EMIL SALIM: PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TIDAK BISA DIBANDINGKAN NIC

EMIL SALIM: PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TIDAK BISA DIBANDINGKAN NIC

Jakarta, Antara

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 3,8 persen tidak bisa dibandingkan dengan negara-negara industri baru (NIC) seperti Hongkong, Korea Selatan, Taiwan dan Singapura, kata Guru Besar FE-UI Prof DR Emil. Salim, di gedung MPR/DPR Jakarta, Rabu pagi.

Emil Salim yang juga Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) mengatakan kepada ANTARA, kurang kena membandingkan Indonesia dengan NIC karena pola kegiatan perekonomiannya juga berbeda.

Struktur ekonomi Indonesia, menurut dia, menggantungkan kepada hasil pertaniannya sementara NIC menggantungkan ekonominya kepada industri dan jasa.

Presiden Soeharto dalam pidato pertanggung jawaban di depan rapat paripuma MPR Selasa mengemukakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama Pelita IV rata­rata sebesar 3,8 persen pertahun.

Menurut Emil, pertumbuhan ekonomi negara yang menggantungkan diri kepada pertanian umumnya mencapai rata-rata tiga sampai empat persen.

Berbeda dengan negara yang tidak menggantungkan diri kepada pertanian bias lebih dari empat persen.

“Menggantungkan diri kepada pertanian berarti juga menggantungkan diri kepada musim yang kerap berubah,” katanya menambahkan. Emil sebagai ahli ekonomi senior di Indonesia ini menilai, pertumbuhan 3,8 persen itu cukup realistis.

“Yang perlu kita lakukan adalah menjaga angka pertumbuhan, sehingga tidak kurang dari pertumbuhan penduduk. Kita tahun ini mampu melakukan hal tersebut,” tegas Emil.

Namun, pertumbuhan ideal bagi Indonesia adalah lima persen, tegasnya. Ia juga mengatakan, sebagai ahli ekonomi ia kurang setuju dengan. Adanya pendapat yang menyatakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah Indonesia perlu merangsang konsumsi masyarakatnya. Oleh karena itu, katanya, arah konsumsi itu pada akhirnya adalah barang-barang impor.

“Kita tahu bahwa kita masih belum mampu menyediakan barang kebutuhan sendiri seperti barang elektronika yang sudah menjadi konsumsi primer. Jelas, pada akhirnya masyarakat yang terangsang konsumsinya akan menyerbu barang-barang impor,” tambahnya.

Pada gilirannya, masyarakat yang konsumtif akan menyebabkan pengeluaran defisit karena kebanyakan membeli barang impor. Indonesia kemudian harus menanggung beban yang lebih berat lagi, tegasnya.

Peka Inflasi

Emil yang juga anggota F-KP mengatakan, Indonesia adalah negara yang peka inflasi. “Artinya, Indonesia negara yang gampang kena inflasi, begitu Pak?,”desak ANTARA.

“Bukan, bukan begitu maksudnya. Peka inflasi dalam hal ini berarti struktur ekonomi negara kita berat sebelah. Artinya berat ke pertanian,” jelasnya.

Oleh karena itulah semua fihak harus berupaya menyeimbangkan struktur itu, demikian Emil.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA(02/03/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 280-281.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: