Sep 142018
 

DITANGKAP, EMPAT PEMALSU TANDATANGAN PRESIDEN[1]

 

Palu, Suara Karya

Dengan tujuan ingin minta proyek, empat pemuda berani memalsukan tandatangan Presiden Soeharto. Mengaku petugas intel dari Istana Negara ,mereka diciduk tatkala bertemu dengan Bupati Poso, Arief Patanga SH. KM, mereka diinterogasi di Makorem 132 Tadulako Palu, untuk pengusutan lebih lanjut.

Danrem 132 Tadulako, Kolonel lnf Haryono ketika dihubungi wartawan di Palu, Selasa, mengakui bahwa pihaknya kini sedang memeriksa keempat oknum tersebut. Bahkan, “Berdasarkan hasil pemeriksaan, surat-surat yang mereka miliki palsu,” katanya. Keempat oknum tersebut ialah AD ,TL, AL dan HA.

Menurut Haryono pada 14 Oktober 1993, mereka datang ke kantor Bupati Poso. Maksudnya ingin bertemu dengan Bupati Arief Patanga SH. Tapi, sebelum menerimanya, Bupati Arief terlebih dulu mengontak Kodim setempat. Pihak Kodim lalu mengisyaratkan agar tetap menerimanya pada jam tertentu dan agar dari Kodim dapat mendampinginya. Dan betul, ketika diterima mereka mengaku sebagai petugas intel berpangkat kapten dari istana negara yang hendak melihat-lihat proyek pembangunan di IBT untuk kemudian dilaporkan kepada Presiden. Tapi, ternyata setelah diselidiki, surat-surat tersebut memiliki keanehan-keanehan. Petugas dari Kodim Poso pun menaruh curiga. Dan kemudian menggiring mereka ke Makodim Poso untuk dimintai keterangannya.

Karena pentingnya kasus ini, pada 16 Oktober 1993 pihak Makodim Poso kemudian melimpahkan perkara itu kepada Makorem 132 Tadulako, Sulteng, di Palu untuk diproses lebih Ianjut.

Dalam pemeriksaan di Palu, mereka mengaku memalsukan surat-surat dan tandatangan Presiden Soeharto. Maksudnya, semata-mata hanya untuk memperoleh tersangka. Danrem mengatakan, jika saja kasus yang dilakukan mereka hanya sampai pacta tindak pidana biasa maka akan dilimpahkan kepada pihak kepolisian. Tapi,kalau ada unsur politiknya, maka akan diusut secara tuntas. (KM-1)

Sumber: SUARAKARYA( 23/10/1993)

_________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 682-683.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: