HAMZAH HAZ: SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI KURANG BERHASIL DALAM REPELITA IV

HAMZAH HAZ: SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI KURANG BERHASIL DALAM REPELITA IV

Jakarta, Antara

Anggota MPR/DPR dari fraksi PPP Hamzah Haz menilai sektor pertanian dan industri kurang berhasil dalam Repelita IV dan segala kekurangan selama itu harus menjadi “pekerjaan rumah” dalam Repelita V

Namun demikian, sampai saat ini, sasaran Repelita IV secara keseluruhan telah tercapai 75 persen sedangkan 25 persen lagi diharapkan akan diselesaikan dalam tahun anggaran terakhir yaitu tahun 1988/89, katanya kepada wartawan seusai pidato Presiden Soeharto pada Sidang Umum MPR, Selasa.

Menurut tokoh PPP yang duduk di komisi APBN DPR RI ini, keberhasilan 75 persen tersebut “masih dapat diterima” karena kekurangan 25 persen tersebut diakibatkan oleh faktor eksternal di luar perkiraan semula seperti turunnya kurs dolar dalam tahun-tahun terakhir ini.

Dalam hubungan ini, Hamzah Haz menggaris bawahi pernyataan Presiden Soeharto yang menekankan pada perlunya diciptakan suatu “pertanian yang tangguh.”

”hal ini yang paling perlu,” katanya sambil menambahkan penekanan Presiden tentang hal ini harus dijabarkan lebih kongkrit yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan atau daya beli petani karena hal ini otomatis akan mendukung output dari industri.

“Peningkatan daya beli masyarakat akan mendukung pengembangan partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi,” katanya.

“Pada sektor pertanian, khususnya usaha-usaha menaikan kesejahteraan petani, rasanya masih harus ditingkatkan,” katanya menegaskan.

Untuk itu, titik berat pembangunan yang akan datang harus memberikan rasio yang lebih kongkrit tentang keseimbangan antara pertanian dan industri yang menekankan kepada pentingnya partisipasi masyarakat.

Dengan menjadikan non-migas sebagai sentral kegiatan ekonomi maka upaya peningkatan partisipasi masyarakat ini telah memperoleh wadah dan “memang tidak ada altematif lain” terutama untuk menghindarkan dominasi pemakaian utang luar negeri bagi pengeluaran pembangunan.

Hamzah Haz memperkirakan laju pertumbuhan tahun 1988/89 sekitar empat persen.

Masih Pelengkap

Menjawab pertanyaan wartawan, Hamzah Haz mengatakan, penggunaan utang luar negeri dalam APBN mendatang (1988/89) masih bersifat pelengkap, yaitu Rp 7 trilyun (atau 25 persen) dari jumlah Rp 29 trilyun.

Untuk menghindari dominasi utang luar negeri dalam pengeluaran pembangunan, menurut Hamzah Haz, harus ditemukan cara-cara yang dapat meningkatkan tabungan pemerintah.

Untuk itu, katanya, perlu diadakan manajemen yang bersifat khusus dalam penataan utang luar negeri “agar pengalaman yang lalu dapat dijadikan pegangan pada masa mendatang dan sekaligus melihat kekurangan-kekurangan yang ada.”

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA(01/03/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 278-280.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.