Jul 062017
 

HINDARI TERJADINYA BAYI-BAYI TERLANTAR

PESAN PRESIDEN :

Presiden Soeharto menghimbau para pemuka masyarakat, para tokoh agama dan para orang tua, agar lebih ikut menanggulangi terjadinya bayi-bayi terlantar.

Demikian dijelaskan oleh Menko Kesra H. Alamsyah Ratuperwiranegara, Sabtu pagi, di Jalan Cendana, selesai diterima Presiden.

Masalah bayi terlantar, menurut Alamsyah, kini telah menjadi masalah nasional. Di Jakarta saja, kini dijumpai tidak kurang 1000 bayi terlantar. Terpaksa ditampung oleh berbagai Instansi Pemerintah maupun swasta. Para bayi malang itu, katanya ditemukan di berbagai tempat oleh orang tuanya yang tak bertanggung jawab.

Misalnya ditemukan di rumah sakit, rumah bersalin atau dari panti-panti asuhan, kata Alamsyah. Umumnya, para orok tak berdosa itu, lahir dari hubungan gelap alias di luar perkawinan.

"Kejadian itu, akibat kurangnya kesadaran moral dan agama", ujar Haji Alamsyah, dengan nada haru. Oleh sebab itu, masalah ini menjadi masalah masyarakat kita sekarang.

"Para orang tua juga ikut bersalah", ucap Alamsyah lagi. Karena kurang mengontrol putra-putri mereka. Hubungan intim mereka dengan lawan jenisnya, melahirkan bayi yang tidak diinginkan.

Presiden sangat prihatin mendengar laporan ini, kata Menko Kesra itu. "Beranak itu jangan dianggap enteng", ujarnya lagi, mengutip kata-kata Presiden.

Untuk tahap awal ini, Pemerintah terpaksa ikut mengurusi para bayi malang itu. Pemerintah cukup paham. Tetapi untuk jangka panjang, hal itu tidak boleh dibiasakan.

Sebab, kalau selalu ditampung Pemerintah, mereka yang tak bertanggung jawab akan menjadi-jadi. Karena merasa, bayi mereka yang akan lahir, toh akan ditampung Pemerintah.

Itu lah sebabnya, Presiden benar-benar minta kesadaran masyarakat luas untuk ikut menanggulangi masalah ini. Paling tidak mengurangi.

Antara lain caranya? ”Dengan gotong royong, mengambil anak itu sebagai anak angkat. Atau menjadi bapak angkatnya secara tidak langsung, dengan memberikan bantuan uang tiap bulan atau uang santunan.”

Himbauan itu dinilainya sangat penting, kata Alamsyah, mengingat manusia­manusia kecil yang masih lembut dan lemah itu, tidak berdosa, bahkan masih sangat suci. Yang berdosa, orang tua mereka. (RA)

Jakarta, Berita Buana

Sumber : BERITA BUANA (1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 500-501.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: