DUKUNGAN POLITIK PEMERINTAH DAN MASYARAKAT, KUNCI DI BALIK SUKSES PROGRAM KB INDONESIA

DUKUNGAN POLITIK PEMERINTAH DAN MASYARAKAT, KUNCI DI BALIK SUKSES PROGRAM KB INDONESIA

 

 

Jakarta, Pelita

KEBERHASILAN program keluarga berencana di Indonesia terjadi berkat adanya dukungan komitmen politik pemerintah dan dukungan masyarakat, kata mantan kepala BKKBN Pusat Dr. Suwardjono Suryaningrat kepada Pelita di ruang kerjanya di RSCM Jakarta. Setiap program yang baru di negara-negara berkembang memang diperlukan adanya komitmen politik pemerintah yang tinggi serta menyeluruh, mulai dari pimpinan pemerintah yang tertinggi sampai ke bawah.

Masalah kependudukan bagi pemerintah orde baru, merupakan, faktor terpenting dan strategis dalam pembangunan, sehingga perlu mendapatkan perhatian, kata Suwardjono Suryaningrat mantan Kepala BKKBN pertama tahun 1970sampai tahun 1982 an.

 

Lembaga

Menjawab pertanyaan Suwardjono mengatakan, dengan adanya komitmen politik pemerintahan terhadap masalah kependudukan itu, diperlukan suatu lembaga yang kuat dan dapat menggerakkan masyarakat.

ltulah sebabnya, lembaga keluarga berencana, seperti LKBN (Lembaga Keluarga Berencana Nasional) dirubah dan diganti menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Meskipun sudah ada komitmen politik pemerintah, namun ternyata masih ada saja aparat pemerintah tingkat bawah kurang dapat memahaminya, sehingga pada awal pelaksanaan program KB menemui berapa hambatan, kata Suwardjono Suryaningrat yang juga mantan Menteri Kesehatan tahun I978-1987 an.

Menceritakan tentang pengalamannya saat dimulainya program KB, Suwardjono mengakui saat itu ada juga gubernur yang masih tak acuh terhadap program. Umpamanya saja setiap masalah KB senantiasa dilimpahkan kepada isteri karena KB itu menurut pandangannya adalah urusan para wanita.

Bukan itu saja, Suwardjono menambahkan, bahkan para PLKB (Petugas Lapangan KB) pun tak luput dari cacian masyarakat di suatu daerah.

 

Peran Ulama

Menjawab pertanyaan, Suwardjono mengakui bahwa para ulama memegang peran penting dalam mensukseskan program keluarga berencana. Karena peranan ulama itulah ummat Islam di Indonesia tidak ragu-ragu lagi menjadi akseptor KB dan merupakan yang paling banyak menjadi peserta.

Menjawab pertanyaan, dikatakannya memang masih ada segolongan kecil umat Islam yang kurang sepaham dengan program KB, namun hal itu terjadi pula pada golongan lain di luar Islam.

Dr. Suwardjono tidak sependapat, apabila mereka yang menolak atau belum sepaham itu dikatakan sebagai golongan yang fanatik. Belum sepaham mereka itu disebabkan belurn bertemunya jalan pikiran mereka dengan program KB yang bertujuan untuk membangun kesejahteraan masyarakat melalui aspek kependudukan.

Menjawab pertanyaan lain, Dr. Suwardjono mengatakan pula, berbicara masalah sukses program KB, kita tak bisa mengabaikan peranan para dokter, bidan dan tenaga kesehatan lainnya yang bekerja di Puskesmas di seluruh tanah air serta tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit serta sarana pelayanan kesehatan lainnya. Mereka itu menjadi ujung tombak pelaksanaan program KB sejak awal program dilancark an sampai saat sekarang, meskipun dewasa ini pendekatan program tidak lagi pada aspek medis.

 

Kelahiran

Memberikan penjelasannya, mantan Kepala BKKBN itu mengakui untuk mencapai pertumbuhan penduduk sampai angka nol, masih berat.

Untuk mencapai pertumbuhan di bawah angka kurang dari dua saja, masih memerlukan waktu lama. Hal ini disebabkan penurunan angka kematian bayi dan ibu hamil sangat tajam sedangkan penurunan angka kelahiran belum bisa mengimbanginya. Namun sebagai suatu bangsa yang membangun, kita tak boleh berputus asa dan harus berupaya terus menerus, sehingga angka pertumbuhan penduduk menurun sama dengan menurunnya angka pertumbuhan penduduk, kata Suwardjono Suryaningrat mengakhiri keterangannya. (SA)

 

 

Sumber: PELITA(OS/06/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 872-873.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: