Feb 152018
 

DITELITI ULANG, KEMUNGKINAN PENGOLAHAN KEMBALI PELUMAS BEKAS

 

 

Jakarta, Antara

SEBUAH TIM antar-departemen sedang meneliti ulang kemungkinan pengolahan kembali pelumas bekas di dalam negeri, kata Menteri Pertarnbangan dan Energi Ginanjar Kartasasmita di Jakarta Kamis.

“Kini di teliti lagi apakah benar ada teknologi yang mampu secara ekonomis mengolah kembali pelumas bekas menjadi seperti baru,” katanya menjawab pertanyaan wartawan di Cendana setelah dia melapor kepada Presiden Soeharto tentang rencana perjalanannya ke Amerika Selatan.

Hasil penelitian itu, lanjutnya, akan dilaporkan ke Pemerintah sehingga nanti dapat diputuskan apakah izin pendirian pabrik pengolah pelumas bekas dapat diberikan atau tidak.

Pemerintah dalam hal ini haru s bersikap hati-hati, sebab kalau sampai keliru maka resikonya berat. Dia mengingatkan, minyak pelumas merupakan barang strategis. “Jangan sampai produknya nanti justru merusak mesin-mesin sehingga merugikan masyarakat,” katanya.

Peluang bagi usaha pengolahan pelumas bekas oleh swasta terbuka setelah ada surat Keputu san Presiden (Keppres) no .18/ 1988 tertanggal 22 Juni 1988. Pihak Pertamina pemah mengakui sudah ada perusahaan swasta yang berminat mengolah kembali pelumas bekas, namun izin belum dikeluarkan. Apa Keppres no. 18/1988 itu akan ditinjau kembali?, tanya pers. “Berdasarkan hasil penelitian tim itu nanti akan ditetapkan, apakah akan ditinjau kembali atau dilanjutkan,” jawab Ginanjar.

Penelitian ulang itu, katanya, diperlukan untuk menghindarkan banyaknya perubahan kebijaksanaan. “Mumpung belum ada izin yang dikeluarkan, sebaiknya kita mantapkan betul apakah memang mungkin pengolahan pelumas bekas sesuai persyaratan yang ditetapkan,” kata Ginanjar. Pemerintah sampai kini belum mengeluarkan izin bagi pembangunan pabrik pengolah pelumas bekas, karena salah

satu syaratnya adalah harus mendapat rekomendasi Pertamina, perusahaan minyak nasional yang sudah berpengalaman banyak memproduksi berbagai jenis minyak. Tim inter-dep yang ditugasi meneliti ulang itu terdiri unsur-unsur departemen pertambangan dan energi, Pertamina, departemen perindustrian, departemen perhubungan dan beberapa lembaga penelitian. “Tim itu diminta meneliti ulang, jangan sampai kita menyesal nanti,” demikian Ginanjar.

Karnis itu dia melapor kepada Presiden tentang rencana perjalanannya ke empat negara di Amerika Selatan yakni Venezuela, Equador, Colombia dan Meksiko. Tujuannya, untuk mengajak negara-negara penghasil minyak itu sama-sama menjaga kestabilan harga minyak dunia, dengan jalan mengendalikan produksi mereka masing­masmg.

Ginanjar juga melaporkan rencana kedatangan Menteri Perminyakan Arab Saudi Hissam Nazer ke Indonesia mulai 20 Januari mendatang.

Dia menilai kunjungan itu penting untuk membahas lebih mendalam upaya memelihara harga minyak yang cenderung membaik dalam rangka konsolidasi OPEC. Hissam Nazer juga akan melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto, selain bertemu dengan Menteri/Ketua Bappenas Saleh Afiff karena diajuga masih merangkap sebagai menteri perencanaan Saudi.

 

 

Sumber : ANTARA (05/01/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 733-734.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: