Des 062016
 

Dari Pertemuan Terututup II

GAGASAN PRES. DISAMBUT BAIK PARPOL2 [1]

 

Djakarta, Angkatan Bersendjata

Presiden Soeharto Djumat tadi malam untuk kedua kalinja telah mengadakan pertemuan tertutup dengan Pimpinan Parpol2 dan Golkar bertempat di Istana Merdeka.

Hadir dalam pertemuan itu dari Parmusi Soelastomo (Sekdjen), Husni Thamrin dan Djadil Abdullah: dari Katholik J. Kasimo dan Da Costa dari PSII H Anwar Tjokroaminoto, Sjarifuddin Harahap, Bustaman SH dan Wartomo dari NU Jusuf Hasjim, KH. Idham Cholid, Bisri Sjamsuri, KHA Sjaichu, Nuddin Lubis, dari Parkindo Sabam Sirait, JTC Simorangkir, John Tamahata, dan Alex Wenas dari Golkar, Majdjen Amir Murtono (dewan ketua) dan Murdopo : dari IPKI Achmad Sukarmadidjaja dan Hasjim Ning.

Sebagai diketahui dalam pertemuan terdahulu hari Rabu malam Kepala Negara telah mengadjukan gagasan agar dalam rangka menumbuhkan demokrasi Pantjasila dilakukan pengelompokan partai sesuai dengan ketentuan jang digariskan MPRS.

Disambut Baik

PRESIDEN mengemukakan bahwa hendaknja dalam Pemilihan umum jang akan datang hanja ada tiga kelompok sadja jang mana berarti hanja tiga bendera jang keluar dalam Pemilu jad. Disamping itu dalam DPR jang akan datang ada empat fraksi jaitu hanja ada empat fraksi jaitu fraksi spirituil materiil, materiil spirituil, Golkar dan ABRI. Dalam pertemuan tadi malam masing2 parpol2 telah mengemukakan pendapat dan djawabannja dimana pada prinsipnja dpat menjetudjui gagasan Presiden tsb. diatas.

Parkindo

PARKINDO dalam pertemuan tadi malam menjampaikan bahwa menerima dan menjetudjui gagasan ada empat fraksi dalam DPR nanti, dengan tjatatan penamaan fraksi materiil spirituil fraksi “demokrasi pembangunan”.

Dikatakan pula bahwa fraksi demokrasi pembangunan terbuka untuk partai lainnja diluar lima partai jang sudah tergabung sedjak tahun jang lalu jaitu PNI, IPKI, Murba, Parkindo adalah usaha djangka pendek melalui lembaga formil menudju “dwi partai”. Parkindo berpendapat hendaknja adanja empat fraksi djangan sampai mempertadjam polarisasi dalam masjarakat. Untuk djangka pandjang Parkindo menghendaki adanja partai jang terbuka untuk semua golongan tanpa membedakan kejakinannja. Parkindo menjetudjui bahwa DPR nanti dipimpin oleh seorang Ketua dan 4 orang Wakil Ketua jang mewakili masing2 Fraksi.

Parmusi

PARTAI Muslimin Indonesia menjatakan pendapatnja bahwa penjederhanaan kepartaian adalah sesuai dengan ketetapan MPRS. Oleh sebab itu Parmusi berpendapat penjederhanaan kepartaian adalah bagian dari usaha pembaharuan politik. Penjederhanaan itu hendaknja dilakukan dengan mengefektifkan pengelompokan jang sudah ada, jang selandjutnja diatur dalam UU kepartaian.

Parmusi menjetudjui penjederhanaan partai itu dan bila masalahnja tergantung pada Parmusi maka Parmusi bersedia meleburkan diri (berfusi). Mengenai fraksi2 di DPR Parmusi menjatakan setudju pengelompokan empat fraksi di DPR. Dan djuga menjetudjui djadwal waktu untuk DPR. Pimpinan DPR tetap dalam susunan Ketua dan 4 wakil Ketua jang mentjerminkan fraksi di DPR, dan sekaligus Pimpinan DPR mendjadi Pimpinan MPR, dengan dibantu oleh seorang Sekretaris Djenderal MPR. Sementara itu Bustaman SH dari psn mengatakan kepada wartawan bahwa ia menjetudjui penjederhanaan kepartaian dan adanja gagasan 4 fraksi. Sampai berita ini diturunkan pertemuan masih berlangsung seru.

Pertemuan 5 partai

SEMENTARA itu hari Kamis malam dirumah Hasjim Ning telah berlangsung pertemuan lima partai PNI, IPKI, Murba, Parkindo, dan Katholik, dimana hadir Isnaeni, Hardjanto dan Usep Ranuwidjaja, dari PNI, J. Kasimo dan Dacosta dari Katholik, Maruto dan Murbantoko dari Murba. Hasjim Ning dan Achmad Sukarmadidjaja dari IPKI JTC Simorangkir dan Sabam Siraith dari Parkindo. Dalam pertemuan itu kelima partai tersebut sependapat untuk menjambut baik gagasan Presiden tersebut diatas. Dan khusus mengenai fungsi MPRS sebelum berfungsinja MR hasil Pemilu apakah dibekukan atau tidak. Kelima partai lebih tjenderung untuk tidak membekukan fungsi MPRS sebab masalahnja adalah siapa jang akan mendjadi pelaksana tertinggi kedaulatan rakjat. (DTS)

Sumber: ANGKATAN BERSENDJATA (09/10/1971)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 825-826.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: