EVALUASI LOKASI PERAKITAN N-250 DI AS MASUKI TAHAP AKHIR

EVALUASI LOKASI PERAKITAN N-250 DI AS MASUKI TAHAP AKHIR [1]

New York, Antara

Dirut Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Dr BJ Habibie dari 30 No­ vember hingga 4 Desember 1994 berada di Amerika Serikat (AS) guna melakukan evaluasi tahap akhir penentuan lokasi pabrik perakitan pesawat N-250 di negara adi daya tersebut.

“Negara-negara bagian yang menawarkan diri sepakat bahwa pada akhirnya yang akan dipilih adalah harus yang terbaik,” kata Dirut IPTN yang juga Menristek itu kepada ANTARAdi New York, Minggu , berkaitan dengan rencana IPTN dalam pembuatan pabrik perakitan akhir N-250 di AS.

N-250 merupakan pesawat bermesin turbo prop dan berkecepatan 300 knots dengan kapasitas 50 hingga 70 penumpang. “Roll out” (pemunculan) pesawat dengan telah berlangsung di Bandung 10 November lalu.

Selama ini terdapat tujuh negara bagian di AS yang menawarkan diri untuk dijadikan lokasi perakitan N-250. Negara-negara bagian dimaksud adalah Arizona, Oregon, Ohio, Kansas, Utah, Alabama dan Arkanas. Negara-negara bagian tersebut telah dikunjungi Dirut IPTN beberapa waktu lalu. Selain itu baru-baru ini terdapat dua “lamaran”lagi, yakni dari New York dan Georgia dan dua negara bagian yang terakhir itu dilihat secara langsung oleh Dirut IPTN dalam kunjungannya yang terakhir di AS itu. Tetapi setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya hanya tiga yang masuk nominasi, yakni Oregon, Arizona dan Alabama. Dalam upaya melakukan evaluasi tahap akhir penentuan lokasi pabrik N-250 di AS itu Dirut IPTN yang juga Kepala Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) itu akan segera menunjuk konsultan terkemuka di bidang kedirgantaraan di AS.

Tiga Kriteria

Menurut Habibie, dalam melaksanakan tugasnya, konsultan akan mempelajari tiga kriteria, masing-masing prasarana yang menunjang dari segi teknis dan ekonomis serta sumberdaya manusianya, perangkat hukum termasuk peraturan perpajakan serta insentif lainnya dan evaluasi secara makro politis.

Konsultan tersebut nantinya akan memberikan laporan kepada Tim Nasional yang telah dibentuk IPTN, dan setelah itu laporan akan disampaikan kepada Menristek. Setelah mengkaji laporan tersebut Menristek akan segera menyampaikannya kepada Presiden Soeharto selaku Ketua Dewan Pembina BPIS.

“Bapak Presidenlah yang nantinya akan menentukan lokasi pabrik N-250 di AS itu, berdasarkan laporan dari Menristek, “kata Habibie sambil menambahkan bahwa keputusan tersebut akan keluar sekitar satu bulan lagi, terhitung sejak konsultan AS melaksanakan tugas yang diberikan IPTN tersebut.

Menristek memperkirakan, N-250 yang merupakan pesawat terbang “com­muter” (penghubung regional) tersebut akan keluar dari pabrik perakitannya di Amerika sekitar akhir 1997 atau pertengahan 1998.

Dalam kunjungan di AS dari 30 November hingga 4 Desember tersebut Menristek juga bertemu dengan mantan Menlu AS Henry Kissinger di New York dan mantan Presiden AS Jimmy Carter di Atlanta Georgia yang keduanya masih menjadi tokoh terpandang dan berpengaruh di negara adi kuasa itu. Dalam kesempatan itu Habibie menjelaskan secara panjang lebar tentang rencana investasi IPTN di AS dan baik Kissinger maupun Carter menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut, bahkan Carter menginginkan agar Georgia dijadikan lokasi bagi investasi IPTN  itu. Setelah mengunjungi AS, Habibie bertolak ke Kanada, dan selama berada di negara tetangga AS itu Menristek di antaranya akan menerima penghargaan dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasiona l (ICAO) dalam rangka hari ulang tahun ke- 50 organisasi tersebut. Acara itu juga akan dihadiri oleh Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali, karena ICAO merupakan salah satu badan yang dibentuk PBB bagi kepentingan keselamatan penerbangan  sipil intemasional.   (U-KL04/B/DN02-  04/12/94 00:24/RB2)

Sumber : ANTARA(04 /12/1994)

______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 725-727.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.