempurnaan fungsi rumah secara keseluruhan, misalnya CCTV, AMTV, Telephone PABK, speaker dalam air sampai dengan remote tirai pada ruang balkon. Demikian juga dengan pengkondisian udara (AC) dan sistem ventilasi digunakan untuk seluruh ruangan. Khusus untuk ruang-ruang pada bangunan penunjang dan pelayanan hanya menggunakan ventilasi alam (cross ventilation).
Secara umum, Puri Jati Ayu didesain atas dasar corak arsitektur dan filosofi rumah Bali secara lengkap sebagai rumah keluarga (family house), yang ditempati oleh orang tua, anak-anak dan cucu-cucu, beserta bangunan penunjangnya. Rumah ini dibangun oleh para arsitek asal Bali, yaitu Ir. I Gusti Bagus Oka sekaligus sebagai pematung, Ir. Ida Bagus Suniaputra, dan Ir. Ida Bagus Alita, sebagaimana catatan risalah rapat di Hotel Grand Mirage Jakarta tanggal 3 s/d 4 Juni 1996. Pada tanggal 30 Oktober 1996, diselenggarakan selamatan sesuai tata cara dan adat istiadat Bali sebagai tanda selesainya pembangunan Puri Jati Ayu. Selamatan tersebut dilakukan dengan rangkaian: 1. Mecaru Rsi Gana, yang bertujuan memendam aling-aling (penghalang) sesuai petunjuk Pendeta Bali, 2. Upacara memakuh seluruh bangunan, yaitu menyatukan seluruh tanah dengan kawasan lingkungan di sekitarnya, yang juga dihuni oleh manusia, sehingga diharpkan tercipta harmoni dan lestari. 3. Upacara Memelaspas/pembersihan seluruh bangunan, yaitu setelah disatukan dengan lingkungan sekitar kemudian dibersihkan dari anasir-anasir negatif sehingga pada bangunan, tanah serta penghuninya menjadi lestari dan damai.
Ibu Negara Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto dikenal teliti, cermat, detail dan hati-hati dalam semua hal, termasuk dalam mewujudkan gagasannya membangun rumah keluarga bercorak arsitektur nusantara yang dalam hal ini dipilihnya rumah Bali.

Meskipun Puri Jati Ayu di desain sebagai rumah keluarga, dengan mengandaikannya sebagai rumah keluarga besar Presiden Soeharto, namun fungsinya lebih kepada pelestarian warisan arsitektur rumah nusantara. Oleh karena itu pengelolaan Puri Jati Ayu berada di bawah naungan Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.

Semoga buah gagasan Ibu Tien menginspirasi sekaligus memotivasi kita semua untuk melestarikan warisan-warisan arsitektur bangunan nusantara di setiap wilayah Indonesia. Merupakan keindahan tersendiri ketika kaki kita menjejak setiap sudut Indonesia, akan disuguhkan kekayaan arsitektur nusantara yang tak ternilai secara budaya. (AFR)

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: