Jun 142017
 

HARYONO SUYONO : BINTANG INI HANYA DITITIPKAN KEPADA SAYA ……

Bintang ini hanya dititipkan kepada saya, pemiliknya adalah kita semua, termasuk para akseptor di seluruh Indonesia, demikian diucapkan Dr. Haryono Suyono, Deputi Bidang KB BKKBN, salah seorang penerima Bintang Mahaputera Utama 1982, di hadapan Menteri Kesehatan/Kepala BKKBN dr. Suwardjono Suryaningrat dan Nyonya serta para pejabat I, II dan III BKKBN Pusat Sabtu siang.

Dengan suara serak, tertahan-tahan karena harunya, penerima Bintang Mahaputra Utama ini menyatakan lebih lanjut, agar semua kita sama-sama mempertahankan penghargaan ini.

Haryono Suyono yang memasuki markas BKKBN sejak 1973, termasuk laki­laki yang berperawakan kecil. Selalu tampak segar dan dinamis. Murah senyum dan tawa. Waktunya hampir 90% tersita untuk tugas-tugasnya sebagai seorang pejabat teras BKKBN Pusat. Nyaris tidak ada waktu luang buat bersantai-santai dengan keluarga, seorang isteri dan ke empat anaknya.

Dimana saja dan kapan saja, Mahaputera Utama ini mampu berbicara berjam-jam tentang Kependudukan dan Keluarga Berencana tanpa teks. Menjawab berbagai pertanyaan tanpa ragu-ragu.

Karier tokoh asal desa Pacitan ini cukup berliku2. Banyak orang menduga ia seorang doktor medis. Padahal bukan. Haryono Suyono adalah seorang doktor sosiologi dari Universitas Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Hanya dalam tempo 2 tahun 3 bulan gelar PhD (doktor) itu dapat diraihnya.

Sebelum dikirim ke Amerika Serikat, Haryono Suyono bekera pada Biro Pusat Statistik (BPS) karena ia memang lulusan Akademi Statistik Di BPS ini.

Ia sempat menjadi Kepala Bagian Konsultasi merangkap Humas dari sinilah namanya mulai sering muncul dari berbagai mass media tulisannya yang menganalisa berbagai masalah, yang tentu saja memanfaatkan data-data yang ada pada BPS. (RA)

Jakarta, Berita Buana

Sumber : BERITA BUANA (16/08/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1155-1156.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: