HARAPAN HIDUP RAKYAT INDONESIA MAKIN PANJANG BERKAT PEMBANGUNAN

HARAPAN HIDUP RAKYAT INDONESIA MAKIN PANJANG BERKAT PEMBANGUNAN

Jakarta, Suara Karya

Tingkat kematian bayi dewasa ini menurut dari V.07 menjadi kurang dari 80 per seribu dan umur harapan hidup rakyat Indonesia meningkat dari 53 menjadi 56 tahun dalam periode 1980-1985, berkat peningkatan kesehatan masyarakat.

Presiden Soeharto mengemukakan hal itu ketika membuka simposium anggota Parlemen negara-negara ASEAN tentang kelangsungan hidup anak, kependudukan dan pembangunan, Selasa di Istana Negara.

Dikemukakan, selama melaksanakan pembangunan lebih dari 18 tahun dalam IV Pelita, Indonesia telah berhasil meningkatkan kemampuan untuk memperbanyak dan memeratakan sarana-sarana kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat.

Namun diakui, Kepala Negara bahwa dalam masa lebih dari 18 tahun itu tidak seluruhnya merupakan kisah keberhasilan. Hakekat pembangunan di Indonesia menurut Kepala Negara adalah pembangunan manusia.

“Kami harus, membangun manusia pembangunan,” kata Presiden. Oleh karena itu upaya kelangsungan hidup anak menjadi sangat penting, sebab mereka akan menjadi penerus dan pemilik masa depan bangsa.

Pembinaan kelangsungan hidup anak dimaksud untuk membangun kehidupan anak-anak menjadi anak yang sehat jasmani maupun rohaninya agar kelak mereka mampu meneruskan pembangunan bangsanya serta pembangunan masa depannya sendiri.

Keberhasilan pembangunan menurut Presiden yang mengakibatkan turunnya tingkat kematian penduduk, pada gilirannya menyebabkan pertumbuhan yang masih tinggi yaitu sekitar 2 persen pada akhir tahun 1986.

Pertambahan penduduk ini berarti meningkatnya kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, kehidupan beragama, pemerataan pendapatan dan sebagainya yang merupakan unsur dari kesejahteraan lahir batin.

Bagi Indonesia, kata Presiden, masalah pengendalian penduduk bukan sekedar masalah pengurangan angka kelahiran, tetapi menyangkut masalah yang lebih luas. Masalah pengendalian penduduk, memang merupakan salah satu masalah utama bagi pembangunan bangsa-bangsa yang sedang membangun.

Presiden berharap agar simposium dapat mempergigih masyarakatASEAN dalam menata dan memanfaatkan gagasan yang dimiliki, sehingga menjadi kekuatan yang ampuh dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa mendatang.

Simposium yang diselenggarakan sampai 11 Juni ini merupakan simposium kedua yang diikuti oleh anggota-anggota parlemen negara ASEAN terdiri dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Muangthai, Pilipina dan Brunei.

Disamping itu hadir peninjau dari India, Cina dan dari sekretariat Global Committe of Parliamentarian on Population and Development serta beberapa tokoh dan lnstansi terkait.

Pada pembukaan simposium itu hadir pula Direktur Unicef James P. Grant dan Menteri Kesehatan Sri Langka, A. Tapat V Simposium akan membahas topik-topik antara lain, “Kelangsungan hidup anak dalam ASEAN dalam kaitan dengan kependudukan dan pembangunan”, Situasi anak di negara ASEAN, mobilisasi sumber daya untuk anak.

Sumber: SUARA KARYA (10/06/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 703-704

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: