Jul 262014
 

Negarawan, Guru Dan Pelajar Sepanjang Hayat[1]

Doddy Tisna Amidjaja [2]

Pertama kali saya mendengar nama Bapak Soeharto serta melihat roman wajah dan sekelumit citra pribadinya ialah melalui siaran TVRI pada malam hari, tanggal 5 Oktober 1965. Sejak pecahnya berita yang menggegerkan mengenai G-30-S/PKI dan tentang diculiknya beberapa perwira Angkatan Darat, antara lain Jenderal A Yani, suasana ibukota dan tanah air, pada umumnya, sungguh tegang-mencekam, serta penuh kekhawatiran dan kesangsian. Oleh sebab itu reportase visual TVRI mengenai diketemukan dan diangkatnya jenazah para perwira yang diculik itu dari sumur tua di Lubimg Buaya, diikuti oleh seluruh masyarakat dengan sangat cermat.

Didalam fokus dari peristiwa yang diabadikan oleh TVRI itu, yang menayangkan suatu adegan yang sangat mengharukan dan berkesan mendalam dari “drama” G-30-S/PKI, maka figur Mayor Jenderal Soeharto tampil dominan memancarkan kesan seorang pribadi yang berwibawa, mantap kontrol emosinya, tenang dan meyakinkan dalam gerak dan ucapannya. Pada saat itu dengan sendirinya terlintas dalam pikiran bahwa dari Mayor Jenderal Soeharto kiranya dapat diharapkan lindungan dan bimbingan untuk membawa bangsa dan negara keluar dari kekisruhan politik dan ekonomi yang sedang melanda bangsa kita pada masa itu.

Di bulan-bulan dan tahun berikutnya, sejalan dengan peran dan tugas Bapak Soeharto untuk negara, maka lebih sering pula penampilan beliau dalam forum dan media publik. Kami yang tinggal di daerah Bandung pun mengikutinya dengan penuh perhatian. Namun, kesempatan untuk melihat penampilan Pak Harto pribadi, barulah terjadi pada kunjungan beliau di Bandung setelah G-30-S/PKI. Sepanjang ingatan saya, ketika itu beliau hanya singgah di ruang tunggu lapangan udara Hussein Sastranegara untuk mengadakan pertemuan dengan pimpinan Divisi Siliwangi. Sejumlah pimpinan KASI dimana saya menjadi salah seorang anggota, dengan membawa spanduk-spanduk, mencoba mendekati dan mohon kesempatan untuk bicara dengan beliau. Namun permohonan itu tidak dikabulkan oleh para petugas, sehingga kami hanya dapat melihat beliau melalui kaca jendela saja. Kedua kalinya saya melihat beliau dari dekat adalah pada pembukaan Seminar II Angkatan Darat di Bandung pada bulan Agustus 1966.

Pada kedua kesempatan itu, saya amati penampilan beliau. Pada saat-saat itu tampak beliau sangat serius, tetapi memancarkan suatu wibawa, malah cenderung berkesan angker. Senyum beliau pun tidak semurah seperti di kemudian hari, sehingga mengundang julukan The Smiling General. Saya menduga, bahwa roman wajah beliau yang agak mendung itu, adalah refleksi dari sekian banyak persoalan yang terkandung dalam benak dan kalbunya, sebagai konsekuensi diembannya Supersemar. Sebagaimana kita ketahui bersama, Supersemar itu mengamanatkan kepada beliau untuk menangani keadaan sosial-politik yang sedang bergolak pada tahun 1966 itu, khususnya dalam aspek keamanan dan keselamatan bangsa, negara serta pemimpin tertinggi negara.

Diantara tahun 1969 hingga tahun 1989, saya mendapat kesempatan cukup banyak bertemu dengan Pak Harto, sehubungan dengan tugas dan jabatan yang saya pegang berturut-turut selaku Rektor, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, dan Ketua LIPI. Hubungan itu memang terbatas pada hal-hal yang menyangkut tugas-tugas saya sebagai pembantu pimpinan negara dalam menangani sektor pendidikan dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi saya sempat memperhatikan bahwa didalam gaya kepemimpinan dan cara-cara beliau memandang permasalahan serta dalam pemberian petunjuk pemecahannya, saya selalu merasakan aspek-aspek manusiawinya serta intensitas perhatian beliau yang tinggi bagi setiap problema yang diajukan. Oleh karena itu saya mempunyai kesan bahwa beliau memahami konsep dan menguasai informasi-informasi detail.

Pada akhir tahun 1968, atas permintaan dan dorongan yang sangat dari rekan-rekan staf akademik ITB, saya dengan berat hati menyediakan diri untuk turut serta dalam proses pemilihan Rektor ITB, untuk menggantikan Brigjen. Ir. Kuntoadji, yang mengakhiri masa baktinya. Pada waktu itu, proses pemilihan calon rektor dilaksana­ kan secara sangat demokratis dan terbuka, serta diikuti pula oleh beberapa tokoh terkemuka dari luar masyarakat ITB. Diundangnya unsur-unsur luar ITB dalam proses pencalonan rektor adalah dalam rangka usaha ITB untuk menjaring calon rektor yang terbaik, dalam kenyataannya memang sudah tiga kali berturut-turut ITB mendapatkan seorang rektor dari luar.

Pada waktu itu, dari luar ITB, turut serta dalam proses tersebut seorang akademikus, perwira tinggi ABRI yang sangat terkemuka. Beliau adalah seorang letnan jenderal yang sudah dikenal tinggi tingkat citra masyarakatnya, kepemimpinannya, serta luas pengalaman dan wawasannya; juga meyakinkan integritas pribadinya. Pada akhir proses pencalonan itu, memang ternyata perwira tinggi ABRI itu menduduki urutan prioritas pertama. Selain beliau ada dua calon final -diantaranya saya sendiri- yang diajukan kepada Menteri P dan K untuk akhirnya diteruskan kepada Presiden untuk penetapannya. Mengingat, bahwa sejak diresmikannya sudah tiga kali berturut-turut ITB mendapatkan seorang rektor dari luar lingkungan staf akademik sendiri dan memperhatikan pula situasi umum di tanah air pada waktu itu, maka kami pada umumnya berspekulasi bahwa Bapak Presiden akan cenderung memilih akademikus yang juga perwira tinggi ABRI untuk memimpin suatu lembaga pendidikan tinggi teknologi yang sangat penting itu. Akan tetapi ternyata, di luar dugaan, Bapak Presiden Soeharto telah mempercayakan pimpinan ITB kepada saya dengan memberikan pesan-pesannya.

Keputusan Bapak Presiden yang sedemikian itu, dalam aspek tertentu menunjukkan tidak benarnya anggapan pada waktu itu, bahwa pimpinan negara lebih nyaman (comfortable) mempercayakan kepemimpinan kepada unsur ABRI demi ketertiban. Dan dengan keputusan Presiden itu, ITB untuk pertama kalinya mendapatkan seorang rektor dari lingkungan akademik sendiri. Hal tersebut merupakan suatu pelajaran tersendiri bagi kami, yang umumnya terdiri dari akademisi sebaya dan berpengalaman sama, untuk melihat lebih cermat dalam lingkungan sendiri serta mengakui adanya perbedaan dan kelebihan prestasi atau kemampuan kepemimpinan diantara sesama rekan-rekan untuk dipilih sebagai pimpinan.

Pada tahun pertama saya menjabat Rektor ITB, yakni pada pertengahan tahun 1969, ITB mendapat kehormatan besar dengan kunjungan Presiden Soeharto untuk pertama kalinya di kampus ITB. Beliau datang untuk menghadiri peringatan “50 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Bumi Indonesia”. Pada kesempatan itu, beliau sempat pula mengunjungi Student Center, yang telah dibangun atas usaha Dewan Mahasiswa. Beliau dengan akrab beramah-tamah dengan para mahasiswa; bahkan Pak Harto memberikan kehormatan kepada para mahasiswa dengan berkenannya beliau mengenakan jaket biru mahasiswa ITB yang beremblem Ganesha. Pada waktu kunjungan itu, saya baru melihat Pak Harto sungguh gembira dengan tulus dan rileks, sambil banyak menunjukkan senyumnya. Para mahasiswapun sangat antusias dan wajar dalam sambutan serta ucapan-ucapan mereka.

Di tahun-tahun kemudian, selaku pembantu pimpinan negara dalam bidang pendidikan, sebagai Rektor dan Direktur Jenderal Pendidikan Tiriggi, saya lebih memahami, bahwa Pak Harto menaruh perhatian yang tulus dan sangat besar akan keadaan mahasiswa dan kelancaran studi mahasiswa. Pada suatu hari, di awal tahun 1970-an, saya mendapat panggilan penting dari Menteri P danK, pada waktu itu Pak Sjarif Thajeb. Menteri menyampaikan pertanyaan Pak Harto mengenai salah satu kebijaksanaan dan tindakan yang telah saya laksanakan terhadap beberapa mahasiswa yang bertanggungjawab untuk melaksanakan program Orientasi Studi (OS) mahasiswa baru ITB. Memang program tersebut telah disusun oleh Dewan Mahasiswa atas petunjuk-petunjuk pimpinan ITB dan pelaksanaannya dipercayakan kepada para mahasiswa, dengan diamati oleh dosen-dosen pembimbing.

Bapak Presiden menanyakan alasan pimpinan ITB mengenakan skorsing kepada beberapa mahasiswa penanggungjawab OS, dan apakah sifat skorsing itu hanya dalam tugasnya sebagai penanggungjawab OS atau juga terhadap kewajiban studinya? Saya cukup terkejut ketika menyadari bahwa Bapak Presiden Soeharto cermat memperhatikan keadaan di lapangan, khususnya hal ihwal mahasiswa. Saya juga kaget, sebab hal itu mungkin untuk pertama kalinya seorang mahasiswa dikenakan sanksi akademik, bagi suatu kesalahan yang terjadi dalam kegiatan·yang sifatnya co-curricular. Saya menjelaskan alasan dari sanksi yang telah dikenakan yang mem punyai implikasi akademik itu. Saya jelaskan bahwa sanksi tersebut absah menurut aturan dan kewenangan yang berlaku dan diindahkan di ITB, disamping bahwa tindakan tersebut sesungguhnya mempunyai nilai edukatif pula. Sementara itu mahasiswa yang bersangkutan memang telah diberikah penjelasan sepuasnya mengenai sifat dari kelalaiannya, serta diberikan kesadaran akan implikasi­implikasi yang lebih luas dari tindakannya. Oleh karena itu secara jujur mereka menyatakan dapat inengerti dan menerima.

Selanjutnya, saya kemukakan pendapat kepada Pak Menteri bahwa tindakan tegas tapi correct itu ialah untuk menunjukkan kepada pihak masyarakat di luar kampus ITB, bahwa pimpinan ITB dapat menjaga ketertiban rumah-tangganya sendiri dan tidak memerlukan campurtangan dari luar. Saya juga menyampaikan bahwa ITB menjamin bahwa tiap sanksi yang dilaksanakan, sejauh mungkin mempunyai suatu segi edukatif pula, dan bukan untuk mematikan harapan mahasiswa dalam mengejar cita-cita. Beberapa hari kemudian, Pak Sjarif memberitahukan kepada saya bahwa Bapak Presiden memahami masalahnya dan berpesan agar saya terus melaksanakan tugas dengan bijaksana, untuk mengatur urusan kampus sendiri, Sewaktu saya menjabat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, saya lebih jauh memahami bahwa perhatian Pak Harto terhadap mahasiswa, tidak hanya kepada mahasiswa ITB saja, tetapi kepada mahasiswa dan pelajar pada umumnya. Hal ini adalah sesuai dengan apa yang sering beliau katakan dalam pidato-pidato resmi, yakni betapa vitalnya sumber-daya manusia yang berpendidikan, memiliki pengetahuan, keterampilan dan semangat kerja membangun bagi pembangunan bangsa dan negara.

Sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, secara ex-officio, saya pernah mendapat kehormatan untuk duduk sebagai anggota pengurus Yayasan Beasiswa Supersemar. Saya mengenang rapat­rapat pengurus periodik tahunan sebagai saat-saat yang paling menyenangkan dalam seluruh pengalaman saya membantu Pak Harto. Sebab, pada rapat yayasan itu, yang dilaksanakan dalam suasana privat dan di kediaman Pak Harto di Jalan Cendana, beliau nampak sedemikian rileks dan berbahagia dalam menerima laporan hal-ihwal pelaksanaan pemberian beasiswa, kemajuan-kemajuan dan masalah-masalah belajar. Beliau dengan penuh perhatian mendengarkan usul-usul kami, para anggota, bagi penyempurnaan pedoman-pedoman, atau mengenai kemungkinan diluluskannya kategori penerima beasiswa baru, seperti mahasiswa pasca-sarjana, promovendus dan lain sebagainya. Sementara itu, saya amati, betapa cermat dan telitinya beliau mengikuti pembukuan keuangan yayasan.

Saya kira, didalam mempelajari masalah-masalah dan kondisi belajar para pelajar/mahasiswa serta dalam memikirkan, mempertimbangkan bantuan -wajar- yang dapat diberikan kepada mereka dalam rangka Yayasan Beasiswa Supersemar, maka Pak Harto mendapatkan informasi serta perhatian yang mendalam mengenai realita kehidupan mahasiswa kita. Oleh karena itu tidak mengherankan, bila perhatian beliau juga menjangkau kepada permasalahan pemukiman dan asrama mahasiswa. Dengan senang hati saya mengikuti kegembiraan Pak Harto dalam mengembangkan pikiran beliau tentang pembangunan asrama mahasiswa, serta kemungkinan manajemennya oleh perkoperasian mahasiswa.

Bahwa Pak Harto, jika membicarakan sesuatu hal, dapat sampai kepada detailnya, kini sudah dipahami benar oleh para pembantu beliau pada umumnya. Bagi saya sendiri, pertama kali saya menyaksikan dan mendengarkannya adalah ketika selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, saya mendampingi para mahasiswa yang baru menyelesaikan pertemuan ISMS (Ikatan Senat Mahasiswa Sejenis) Peternakan, mengunjungi ranch Triple S, di Tapos. Sebelumnya, sungguh saya merasa khawatir bahwa kunjungan itu akan gagal. Sebab pada waktu itu sedang gencar-gencarnya mahasiswa di beberapa universitas menyatakan tidak dapat menerima setiap pengaturan, pembenahan yang menyangkut keorganisasian kegiatan mahasiswa, seperti misalnya ISMS itu.

Ide tersebut sesungguhnya kami kembangkan dalam rangka menyediakan wahana dan kesempatan agar para mahasiswa sudah sejak dini belajar bergiat dan berorganisasi dalam bidang keprofesiannya dengan melampaui batas dinding pemisah antar universitas, hal ini dimaksudkan dalam rangka memupuk jiwa dan sikap profesionalisme. Pada permulaannya, hanya terdapat beberapa jenis bidang studi saja dimana senat-senat mahasiswanya sudah terkoordinasi dalam ISMS secara nasional, seperti ISMS Pendidikan, ISMS Farmasi dan lain sebagainya. Penentapgan itu disebabkan oleh adanya anggapan bahwa usaha tersebut adalah dalam rangka policy NKK; penentangnya yang utama adalah mahasiswa beberapa universitas di Jawa.

Sebaliknya, kami khawatir bahwa Pak Harto sendiri mungkin saja berhalangan pada saat-saat akhir. Kami mengambil risiko-risiko itu, karena meyakini bahwa kalau sajapara mahasiswa yang memikirkan bidang studinya secara serius, dapat bertemu dengan Pak Harto, dalam bidang yang sama ditekuni dan digemari, yakni peternakan, serta melihat percontohan-percontohan yang baik, maka akan sangat baik dampaknya secara edukasional ataupun politis pada waktu itu.

Demikianlah, pada hari yang ditentukan, para mahasiswa Fakultas Peternakan dari berbagai universitas di Indonesia datang dalam beberapa bus sebelum jam yang ditentukan. Sesudah beberapa waktu kemudian Bapak Soeharto tiba dengan satu mobil saja dan dengan pakaian yang santai. Selanjutnya, sambil berjalan santai, diikuti oleh para mahasiswa, Pak Harto dengan bergairah memperlihatkan ternak-ternak basil eksperimentasinya, sambil menerangkan cara-cara perawatan dan dasar dasar ilmiahnya. Saya sangat terkesan bahwa Pak Harto memahami konsep dasar genetika, mikrobiologi fermentasi, dan lain-lain dengan baik, serta menunjukkan penerapannya didalam percobaan-percobaannya. Sementara itu, selama melaksanakan percobaan-percobaan tersebut, Pak Harto telah mengakumulasikan informasi data yang sangat banyak, yang sebagian besar beliau hafal di luar kepala. Sambil mengikuti rombongan mahasiswa itu dan menyaksikan cara Pak Harto memberikan penjelasan, saya berpikir bahwa Pak Harto itu adalah seorang peneliti yang cermat dan baik selain sebagai pendidik.

Malah didalam mendidik, beliau memperlihatkan kesenangan dan kegembiraan untuk mengajar. Semua pengetahuan dan keterampilan yang beliau kuasai itu, sudah barang tentu adalah karena beliau telah mempelajarinya dengan baik serta tetap berusaha untuk menambah ilmu dan kemampuannya sepanjang hayat.

Didalam menjalankan tugas membina pendidikan tinggi dan membantu perguruan-perguruan tinggi agar dapat melaksanakan missinya dengan baik, telah beberapa kali saya menghadapi masalah­masalah khusus yang memerlukan konsultasi dengan Menteri P dan K dan Bapak Presiden. Tetapi jelas bahwa Pak Harto memberikan keleluasaan sepenuhnya kepada penanggungjawab di lapangan untuk mengembangkan kebijaksanaan pelaksanaan. Pada suatu hari, Menteri P danK Sjarif Thajeb, memberitahukan kepada saya, selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, bahwa karena laporan­-laporan yang sampai kepada Bapak Presiden serta melihat situasi umum yang kurang memuaskan dan telah dimaklumi umum pula, beliau telah mempertanyakan kepada Menteri P dan K apakah tidak sebaiknya diadakan pergantian pimpinan di suatu perguruan tinggi. Oleh karena mengenal situasi dan kondisi lembaga pendidikan yang dimaksudkan itu secara baik sekali, serta memperhitungkan dampak sampingan yang akan lebih parah, saya berpendapat bahwa saatnya belum tepat untuk mengambil kebijaksanaan demikian. Saya kemukakan bahwa diperlukan suatu fase transisi untuk persiapan memasuki suatu perubahan.

Memahami uraian itu Pak Sjarif Thajeb memutuskan untuk audiensi kepada Bapak Presiden bersama saya di Jalan Cendana. Setelah mohon izin kepada Bapak Presiden, agar saya diperkenankan memberi keterangan mengenai situasi dan kondisi di perguruan tinggi yang dimaksud, Pak Sjarif mempersilakan saya menceritakannya dan sekaligus pula mengemukakan pikiran saya bagaimana sebaiknya situasi itu ditangani. Pak Harto mengikuti uraian saya dengan sabar dan cermat sekali, dan baru sesudahnya beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Akhirnya beliau menyampaikan kepada Pak Sjarif bahwa ada baiknya pemikiran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi diberi kesempatan untuk dilaksanakan.

Dalam jaba an saya sebagai Ketua Lembaga Non-Departemental LIPI, saya lebih banyak lagi berkesempatan untuk beraudiensi langsung dan seorang diri pada Bapak Presiden Soeharto. Pada masa saya membantu Presiden dalam pembinaan kebijaksanaan-kebijaksanaan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka di bidang-bidang inipun saya menyadari bahwa Pak Harto tidak hanya menaruh perhatian karena tanggungjawab beliau selaku penanggungjawab administrasi tertinggi. Dalam banyak hal beliau menunjukkan suatu interest yang sebenarnya terhadap masalahnya sendiri, terutama bila kaitannya dan dayagunanya adalah jelas bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan pembangunan.

Demikian sekelumit kenangan tentang pengalaman-pengalaman saya dalam membantu, langsung atau tidak langsung, Bapak Soeharto sebagai Presiden. Banyak yang telah saya pelajari dari petunjuk-petunjuk dan pengarahan-pengarahan beliau secara pribadi, dan didalam hampir duapuluh tahun membantu beliau dalam berbagai jabatan, saya telah membangun suatu citra pribadi mengenai Pak Harto. Dibalik fungsi resmi kepresidenannya sebagai negarawan, beliau adalah seorang guru dan seorang pelajar sepanjang hayat yang tekun, dan sangat menonjol kemanusiawiannya.

***


[1]     Doddy Tisna Amidjaja, “Negarawan, Guru Dan Pelajar Sepanjang Hayat”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 887-895.

[2]     Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) periode 1980-1988; selanjutnya menjadi Duta Besar untuk Prancis

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: