Mei 092017
 

PRESIDEN SOEHARTO INGATKAN

DUA PERTIGA UMAT MANUSIA MASIH TERBENAM DALAM KEMISKINAN

Presiden Soeharto menyatakan, tantangan umat manusia dewasa ini menjadi semakin besar dan berat. Karena itu pembangunan manusia merupakan masalah yang mendesak dan harus dilaksanakan.

Hal itu dikemukakan Kepala Negara, kemarin, ketika membuka secara resmi pertemuan para Menteri Kesehatan wilayah Asia Tenggara di Bina Graha. Selanjutnya, pertemuan akan berlangsung sampai tanggal 24 September 1981 di Jakarta.

Menurut Presiden, tantangan itu tampak jelas dari kenyataan saat ini, dimana dua pertiga umat manusia di dunia masih terbenam dalam lumpur keterbelakangan, kemiskinan, kelaparan, penyakit dan segala kerendahan tingkat hidup lainnya.

Dalam menghadapi tantangan manusia tersebut, Presiden menekankan perlunya dikerahkan segala usaha yang masuk akal. Antara lain melalui kerja sama internasional dan regional yang memadai dan terpadu.

Menjelaskan tentang pentingnya pembangunan kesehatan, Kepala Negara mengatakan bahwa kesehatan merupakan salah satu unsur yang diperlukan bagi terwujudnya perbaikan mutu kehidupan masyarakat luas.

"Orang yang tidak sehat lahir batin, bukan orang yang bahagia.Bangsa yang tidak sehat lahir maupun batinnya, tidak mungkin akan membangun," tegas Presiden Soeharto.

Dalam kaitan itu pula, maka Indonesia sejak awal melaksanakan pembangunan sampai sekarang, telah bertekad untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terutama bagi rakyat banyak.

Namun demikian, Presiden juga mengakui, perjuangan di bidang kesehatan masih jauh dari selesai dan perlu ditingkatkan sehingga setiap anggota masyarakat dapat memperoleh derajat kesehatan yang sebaik-baiknya.

Perbaikan Gizi

Pembangunan kesehatan menurut Kepala Negara juga tidak terlepas dengan pembangunan ekonomi dan sosial. Sebagai contoh dikemukakan dengan berhasilnya pembangunan ekonomi, masyarakat akan semakin mampu membiayai kebutuhannya untuk berobat dan memelihara kesehatannya.

Sejajar dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat, perbaikan gizi juga perlu diperhatikan. Sebab, peningkatan gizi bukan hanya bertujuan meningkatkan kesehatan jasmani, melainkan juga dapat meningkatkan kecerdasan tunas-bangsa yang kelak bertanggungjawab membangun bangsanya.

Demikian pula berhasilnya pembangunan dibidang pendidikan akan berpengaruh terhadap keberhasilan bidang kesehatan. Dengan meningkatnya kecerdasan rakyat maka bertambah pula kesadaran rnasyarakat akan pentingnya pemeliharaan kesehatan.

Untuk Pertama Kali

Menteri Kesehatan dr. Suwardjono Surjaningrat dalam laporannya mengatakan, pertemuan para Menteri Kesehatan Wilayah Asia Tenggara baru pertama kali ini diadakan dan sengaja dimulai tepat setelah selesainya dimulai tepat setelah selesainya pertemuan regional komite yang ke-34 di Denpasar Bali, yang berlangsung dari tanggal 15 sampai 21 September 1981.

Menurut Menkes, hal itu dimaksud agar para Menkes dapat menghadiri sidang terakhir serta menerima secara langsung hasil-hasil resolusi dari pertemuan Regional komite.

Adapun gagasan untuk mengadakan pertemuan tingkat Menkes itu timbul, pada kesempatan berjumpa di Sidang WHO yang diadakan setiap tahun di Genewa dan ternyata mendapat tanggapan baik dari Menteri yang bersangkutan.

Diharapkan, dengan pertemuan ini para Menkes dapat saling mengenal lebih baik untuk meningkatkan kerjasama dalam pembangunan kesehatan, terutama dalarn rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan bagi semua di tahun 2000.

Enam Juta Anak Terancam Mati

Memberikan keterangan kepada pers sesuai pertemuan dengan Presiden, Direktur Jenderal WHO Dr. Haldan Mahler yang hadir pula pada kesempatan itu mengatakan, kebijaksanaan kesehatan saat ini diprioritaskan pada pendidikan kesehatan rakyat, baik dalam hal pencegahan penyakit, pembangunan pusat kesehatan, pengawasan lingkungan serta pemberantasan penyakit menular.

Ditegaskan, masalah tersebut sangat diutamakan karena bila tidak, diperkirakan 6 juta anak-anak di dunia terancam mati tahun ini. Sekalipun sesungguhnya, ancaman semacam itu tidak perlu terjadi karena kita mempunyai vaksin yang baik untuk mencegah kematian.

Sementara itu, menurut penelitian 5 juta anak-anak yang lain, tahun ini juga terancam mati akibat penyakit diare. Dan untuk itu pun kita sebenarnya juga sudah memiliki cara pengobatan yang paling murah dengan menggunakan oralit.

"Masalah serius yang harus kita tangani sesungguhnya hanya bagaimana mencegah timbulnya penyakit tersebut," ujarnya.

Menurut Mahler, selain dengan usaha preventip antara lain dengan pemberian vaksinasi, juga dengan menciptakan kesejahteraan keluarga melalui Keluarga Berencana, peningkatan gizi, sistem pembuangan air yang baik serta mencegah kemungkinan timbulnya penyakit menular di daerah tertentu.

Dirjen WHO yakin, apabila kita tidak dapat melakukan hal tersebut, dalam waktu 20 tahun mendatang dunia akan mengalami kehancuran.

"Secara moral saya takut mengatakan apa yang akan terjadi pada diri kita sendiri," kata Mahler. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (23/09/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 429-431.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: