HM Soeharto dalam berita

IBU KARTOWIYONO TERKESAN PIDATO PRESIDEN

IBU KARTOWIYONO TERKESAN PIDATO PRESIDEN [1]

 

Jakarta, Berita Yudha

Barn kali ini saya mendengarkan pidato seorang presiden mengenai pengisian perjuangan wanita Indonesia yang dicetuskan 49 tahun yl pada Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta 22 Desember 1928 yang kini dirayakan setiap tahun sebagai Hari lbu.

Pernyataan yang penuh tulus ikhlas itu disampaikan oleh seorang tokoh pada Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, Ibu Soejatin Kartowijono (71 th), bekas Ketua Umum KOWANI yang pertama, pendiri PERWARl dan Wakil Ketua Kongres Perempuan Indonesia yang pertama menyatakan, lsi Pidato Presiden Soeharto itu sangat mengharukannya. Sungguhpun dalam proses sejarah pergerakan wanita Indonesia dalam turut memerdekakan negeri ini dan turut mengisi kemerdekaan baru sekarang ini ia melihat keinginan politik pemerintah untuk membangun wanita Indonesia.

Dalam REPELITA III nanti pembangunan itu akan dipertegas lagi. Dan yang lebih penting lagi dalam Naskah GBHN yang diajukan Kepala Negara kepada MPR supaya ditegaskan lagi mengenai peranan wanita dalam GBHN, sebagai suatu yang perlu sekali.

Persoalan sekarang ini bagaimana Angkatan Muda baik itu pria atau pun wanita dapat membentuk satu keluarga yang baik. Sungguhpun sudah ada UU Perkawinan menurut Ibu S. Kartowijono hal itu belum cukup, karena pembangunan materiil yang dijalankan sekarang itu, perlu diisi lagi dengan pembangunan keluarga.

Pembangunan keluarga itu sebagaimana adanya keinginan politik pemerintah adalah karena adanya situasi dan kondisi yang memungkinkan. Keberanian Presiden Soeharto untuk membangun wanita itu sangat terpuji dan perlu didukung oleh segenap kaum wanita Indonesia. Karena kemauan Presiden itu logis dan layak dan ini akan dipertegasnya lagi dalam GBHN yang akan datang.

Peranan Pemerintah

Ibu S. Kartowijono seorang pejuang wanita Indonesia menerangkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan pada tahun 1945 wanita2 Indonesia sudah berjuang bahu membahu dengan kaum pria.

Dikatakannya setelah kongres pertama KOWANI di Madiun 1946 dibentuklah satu badan perjuangan wanita yang bekerjasama dengan istansi2 pemerintahan pada waktu itu dan dalam hal ini ia sangat terkesan bagaimana hubungan erat antara Panglima Besar ABRI Jenderal Soedirman dengan kaum wanita.

Ibu S. Kartowijono mengatakan setiap waktu ada tantangan. Sebagaimana dalam pidato kepala negara itu dikemukakan tantangan jaman itu perlu dihadapi oleh generasi yang bersangkutan.

“Dalam usia yang sekarang iniyaitu 71 tahun saya secara physik tidak mungkin banyak bergerak seperti kaum muda lainnya. Namun pikiran dan jiwa saya selalu kepada pembangunan. Saya tidak pernah bersikap apriori terhadap Pemerintah. Karena bagaimanapun juga, pemerintah kita perlukan dalam mengisi perjuangan wanita itu,” ujar tokoh wanita itu dalam suatu percakapan di rumahnya Jalan Palbatu II, Tebet, Jakarta.

Dikemukakannya, pembangunan materil belum cukup. Kita masih perlu mengisi pembangunan keluarga yang sejahtera itu secara total baik dalam pembangunan gizi bagi perkembangan physik generasi terutama sampai usia 12 tahun. Dan pembangunan pendidikan dan wanita. Sebab wanita merupakan tumpuan dan harapan bagi berhasilnya pembangunan di segala bidang itu.

Ketika berkunjung ke AS pada tahun 1957, Ibu S. Kartowijono tertarik pada usaha2 suatu perusahaan asuransi yang membantu usaha2 keluarga.

Dan mereka yang masuk dalam Asuransi ini akan mendapatkan jaminan pada usia tertentu memperoleh perumahan yang layak. Dan ini bisa dicontoh oleh Indonesia.

Dengan adanya Pidato Presiden pada Peringatan Hari lbu itu, maka saya melihat pohon terang untuk masa depan kita.

“Saya mendambakan agar pemuda2 dan pemudi2 Indonesia tidak lagi menumpang pada keluarga setelah ia menikah. Ini dapat dilenyapkan kalau ada perencanaan pembangunan sebagaimana keinginan politik pemerintah itu”, kata Ny. S. Kartowijono menegaskan. (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (23/12/1977)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 612-614.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.