Harsono Tjokroaminoto: Pak Harto, Selalu Ditandai Kearifan

Selalu Ditandai Oleh Kearifan

Harsono Tjokroaminoto (Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara Kabinet Pembangunan I, dan Anggota P-7

Waktu saya diundang ke Istana dalam rangka Hari Kemerdekaan tahun 1989, kebetulan saya mendapat kehormatan duduk satu meja dengan Pak Harto, Bu Harto dan beberapa tokoh lainnya. Beliau antara lain berkata:

“Pertama kali saya kenal Pak Harsono adalah pada waktu Pak Harsono menjadi, kalau tidak Menteri Muda Kesehatan, ya Wakil Perdana Menteri.”

Saya masih ingat pertemuan tersebut, tetapi ketika itu saya bukan Menteri Muda Kesehatan atau Wakil Perdana Menteri, melainkan Menteri Muda Pertahanan. Waktu itu saya mengantar seorang tamu dari Mesir. Saya bertiga dengan Sri Sultan ke Solo, berkunjung ke rumah sakit Dr. Soeharso, yaitu rumah sakit yang merawat mereka yang patah tulang dan sebagainya. Saya ingat waktu di mobil, tamu itu duduk di tengah, Sri Sultan di kanan, sedangkan saya di kiri. Menurut Pak Harto, di Solo itulah beliau pertama kali kenal dengan saya.
Namun saya juga ingat bertemu dengan Pak Harto di Yogyakarta pada tahun 1949 ketika Panglima Besar Jenderal Sudirman baru saja kembali dari gerilya. Ketika itu Pak Harto masih berpangkat letnan kolonel. Saya kira sebaiknya saya mulai kisah perkenalan saya dengan Letkol. Soeharto itu, dengan cerita tentang hubungan saya dengan Pak Dirman, sebagai latar belakang dari perkenalan saya dengan Pak Harto.
Hubungan saya dengan Pak Dirman tidak hanya ketika perang gerilya saja, namun jauh sebelum itu, yakni pada zaman Belanda. Waktu itu Pak Dirman bertugas sebagai guru sekolah Muhammadiyah di Cilacap, sedangkan saya adalah pengawas sekolah-sekolah SI (Syarikat Islam) di tempat yang sama. Karena kedua organisasi ini adalah organisasi Islam, maka secara otomatis hubungan kami akrab sekali. Hubungan kami yang akrab pada tahun 1938 itulah yang dilanjutkan pada zaman merdeka.
Ketika Pak Dirman menjadi Panglima Besar Tentara Indonesia, dan saya pada tahun 1946 duduk dalam Kabinet Sjahrir ke-3 sebagai Menteri Muda Pertahanan, kami berada seakan-akan dalam satu level. Ketika Pak Dirman memutuskan untuk bergerilya di luar kota, saya sudah tidak lagi duduk dalam kabinet. Akan tetapi Pak Dirman masih memerlukan, lewat Pak Soepardjo Roestam, menelepon saya ke rumah supaya saya ikut dengan beliau. Sebagai mantan Menteri Muda Pertahanan, saya duduk dalam badan yang dulu itu disebut Kabinet Panglima Besar, sebagai penasehat bidang politik. Dengan demikian dapat dimengerti kalau saya diajak Pak Dirman untuk bergerilya selama tujuh bulan.
Pulang dari bergerilya, bagi kami disediakan rumah di Jalan Widoro di Yogya; rumah yang besar untuk Panglima Besar dan rumah yang di depannya untuk saya. Walaupun rumah Pak Dirman itu lebih besar, namun tidak ada ruangan untuk para ajudan. Sedangkan rumah yang saya tempati mempunyai garasi yang cukup besar, sehingga para ajudan dan staf panglima besar menginap di garasi saya. Antara lain yang ikut menginap di sana adalah Tjokropranolo, komandan pengawalan kami waktu bergerilya, dan Soepardjo Roestam, ajudan Pak Dirman.
Pada waktu itu dalam pergaulan tidak ada perbedaan perlakuan dan pandangan terhadap satu sama lain. Misalnya, kalau Soepardjo yang pada waktu itu berpangkat letnan menghadap kepada yang lebih tinggi, umpamanya kepada Pak Harto yang berpangkat letnan kolonel, ya biasa-biasa saja; karena mereka merasa sama-sama untuk revolusi, jadi seakan-akan tidak ada perbedaan. Dari kenyataan ini dapat pula dilihat bagaimana hebatnya kewibawaan dan kepemimpinan Panglima Besar.
Ketika pulang dari bergerilya Pak Dirman sudah sakit, karena sewaktu akan bergerilya itu beliau baru saja menjalani operasi, dimana salah satu paru-paru beliau dipotong. Pada akhirnya Pak Dirman wafat, dan dikebumikan di pemakaman Semaki yang terletak tidak jauh dari Jalan Widoro. Karena zaman itu adalah zaman revolusi, maka keranda jenazahnya memakai kincir. Kalau menurut ajaran Islam maka diatas kincir itu harus dibuat lubang. Saya mendapat laporan bahwa kincir keranda jenazah pak Dirman itu tidak diberi lubang. Lalu saya panggil dan kumpulkan para ajudan Pak Dirman dan para perwira lainnya. Diantara mereka terdapat Letkol. Soeharto, Kapten Suprapto (yang kemudian dibunuh G-30-S/PKI), Tjokropranolo, Soepardjo Roestam dan lain-lain. Kepada mereka saya minta agar di keranda Pak Dirman itu diberi lubang.
Perkenalan selanjutnya adalah ketika Pak Harto telah menjadi Komandan Divisi Diponegoro di Jawa Tengah; perkenalan ini bersifat agak resmi. Peristiwanya begini. Pada tahun 1955 di Solo dibentuk sebuah universitas yang bernama Universitas Tjokroaminoto, dengan mendapat pengesahan dari Presiden Soekarno. Oleh para sesepuh di Solo saya ditunjuk sebagai Presiden (sekarang: Rektor) universitas itu. Ketika diadakan Dies Natalis pada tahun 1958, saya minta sumbangan pemikiran dari Kolonel Soeharto sebagai Panglima Divisi Diponegoro.
Sumbangan yang diberikan Kolonel Soeharto ketika itu cukup penting, dan mungkin dipakai sebagai latarbelakang bagi pemikiran beliau di kemudian hari, terutama setelah beliau menjadi Presiden Republik Indonesia. Karena sambutan itu tidak begitu panjang namun cukup padat, maka saya kira tidak ada salahnya kalau dimuat kembali secara utuh dalam kesempatan ini.
Didalam sambutan itu Pak Harto mengemukakan sebagai berikut:

“Dengan mengucap syukur Alhamdulillah saya merasa gembira dapat turut serta merayakan ulang tahun ketiga Universitas Tjokroaminoto Surakarta. Dengan senang hati pula saya penuhi permintaan Saudara Sekretaris Universitas untuk memberikan sepatah dua patah kata sambutan dalam buku peringatan ‘Tri Warsa’ ini.
Usia tiga tahun bagi pertumbuhan sesuatu universitas adalah masih muda sekali, belum dapat menghasilkan buahnya. Namun demikian pacta Universitas Tjokroaminoto kita lihat kesuburannya. Dari permulaannya yang boleh dikatakan serba tiada perlengkapan, dan hanya berbekalkan kemauan yang keras dan cita-cita yang diyakininya, kini telah mencapai kemajuan yang pesat. Jumlah mahasiswanya semakin bertambah banyak, yang berarti berbiaknya kuncup-kuncup sarjana pada pohon Universitas ini. Cabang-cabangnya juga semakin meluas. Ini adalah suatu harapan yang menggembirakan buat masa depan Negara kita. Sungguh saya hargai jasa-jasa para pengasuhnya dan para pemupuknya, yang walaupun menghadapi berbagai kesulitan dan godaan zaman, pantang mundur dalam usahimya mencapai kemajuan. Berkat keuletannya itulah Universitas Tjokroaminoto kini tegak berdiri disamping universitas-universitas lainnya, merupakan bangunan dapur otak nasional, yang bukan saja menghasilkan otak-otak inteligensia, tetapi juga membentuk kepribadian manusia-manusia susila di dalam rumah kemerdekaan kita.
Negara kita kini tengah membangun dan sedang dengan hebatnya melaksanakan rencana lima tahun. Tingkat perjuangan kita dewasa ini tidak cukup hanya dipenuhi dengan manpower saja, akan tetapi juga memerlukan keseimbangan brain. Kita harus mengejar kemajuan ilmu pengetahuan, karena dalam hal ini kita masih jauh ketinggalan, terutama sekali dalam pengetahuan tehnik. Belum lagi pengetahuan elektronis dikenal luas oleh masyarakat kita, maka telah disusul lagi oleh khasiat atom. Belum lagi kita dapat memahami dan menguasai khasiat atom ini sedalam-dalamnya, maka kita sudah dikejutkan lagi dengan munculnya Sputnik, Explorer dan Vanguard yang mempunyai kemampuan untuk menerobos ruang angkasa dan mencoba mencapai planet lain.
Titik harapan kita dalam perlombaan ilmu pengetahuan alam, dalam arti kata dapat menguasainya untuk peri kehidupan dalam zaman-zaman berikutnya, adalah terpusatkan pada universitas-universitas kita. Kalah atau menang, setidak-tidaknya dapat membandingi setaraf dengan kemajuan teknik sekarang ini, adalah tergantung pada berhasil atau tidaknya generasi-generasi kita sekarang lulus pada universitas-universitas ataupun akademi dalam berbagai bidang ilmu.
Tanggungjawab masa depan Negara kita tidak hanya bergantung pada generasi muda atau para mahasiswa sekarang, akan tetapi juga terletak di pundak para mahaguru, pimpinan universitas dan para orang tua. Maka pacta kesempatan ini, dalam memperingati Tri Warsa Universitas Tjokroaminoto, saya berharap:
Hendaknya para mahasiswa dan para mahaguru serta para orang tua menyadari tanggungjawab atas hari kemudian Negara kita, dan menjalankan kewajibannya masing-masing dengan pengertian yang selaras. Kekurangan dalam materi hendaknya jangan menjadi halangan bagi kemajuan universitas. Dengan segala daya upaya dan kemampuan yang ada, kejarlah lajunya ilmu pengetahuan. Itulah harapan saya.
Akhirnya saya ucapkan: ‘Selamat dan Sukses’.”

Dari sambutan beliau yang tidak begitu panjang tetapi padat berisi itu telah kelihatan bagaimana jauhnya pandangan beliau ke depan, meskipun tentu saja ketika itu belum dapat diramalkan bahwa beliau pada suatu hari nanti akan menjadi Presiden kita yang kedua.
Mengenai hubungan saya selanjutnya secara pribadi dengan Pak Harto, semenjak dari awal revolusi, terutama didalam Angkatan Bersenjata, sampai sekarang ini ketika beliau telah menjadi Presiden, rasanya masih tetap sama saja. Kalau ketemu kami masih berkelakar, masih ketawa-ketawa, tidak seperti kalau bertemu dengan seorang presiden layaknya. Jadi masih seperti dahulu saja. Walaupun sekarang ini saya tidak memiliki jabatan apa-apa, beliau tetap menganggap saya sebagai seorang tua, sebagai sesepuh.
Sampai sekarang saya masih bertemu dengan beliau rata-rata sebulan sekali untuk sowan. Didalam pertemuan itu tidak terdapat kesan seorang presiden bertemu dengan anak buahnya. Ya seperti dahulu saja, santai, rileks, seenaknya. Hubungan antara seorang tua dengan seorang yang lebih muda, sampai sekarang tidak pernah berubah, baik di Bina Graha atau di Cendana. Apalagi kalau pertemuan itu dihadiri oleh Pak Roeslan Abdulgani atau Pak Jatikusumo, karena kedua beliau itu jauh lebih sepuh dari Pak Harto.
Ketika saya memohon kehadiran Presiden dan Bu Tien untuk memberikan doa restu ada perkawinan anak-anak saya, maka beliau selalu hadir. Kalau saya so wan ke Cendana, ya biasa-biasa saja. Saya katakan kepada beliau:
“Maaf Pak Harto! Rumah saya sekarang di kampung, di Cempaka Putih, tidak di Jalan Diponegoro lagi”. Lalu Presiden menjawab: “Ah! Tidak usah rikuh! Saya baru kemarin juga ke kampung situ”.
Kedatangan Presiden ke tempat saya itu juga ada berkahnya. Dulu waktu saya mantu yang kedua, lima tahun yang lalu, kondisi jalan di sana masih amat menyedihkan. Setelah Presiden datang, jalan itu diaspal dan sampah-sampahnya juga dibersihkan. Dan tamu-tamu saya yang hadir di situ tidak merasakan kehadiran itu sebagai kehadiran Kepala Negara, akan tetapi biasa-biasa saja. Mungkin di situ letak magisnya Pak Harto.
Dari segi kepemimpinan, baik pemimpin kabinet maupun sebagai kepala negara, terlihat sekali bahwa bobot kepemimpinan Pak Harto sangat menonjol. Hal ini jelas sekali terlihat dalam langkah-langkah penumpasan PKI. Kalau penumpasan PKI dilakukan oleh orang yang lain dari Pak Harto, barangkali sejarah Indonesia akan berbeda jadinya. Pemberontakan PKI bisa dihapus karena kearifan kepemimpinan Soeharto. Ini kemudian membawa suatu pantulan yang merupakan bobot leadership Soeharto, baik sebagai kepala kabinet maupun sebagai kepala pemerintahan, dimana leadership Pak Harto itu selalu ditandai oleh kearifan. Dari sini kelihatan bahwa beliau itu adalah pemimpin negarawan. Beliau memiliki statesmanship (kenegarawanan), sehingga memenuhi persyaratan baik sebagai kepala negara maupun sebagai kepala pemerintahan.
Suatu aspek kepemimpinan yang sering terlihat pada diri seorang kepala kabinet atau seorang kepala negara adalah dalam hal memberikan perintah kepada bawahan atau pembantu-pembantunya. Hal ini sama sekali tidak tampak pada diri Presiden Soeharto. Langgam Pak Harto dalam memimpin kabinet itu seolah-olah penuh kepercayaan kepada para pembantunya. Mereka itu tidak perlu lagi setiap waktu diberi petunjuk, diberi perintah atau pengarahan, apalagi dimarahi. Menurut kesan saya Pak Harto tidak pernah marah. Selama bergaul dengan saya beliau tidak pernah marah. Kalau pun marah, maka ucapannya hanyalah menyindir. Ini berbeda sekali dengan Bung Karno yang dapat marah dengan hebat sekaii.
Sifat dan watak Pak Harto itu juga tidak ingin mencela orang lain. Misalnya dalam hal pemerintahan, beliau tidak ingin mencela. Ini bisa disimpulkan dari segi positif atau negatif. Segi negatifnya ada, yaitu para pembantu beliau tidak tahu kesalahan mereka, karena tidak mendapat teguran. Dan memang umumnya Soeharto merupakan pribadi yang pemalu, tidak tegaan. Didalam pergaulan baik pribadi maupun dalam kabinet, watak itulah yang paling menonjol. Akibatnya kalau kita baca bacaan dari luar negeri, maka salah satu kritik yang kita temui adalah bahwa Soeharto itu tidak open (perhatian). Sekali lagi saya katakan bahwa Pak Harto itu kejawennya kuat. Karena kejawennya kuat, maka untuk menegur saja rasanya rikuh, apalagi memarahi.
Karena itu ada orang yang berpendapat bahwa Pak. Harto orangnya tertutup. Saya dapat mengatakan bahwa ketertutupan Pak Harto itu justru merupakan kekuatan beliau dari segi politik. Hal ini sedikit banyak diungkapkan juga dalam buku otobiografi beliau. Banyak orang yang mengira bahwa Pak Harto itu bergantung kepada orang-orang tertentu, misalnya dahulu padaAli Murtopo dan lain-lain. Ternyata ini tidak benar. Banyak orang yang mengira bahwa beliau itu tidak tahu apa-apa. Padahal bukan begitu kenyataannya.
Dalam hal ini saya mempunyai pengalaman yang tidak akan dapat saya lupakan. Pada tahun 1972, Pak Harto berkunjung ke lima negara Eropa, termasuk Swiss. Saya ketika itu menjadi Dubes di Swiss. Diantara acara beliau adalah berpidato di depan masyarakat Indonesia di sana. Pidato Pak Harto itu adalah mengenai politik ekonomi, yang diucapkan tanpa teks. Pidato itu adalah demikian hebatnya, sehingga Duta Besar kita untuk Argentina dan PBB, almarhum Ismail Thayeb, menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum. Beliau mengungkapkan Pelita demi Pelita. Pidato itu betul­-betul memperlihatkan bagaimana hebatnya brain Pak Harto.

***

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.