Des 202014
 

Negarawan Puncak Bangsa

Edi Sudradjat (Kepala Staf TNI-Angkatan Darat)

Dewasa ini barangkali dengan mudah orang bisa mengatakan bahwa menyusun program dan melancarkan pembangunan adalah peristiwa biasa dan senantiasa dilakukan di negara-negara manapun di dunia. Namun jika direnungkan dalam-dalam, penilaian sedemikian tidak akan bisa dengan mudah dikemukakan begitu saja, oleh siapapun juga pada pertengahan atau akhir tahun 1960-an. Pada waktu itu bangsa kita sedang berada dalam suasana kemelut, kehidupan sosial yang sulit, kemiskinan dan keterbelakangan melilit kehidupan bangsa. Demikian pula pada waktu itu kultus dan pendewaan kepada pemimpin nasional Bung Karno serta tunduk dan taat mutlak tanpa reserve kepada Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, merupakali sikap psikologis massa rakyat yang sangat dominan. Sedangkan suasana saling curiga, dendam, fitnah dan kebencian mewarnai kehidupan masyarakat luas.
Namun berkat ketegasan, keberanian yang luar biasa, kearifan dan keluasan wawasan serta cara pandang Pak Harto tentang kehidupan berbangsa dan bernegara serta dengan teguh dan mantap dalam mengamalkan falsafah dan landasan hidup berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila dan UUD 1945, maka hari ini kita telah berada pada suasana kehidupan yang sudah jauh berbeda. Hari ini kita telah berada pada suasana kehidupan bangsa yang telah jauh lebih baik. Hari ini kita telah merasa lebih pasti memandang ke inasa depan dalam melanjutkan perjuangan untuk meraih dan mencapai tujuan dan cita-cita bangsa sebagaimana diidam-idamkan senantiasa.
Dalam tulisan ini saya mencoba menuangkan kesan-kesan saya tentang Pak Harto atas dasar kepahaman yang saya tangkap dan hayati sendiri sebagai prajurit TNI-AD dan, sudah barang tentu, dalam batas-batas kemampuan yang ada pada diri saya. Saya mencoba melukiskannya menurut “apa adanya“, sebagaimana lazimnya seorang prajurit bertutur dan mengungkapkan isi hati dan pendapatnya. Saya merasa apa yang saya ketahui tentang beliau sangatlah terbatas. Beliau adalah sesepuh prajurit pejuang bangsa yang telah berjuang sejak awal mula berdirinya negara kita ini, sedangkan saya adalah prajurit yang baru berbakti pada tahun 1960. Demikian pula, beliau adalah negarawan puncak bangsa, yang telah memimpin dan mengemudikan bahtera bangsa dan negara kita ini selama 25 tahun dengan sangat berhasil, sungguh merupakan kurun waktu yang sangat panjang. Karenanya dalam membuat tulisan ini saya mencoba sebisa saya, dengan menelusuri alur perjalanan saya dalam mengabdi bangsa dan negara sebagai prajurit TNI-AD, sejak awal kurun waktu tahun 1960-an hingga akhir kurun waktu 1980-an.
Sebagai prajurit muda, yang baru saja menyelesaikan pendidikan Akmil dan Kursus Kecabangan Infantri di Pusat Pendidikan lnfantri di Bandung, saya ditempatkan di Batalyon Infantri (Yonif) 515/Brawijaya. Pada tahun 1962 Yonif-515 tergabung dalam susunan Tugas Satuan untuk Operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat. Yonif-515 tergabung dalam Brigade 11/Caduad. Waktu itu kedudukan satuan kami digeser ke pangkalan Aju di Tanjung Patani Pulau Halmahera dan Pulau Gebe. Satuan kami diarahkan untuk merebut Sorong dari laut. Saat itu saya diberitahu oleh Komandan Batalyon (Dan Yon) bahwa Panglima Mandala adalah Mayjen. Soeharto. Saya berpikir waktu itu, beliau mestinya seorang prajurit terkemuka, karena memperoleh tugas penting untuk memimpin operasi besar dimana bangsa dan negara dipertaruhkan. Dari buku-buku sejarah perjuangan bangsa, saya juga mengetahui bahwa beliaulah yang memimpin Serangan Umum ke kota Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949. Selain itu beliau juga memimpin operasi penumpasan gerombolan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan pada tahun 1950. Dengan demikian saya semakin memandang beliau sebagai seorang komandan pasukan dan sekaligus seorang panglima operasi andalan bangsa.
Ketika G-30-S/PKI meletus, saya berada di Manokwari dalam tugas operasi menumpas pemberontakan gerombolan OPM. Ketika itu saya menjabat sebagai Komandan Kompi A Yon-1/RPKAD yang tergabung dalam Detasemen Satuan PARAKO bersama-sama satu kompi dari Yon-3/RPKAD. Seminggu setelah meletusnya peristiwa G-30-S/PKI, Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, Komandan RPKAD waktu itu, menarik kembali Kompi A ke basisnya di Cijantung, Jakarta, dengan mengirimkan dua pesawat udara C-130/Hercules dari AURI.
Selanjutnya satuan kami terlibat dalam operasi-operasi pembersihan G-30-S/PKI di Jakarta dan Jawa Tengah. Kegiatan operasi terasakan sangat intensif, terutama sekali hingga tahun 1966. Dalam tahun 1966 kegiatan operasi lebih ditujukan pada mencari dan menangkap tokoh-tokoh PKI dan tokoh-tokoh pemerintah Orde Lama. Kadang-kadang kami beroperasi tanpa menggunakan identitas satuan RPKAD, agar lebih mudah bergerak di tengah-tengah masyarakat dan lebih leluasa dalam mencari dan mendekati sasaran. Komandan kami menjelaskan bahwa operasi-operasi yang kami lancarkan itu dipimpin oleh Mayjen. TNI Soeharto, Panglima Kostrad, yang waktu itu telah menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat.
Salah satu peristiwa amat mengesankan, yang saya rasakan sebagai peristiwa yang sangat langka, yaitu show of force pasukan TNI-AD keliling kota Jakarta dalam rangka mendukung Surat Perintah 11 Maret pada tahun 1966. Show of force disambut sangat meriah oleh rakyat yang memadati jalan-jalan, terutama Jalan Sudirman dan Thamrin. Rakyat meluapkan rasa kegembiraan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, namun dapat saya baca dari ekspresi wajah cerah dan ceria mereka di sepanjang jalan; banyak diantaranya yang mencucurkan air mata. Kami ditepuk, dipeluk, dirangkul bahkan dicubit sebagai luapan kegembiraan. Ada kesan jauh di lubuk hati saya: “Inilah salah satu bentuk manifestasi kemanunggalan ABRI-Rakyat yang benar-benar orisinal, yang keluar dari hati yang tulus dan murni”.
Sekarang, di penghujung tahun 1990 saya renungkan kembali peristiwa itu. Barangkali Pak Harto pada waktu itu tak sempat menyaksikan sendiri secara langsung luapan perasaan massa rakyat dalam kegembiraan dan syukur. Mungkin beliau juga tidak sempat menyaksikan sendiri menyatunya ABRI dengan rakyat dalam kemanunggalan, karena beliau sibuk di markas komando mengendalikan jalannya operasi dan memecahkan masalah-masalah yang pelik.
Pada tahun 1967, saya diangkat menjadi anggota MPRS. Saya terkejut memperoleh kepercayaan itu; tidak habis pikir rasanya pada waktu itu, mengapa saya diberi kepercayaan yang demikian tinggi. Baru kemudian saya mengerti bahwa diperlukan penyegaran anggota-anggota MPRS yang pada waktu sebelumnya diisi bahkan didominasi oleh anggota-anggota PKI. Pergantian anggota-anggota dilakukan dengan memunculkan wajah-wajah baru yang mewakili golongan-golongan dalam masyarakat. Misalnya untuk mewakili prajurit TNI-AD, masuk Mayor Suhanda, Dan Yonif-328 Kodam VI/Siliwangi, tokoh yang menangkap gerombolan Kartosuwiryo di Jawa Barat dan Mayor Sugirin, Instruktur Pusdik PARAKO Batujajar, penakluk puncak Gunung Jayawijaya di Irian Barat. Demikian pula masuk seorang letnan Kowad yang mewakili Korps Wanita ABRI. Saya pikir barangkali saya ditunjuk mewakili generasi TNI yang lebih muda. Saya masih ingat benar pada saat MPRS menyelenggarakan Sidang Umum Istimewa, Presiden Soekarno diminta untuk menyampaikan pertanggunganjawaban sebagai mandataris, tetapi beliau malah menyampaikan amanat, dengan judul pidato yang terkenal “Nawaksara”. Saya bisa menangkap dengan jelas sambutan emosional yang sangat ekspresif dari para pendukung beliau di dalam MPRS; sejak saat Bung Karno memasuki ruangan hingga akhir pidato, beliau disambut sangat meriah dengan tepuk tangan dan teriakan histeris. Baru kemudian saya renungkan betapa Pak Harto menunjukkan kearifan sebagai negarawan yang mengagumkan, yaitu menempatkan Presiden Soekarno pada posisi kehidupan berkonstitusi, dengan mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah dilakukan sebagai mandataris kepada pemberi mandatnya yaitu MPRS. Inilah suatu langkah maju ke arah pemurnian kehidupan berkonstitusi berdasarkan UUD 1945.
Jika direnungkan bahwa langkah sedemikian dilakukan pada waktu itu, maka terasa belum masuk akal, karena pada masa itu praktek kehidupan berkonstitusi memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan pada waktu sebelumnya, MPRS telah menetapkan Presiden Soekarno sebagai presiden seumur hidup, Pemimpin Besar Revolusi, Pemimpin Agung dan puluhan lagi gelargelar eksklusif lainnya. Sementara itu sebagian rakyat yang mulai mengetahui posisi dan peran Bung Karno dalam kemelut G-30-S/ PKI telah menyerukan agar beliau di-Mahmillub-kan. Namun keputusan dan penyelesaian masalah kepemimpinan nasional oleh Pak Harto diserahkan kepada pemberi mandat yang mengangkat Bung Karno sebagai Presiden, yaitu.MPRS.
Itulah cara penyelesaian yang tepat dan benar penyelesaian secara konstitusional yang pada waktu itu belum dikenal oleh masyarakat luas, karena proses dan mekanismenya belum melembaga dalam praktek kehidupan berkonstitusi. Keputusan yang bijak itu telah melahirkan preseden politik yang menjadi tonggak penting didalam upaya memfungsikan dan menormalisasikan kehidupan konstitusional sebagaimana mestinya. Keputusan itu memberikan pegangan dan pedoman bagi kehidupan konstitusional bangsajauh ke masa depan.
Kini sudah 25 tahun berlalu semenjak peristiwa tersebut terjadi, telah lima kali proses pemilihan kepemimpinan nasional berlangsung dengan mengikuti ketentuan-ketentuan konstitusional. Dewasa ini perikehidupan berkonstitusi telah menjadi kebiasaan hidup dan telah melembaga, telah menjadi perilaku hidup berbangsa dan bernegara. Perilaku hidup berkonstitusi semakin melembaga berkat sikap dan keputusan-keputusan arif yang diambil oleh seorang pemimpin bangsa 25 tahun yang lalu dalam suasana kemelut, suasana kritis yang parah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan didalam iklim dimana konstitusi diabaikari. Setelah MPRS menetapkan tidak bisa menerima pidato Nawaksara dan kemudian menyatakan Presiden Soekarno berhalangan menjalankan tugas, maka para anggota MPRS mulai sibuk memikirkan siapakah penggantinya. Dalam percakapan para senior, saya menyadap perbincangan mereka tentang pendekatan kepada Pak Harto agar bersedia diangkat sebagai Pejabat Presiden. Menurut mereka, jawaban Pak Harto pada waktu itu: “Apa saya pantas?”
Sekarang saya memandang jawaban Pak Harto itu mencerminkan sifat beliau yang sederhana, bersahaja, tahu menempatkan diri, berhati-hati dan cermat. Namun sebagai pejuang beliau bersikap tidak akan mengelak apabila tugas memanggil demi perjuangan bangsa. Sifat dan sikap inilah yang sering saya jumpai pada para pejuang bangsa yang telah banyak saya kenal selama kehidupan saya sebagai prajurit.
Orde Lama berlalu dan Orde Baru dibawab kepemimpinan Pak Harto mulai tampil dalam kebidupan bangsa. Keputusan­keputusan dan langkah-langkah baru ditetapkan. Keputusan­keputusan dalam mempersatukan kembali kehidupan bangsa yang telah terpecah-pecah dan terkotak-kotak ke arah kesatuan dan persatuan bangsa, ke arah kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan landasan falsafah dan konstitusi yang dianut dan diyakini, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Demikian pula kebidupan ekonomi bangsa yang morat marit ditata ke arah kebidupan ekonomi yang semakin baik, berdasarkan program pembangunan yang diletakkan dan dipegang teguh dengan konsisten. Hasilnya telah dirasakan dan dinikmati hingga sekarang ini, meskipun belum sampai pada apa yang di cita-citakan, karena memang cita-cita dan tujuan bangsa barus terus diupayakan lewat perjuangan yang masib panjang ,dan cukup berat.
Renungan terbadap keputusan-keputusan dan langkah-langkah Pak Harto yang beliau tetapkan sejak awal memimpin Orde Baru hingga sekarang ini, yang telah jauh berkembang dan lebib maju dibanding dengan keadaan pada awal mula Orde Baru, sungguh tidak mudah diuraikan dengan kata-kata yang dituliskan begitu saja diatas kertas ini. Rasanya tidak cukup kata-kata dan tidak cukup kemampuan saya untuk menguraikan dan menelusurinya, karena mencakup segenap aspek kebidupan berbangsa yang sangat luas. Yang ingin saya kemukakan adalah bahwa keputusan dan langkah­langkah yang telah diambil beliau adalah tepat dan benar. Keputusan dan langkah-langkah tersebut menjangkau kurun waktu jauh ke depan; mengandung bobot dan cakupan kehidupan bangsa yang besar dan luas, dari perikehidupan suatu bangsa yang bersifat majemuk berjumlah 170 juta orang yang hidup di wilayah nusantara yang sangat luas ini. Selanjutnya beliau membawa kehidupan bangsa kedalam tatanan dan kancah kehidupan antar bangsa di dunia tanpa mengorbankan identitas dan integritas bangsa.
Selama ini saya mengamati bahwa beliau mampu membaca gelagat, pertanda-pertanda serta peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan bagi kehidupan bangsa. Hal ini termasuk perjalanan beliau ke Uni Soviet pada tahun 1989, dimana sedang terjadi perubahan­perubahan yang mendasar, yang juga bisa merupakan peluang bagi kepentingan kehidupan bangsa. Keputusan dan langkah-langkah yang tepat dan demikian berani, seringkali baru terasakan buahnya di kemudian hari setelah proses berjalan yang kadang-kadang memakan waktu panjang. Kepemimpinan beserta hasil-hasilnya yang telah dicapai dalam proses pembangunan bangsa, merupakan bukti betapa Pak Harto telah menunjukkan bahwa beliau adalah seorang pemimpin dan negarawan yang besar.
Siapapun yang telah dewasa pada tahun 1965 akan merasakan betapa sulit dan parahnya kehidupan masyarakat. Lebih-lebih rakyat banyak sangat menderita; untuk memperoleh kebutuhan pokok sehari-hari saja, yang merupakan kebutuhan hidup yang sangat mendasar, sangatlah sulit. Untuk mendapatkan beras, minyak tanah dan sebagainya diperoleh melalui jatah. Kemiskinan dan keterbelakangan mewarnai kehidupan bangsa. Kehidupan politik bangsa sangat diwarnai oleh satu kekuatan politik yang makin hari makin dominan dengan segala ulah tingkah laku politiknya yang ekspansif radikal, yaitu PKI dengan ormas-ormasnya dan mantel­mantel organisasinya. Keadaan dan kehidupan bangsa yang telah demikian parah, akhirnya bermuara pada peristiwa tragedi nasional G-30-S/PKI.
Pemerintah Orde Baru dibawah kepemimpinan Pak Harto tampil menangani kehidupan bangsa yang telah demikian parah. Program pembangunan bangsa dilancarkan dengan tahapan Pelita demi Pelita. Keadaan kehidupan bangsa di bidang ideologi dan politik diarahkan agar berjalan menurut landasan, ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan yang berlaku berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pembangunan di bidang ideologi dan politik terus dilancarkan berlandaskan pacta kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Demokrasi Pancasila. Kehidupan kebangsaan dan kenegaraan berdasarkan tatanan perikehidupan yang didasarkan pada kepribadian bangsa sendiri adalah amanat dan pesan yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945. Karena itulah, stabilitas nasional terwujud dengan mantap sejak lebih dari 20 tahun. Suatu kurun waktu stabilitas nasional yang terpanjang selaina perjalanan sejarah kehidupan negara Republik Indonesia. Satu prestasi yang harus dicatat dan dipahami dalam-dalam karena memberi arti yang besar bagi kehidupan berbangsa yang relatif masih muda ini.
Stabilitas nasional yang mantap memberi peluang bagi lancar dan berkembangnya pembangunan di bidang ekonomi. Program dan sasaran-sasaran ekonomi ditetapkan. Sarana dan prasarana ekonomi dibangun seiring dengan kegiatan memutarkan kelancaran roda ekonomi bangsa. Kehidupan perekonomian bangsa semakin berjalan dan berkembang. Tingkat kehidupan masyarakat semakin hari semakin baik, diwarnai dengan hadirnya kemajauan-kemajuan yang pesat pad berbagai segi kehidupan bangsa.
Selain memiliki wawasan dan pandangan yang luas dan menjangkau ke masa yang jauh ke depan, Pak Harto pandai pula memilih prioritas sasaran. Beliau memilih dan menetapkan mana yang harus lebih didahulukan dan mana yang baru kemudian dilakukan. Beliau memilih titik berat mana yang ditangani dengan bobot yang besar dan mana yang mendapat bobot seperlunya saja. Pembangunan ekonomi diarahkan untuk membuka peluang bagi berkembangnya kehidupan rakyat pedesaan yang terutama hidup dari sektor pertanian, karena sebagian besar rakyat Indonesia hidup di pedesaan. Sekalipun demikian, beliau tidak mengabaikan pembangunan pada bidang industri dan sarana serta prasarana lainnya yang sangat diperlukan bagi kemajuan pembangunan. Beliau menyadari bahwa pembangunan memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemahiran manajerial dan keahlian profesional.
Meskipun beliau tidak berlatarbelakang pendidikan formal pada bidang pengetahuan ekonomi, saya menangkap kesan bahwa beliau sangat menguasai keadaan dan perkembangan perekonomian. Beliau sangat memahami dan mengikuti keadaan perekonomian yang sedang berlangsung, baik nasional, regional maupun internasional. Dengan dibantu oleh para pakar di bidang ekonomi, beliau senantiasa mampu membuat perkiraan-perkiraan ke depan secara antisipatif, menyongsong perkembangan keadaan dan trend perubahan yang sedang dan yang mungkin akan terjadi. Oleh karena itu beliau mampu mengambil keputusan-keputusan dan langkah­langkah yang tepat bagi keselamatan dan kelangsungan perekonomian bangsa, yang sudah barang tentu tidak lepas dari pengaruh percaturan ekonomi dunia internasional. Saya sering merasa kagum, karena ternyata beliau hafal akan data-data ekonomi meskipun data­data itu berupa angka-angka yang banyak jumlah dan ragamnya.
Pak Harto sangat memperhatikan kehidupan para petani dan rakyat kecil. Beliau sangat paham akan segi-segi teknis pertanian. Gambaran ini nampak sekali pada saat-saat beliau berdialog dengan para petani, dimana beliau langsung dapat memberi petunjuk­petunjuk tentang cara-cara bertani yang lebih baik. Di bidang peternakan saya kira beliau lebih paham•dibanding dengan peternak biasa, sebab beliau menggelutinya secara langsung di kandang­kandang percobaan yang beliau bangun sendiri di Tapos. Saya kira terlalu banyak untuk diuraikan satu demi satu tentang keadaan dan kemampuan beliau dalam menangani, mengendalikan dan mendorong proses pembangunan perekonomian bangsa.
Pada pembangunan aspek sosial budaya, beliau sangat memperhatikan pesan pembukaan UUD 1945, yaitu: “mencerdaskan bangsa”. Saya kira siapapun akan merasakan betapa jauhnya perbedaan perkembangan suasana pendidikan putera-puteri bangsa Indonesia pada tahun 1960-an dibandingkan dengan suasana tahun 1990-an ini. Kecerdasan pemuda-pemuda Indonesia sudah jauh berkembang, terlihat hingga ke pelosok-pelosok. Gerak perkembangan dan pertumbuhan kehidupan sosial masyarakat Indonesia terasakan sebagai keadaan umum yang berlangsung, dapat disaksikan dimanapun di wilayah Indonesia. Kini kita menyaksikan semakin tumbuh dan berkembangnya masyarakat yang hidup dan berpenghasilan lebih baik, padahal tadinya mereka berasal dari masyarakat sederhana. Kita menyaksikan perkembangan mereka yang berasal dari daerah pedesaan menjadi masyarakat yang dapat disebut sebagai golongan menengah. Gambaran keadaan yang menggembirakan tersebut dapat terjadi berkat proses dan perkembangan pendidikan dan peluang-peluang yang diciptakan oleh perkembangan dan pertumbuhan perekonomian bangsa yang ditopang oleh stabilitas nasional. Demikianlah kita amati, proses gerak pertumbuhan kehidupan sosial secara vertikal maupun horizontal dalam masyarakat kita tengah berlangsung.
Pada pertengahan tahun 1987 saya mendapat pengalaman yang sangat mengesankan dan tak terlupakan, yaitu ketika saya dipanggil menghadap untuk diberi petunjuk tentang suatu tugas. Saat saya sampai di kediaman beliau, saya masih bertanya-tanya dalam hati tugas apa gerangan yang akan beliau berikan. Ternyata bukan hanya saya sendiri yang dipanggil beliau, ada delapan orang lagi yang datang waktu itu. Jadi kami sembilan orang diminta menghadap beliau di ruangan secara bersama-sama. Saya memingkap kesan bahwa beliau memanggil untuk bertemu dengan sembilan orang yang saya kira telah beliau tentukan sendiri. Dipandang dari segi usia kami yang hadir itu terdiri dari kelompok usia yang lebih muda dan berasal dari tiga jenis profesi yang berlainan. Tiga orang dari kami adalah mereka yang selama ini berkecimpung di legislatif sebagai politisi, tiga orang lagi selama ini bertugas di eksekutif (saya kira juga politisi), dan tiga orang lainnya adalah anggota ABRI aktif.
Kepada kami beliau menjelaskan bahwa sebagai kelanjritan dari pernilihan umum yang lalu tentunya pada tahun depan akan dilanjutkan dengan SU-MPR untuk menetapkan GBHN dan menentukan kepemimpinan nasional sebagai bagian dari mekanisme konstitusi. Selanjutnya beliau menugaskan kami semua untuk membantu memberikan pandangan siapa-siapakah di antara tokoh-tokoh nasional pemimpin bangsa yang kira-kira tepat untuk menduduki jabatan­jabatan puncak dalam sistem kenegaraan kita. Nama-nama tersebut nantinya disampaikan kepada lembaga-lembaga yang berwenang, sebagai saran. Beliau menetapkan batas waktu satu bulan bagi kami semua untuk memikirkan dan merembukkannya bersama-sama. Di sinilah kami diberi kesempatan melatih diri dengan berpedoman pada konstitusi. Kami semua tercengang dan terkejut memperoleh tugas seluas itu, setidak-tidaknya bagi saya sendiri, karena saya merasa pemikiran saya sehari-hari belumlah sampai pada tingkat itu.
Lepas dari penilaian masalahnya yang berat itu, namun saya menangkap kesan bahwa beliau ingin memperoleh masukan-masukan dan pikiran-pikiran dari kami-kami yang lebih muda, mungkin sebagai bahan pertimbangan atau perbandingan dan tentunya sekaligus menguji sampai dimana pengamatan dan pengetahuan kami tentang hal itu. Disamping itu saya menangkap kehendak atau mungkin juga kebiasaan beliau, yaitu mengajak untuk turut serta memikirkan masalah-masalah penting kenegaraan sekaligus untuk mendidik dan melatih kami yang masih muda, pada lingkup masalah yang lebih luas. Saya kira inilah cara-cara yang beliau tempuh dalam memecahkan masalah, yaitu dengan mendayagunakan staf atau pembantu-pembantu beliau, sehingga setiap masalah dapat ditinjau dan dikaji dari berbagai aspek dan sudut secara bulat dan menyeluruh, disamping cermat dan teliti.
Pada bagian akhir tulisan ini saya ingin menjelaskan kesan dan apa yang saya rasakan serta alami dalam mengemban tugas sebagai Kasad. Tugas sebagai Kasad menuntut kepedulian dan kepekaan tentang permasalahan kehidupan bangsa, termasuk masalah masa depan bangsa, terlebih lagi tentang masalah nasib bangsa yang sudah barang tentu harus selalu ikut dipikirkan oleh TNI-AD. Saya menghayati sepenuhnya bahwa TNI-AD tidak. pernah dan tidak akan pernah ragu-ragu dalam menentukan dan mengambil sikap serta langkah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. TNI-AD harus selalu waspada terhadap bahaya laten PKI dan ekstrim-ekstrim lainnya, yang senantiasa berusaha menyusup kedalam tubuhnya. TNI­AD harus tetap turut serta secara aktif dalam upaya-upaya mendorong gerak kehidupan bangsa dalam peranserta mewujudkan pengisian kemerdekaan bangsa. TNI-AD akan terus menyumbangkan tenaga dan pikirannya dalam pembangunan pedesaan melalui program AMD (ABRI Masuk Desa) beserta karya-karya bakti sosial lainnya.
Sebagai anggota ABRI dalam memohon audensi kepada Presiden, saya harus melalui tatanan tingkat sebagaimana ditetapkan, yaitu melalui Panglima ABRI karena Presiden adalah Panglima Tertinggi ABRI. Namun demikian sesekali saya sebagai Kasad dipanggil menghadap beliau di kediaman untuk membicarakan hal-hal yang pada umumnya menyangkut kehidupan dan kesejahteraan prajurit. Kedua segi itu adalah hal yang tidak pernah lepas dari perhatian beliau. Dalam kesempatan pertemuan semacam itu lazimnya dengan jelas dan gamblang beliau menyampaikan petunjuk-petunjuk dan pengarahannya. Sebaliknya saya selalu mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk menanyakan segala sesuatu yang belum saya pahami atau apa yang ingin saya ketahui lebih dalam. Saya mendapat keleluasaan dalam memimpin TNI-AD.
Petunjuk-petunjuk dan arahan-arahan beliau merupakan modal yang saya jabarkan dalam merumuskan kebijaksanaan dan langkah­langkah yang akan dilakukan. Beliau adalah panglima yang dekat dan akrab dengan bawahan. Beliau selalu berusaha memahami kesulitan bawahan dan selalu memperhatikan kesejahteraan prajurit. Beberapa yayasan sosial telah lama dibentuk oleh beliau dalam upaya meningkatkan kesejahteraan prajurit beserta keluarganya yang mendapat musibah dalam mengikuti operasi-operasi Trikora dan Seroja karena gugur atau mendapatkan cacat tubuh dalam menjalankan tugas operasi tersebut. Bagi ABRI, terutama TNI-ADj keberadaan yayasan itu secara langsung jelas terasakan manfaatnya. Dari hasil usaha yayasan-yayasan itu para anggota yang mendapat cacat tubuh serta janda dan anak yatim piatu para pahlawan yang gugur dalam Operasi Jayawijaya dan Operasi Seroja memperoleh santunan kesejahteraan.
Permasalahan kekurangan perumahan bagi prajurit sebagai akibat belum cukup tersedianya dana/anggaran, selalu menjadi perhatian beliau. TNI-AD sangat berterima kasih kepada beliau yang telah memperhatikan keadaan yang masih sangat sulit terpecahkan ini. Belum lama ini pemecahan bagi pembuatan asrama-asrama/ pangkalan satuan-satuan TNI-AD telah mendapat jalan keluarnya berkat perhatian dan uluran tangan beliau. Dengan demikian kesiapan pasukan di pangkalannya masing-masing semakin dapat ditingkatkan, karenanya kesiapan operasional pasukan semakin dapat dijamin, disamping itu sekaligus keluarga prajurit akan hidup tenteram di pangkalan-pangkalan satuannya masing-masing.
Demikianlah apa yang mampu saya ungkapkan tentang Pak Harto. Bagi saya, bangsa Indonesia patut memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena telah menurunkan seorang putera bangsa yang telah menyelamatkan keutuhan dan persatuan-kesatuan bangsa dari suasana krisis nasional sebagai akibat pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965. Putera bangsa itu pulalah yang kemudian mengarahkan dan menata kehidupan bangsa yang pada waktu itu berada pada tingkat kehidupan yang sangat memprihatinkan, kepada kehidupan yang jauh lebih baik, sesuai dengan arah, tatanan dan mekanisme serta dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Beliau mengarahkan bangsa ini menuju pencapaian cita-cita, berupa kehidupan yang sejahtera, adil, makmur dan maju melalui program pembangunan nasional.

***

 

____________________

Sumber: Edi Sudradjat, “Negarawan Puncak Bangsa”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 822-834.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: