HTI 1 JUTA HA DI MALAYSIA

HTI 1 JUTA HA DI MALAYSIA[1]

 

Jakarta, Business News

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad meminta kepada Barito untuk menggarap proyek HTI (Rutan Tanaman Industri) di kawasan hutan negeri tersebut. Luas pembangunan  HTI menurut Sanjoto Sastrowardojo ditetapkan 1 juta ha. Mahathir menjanjikan penggunaan tenaga kerja Indonesia dalam pembangunan HTI di Malaysia.

Pembangunan HTI di Malaysia sekitar 1 juta ha tidak bisa di satu lokasi sehingga harus terpencar-pencar. Tiap unit kegiatan proyek HTI ini dengan ketetapan luas antara 100.000 – 150.000 ha. Presiden Soeharto yang mendengar laporan tersebut mengemukakan, untuk pembangunan HTI-Pulp mungkin cukup dengan areal 150.000 ha untuk pulp-mil l500.000 ton per tahun. Tenaga kerja yang akan diserap oleh pembangunan HTI seluas itu sekitar 10.000 orang. Gaji yang diterima tenaga kerja kita ini akan jauh lebih besar dibanding yang diterima di Indonesia, yang menurut Meninves bisa mencapai 50 Ringgit atau Rp 40.000,- per hari.

Bila harga saham 10 Ringgit Malaysia maka diperoleh 5,3 miliar Ringgit atau sekitar US$ 2,1 miliar atau Rp 4,6 triliun. Namun jika harga jualnya mencapai 15 Ringgit per saham akan 7,9 miliar Ringgit atau US$ 3,2 miliar yang berarti sekitar Rp 6,9 triliun. Jadi pendapatan Barito Group itu tergantung harga saham di KLSE.

Tanggal 23 Juni pagi diterima laporan bahwa harga saham di KLSE mencapai 11 Ringgit per saham. Dengan harga jual tersebut sudah bisa diperoleh penerimaan US$ 2,2 miliar. Selanjutnya hasil-hasil penjualan saham di KLSE ini akan dibawa ke Indo­nesia sebagai “dana segar”. Dana itu lebih lanjut akan dimanfaatkan untuk membiayai proyek-proyek investasi Barito Group. Itu merupakan salah satu kegiatan mobilisasi dana investasi. Menurut Sanjoto, harga per saham memang bisa berkisar antara 10-15 Ringgit atau bahkan bisa lebih, tergantung perkembangan pasarnya. Sebelum perundingan kerjasama dimulai, harga penjualan saham CASH itu 2 Ringgit. Begitu mendengar bahwa Barito mau menginjeksi aset-aset di Malaysia yang antara lain di Serawak.juga di Papua Nugini, dan industri yang ada di Sianghay (RRC), maka harga saham lalu melonjak dari 2 Ringgit menjadi 7,95 ringgit per saham. Hari berikut (9-6-1994) setelah perjanjian kerjasama alih-saham maka harga per saham yang 7,95 Ringgit naik menjadi 11 Ringgit.

Sumber :BUSINESS NEWS (24/06/1994)

_____________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 499-500.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.