Mei 012018
 

DIPLOMASI SOEHARTO, DIPLOMASI EKONOMI DEMI GNB

 

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto 20-29 September nanti mu lai melancarkan perjuangan diplomasi tingkat tinggi selaku Ketua Gerakan Non-Blok (GN6) sejak suksesnya KTT X GNB lalu.Tentu saja, ini merupakan perjuangan berat dan penuh tantangan, sedikitnya dalam tiga tahun mendatang.

Awal perjuangan diplomasi itu akan dimulainya selaku. Ketua GNB dengan mengunjungi Amerika Serikat dan Jepang, termasuk berpidato menjabarkan hasil-hasil KTT X GNB di depan Sidang Umum PBB, New York, 24 September.

Perjuangan berat Pak Harto itu men yangkut nasib negara-negara sedang berkembang, untuk mengangkat harkat penduduknya yang merupakan lebih 60% umat manusia di planet bumi ini. Adalah fakta bahwa mayoritas negara-negara anggota GNB itu terkebelakang, masih d ihimpit ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan dan penyakit.

Sesungguhnyalah sentrum penderitaan GNB selama ini tidak hanya di lembah sungai Mekong, di delta Gangga-Brahmanaputra, atau di dataran rendah lrawadi dan hamparan DAS Indus, tapi juga di belantara dan gurun Afrika, di mana jutaan manusia kini terperangkap bahaya peperangan dan dahsyatnya kelaparan.

Rintihan derita Dunia Ketiga yang harus diperjuangkan nasibnya oleh Pak Harto juga terhampar di Bosnia-Herzegovina, di Asia Tengah, Amerika Latin dan Karibia. Duka derita juga masih menindas jutaan penduduk hitam di Afrika Selatan dan para pengungsi Palestina.

Derita tiada habisnya itulah sesungguhnya bopeng dunia, luka sejarah umat manusia, yang hanya sedikit orang mau peduli.

Karena itu, perjalanan Presiden Soeharto selaku Ketua GNB ke Sidang Umum PBB di New York pekan depan merupakan perjuangan diplomasi yang sangat bersejarah. Khususnya dalam sejarah perjuangan diplomasi ekonomi dan pembangunan.

 

Inventarisasi Masalah

Jika diinventarisasi, sesungguhnya sangat luas pennasalahan GNB yang harus diperjuangkan dalam tiga tahun mendatan g oleh Presiden Soeharto. Pemasalahan politik saja, misalnya, masih belum tuntas malahan masih tetap rumit dan tiada habis­ habisnya di seantero negara-negara GNB.

Sejumlah permasalahan lainnya juga masih menggunung yang harus ditangani segera, terutama di bidang ekonomi. Misalnya, sangat mendesak langkah ke penyelesaian masalah utang yang membelit negara-negara anggota GNB, terutama yang mendera negara-negara sangat miskin dan tidak mampu lagi membayarnya.

Juga sangat mendesak kelanjutan Dialog Utara-Selatan, terutama untuk meluncurkan lagi perjanjian Putaran Uruguay ke arah tercapainya penyelesaian menyeluruh atas ketimpangan perdagangan dunia selama ini. Hal tersebut berkaitan erat dengan perlunya pemecahan atas ketimpangan neraca pembayaran internasional.

Sejalan dengan itu, GNB harus mencari akal bagaimana menarik investasi negara­negara maju ke negara-negara GNB. Juga mendesak untuk menggalakkan kerjasama Selatan-Selatan. Semua itu saling berkait, merupakan masalah globalisasi. Semua itu mengacu pada sangat pentingnya tercipta Tata Dunia Baru, baik dalam ekonomi dan politik, maupun sosial dan budaya.

Demokratisasi global yang dipesankan oleh The Jakarta Message pada intinya adalah bagaimana membangun dunia baru yang adil, sejahtera dan membahagiakan semua orang dengan sikap kerjasama, dan bukannya dengan sikap konfrontatif.

Karena itu, sangat diyakini, jika Indonesia berhasil menggalakkan kerjasama Selatan-Selatan, niscaya kekuatan Selatan akan bertambah daya dalam Dialog Utara­ Selatan. Keberhasilan itu akan lebih solid jika mampu mendorong lebih nyata bagi terciptanya kerja-sama Utara-Selatan, khususnya kerjasama ekonomi pembangunan.

Jika kerjasama Selatan-Selatan itu terlaksana lebih baik, apalagi dengan disusulnya kerjasama Utara-Selatan, maka itu berarti Indonesia selaku Ketua GNB telah mencapai puncak harapan KTT X GNB. Sebab pembangunan ekonomi memang menjadi tumpuan harapan GNB belakangan ini.

Hal itu tidak lain, karena negara-negara GNB telah terlalu lama terbenam dalam permasalahan politik yang tiada habis-habisnya, sementara penanganan kerjasama ekonomi dan pembangunan terlantar penggarapannya.

Sadar pada tanggungjawab yang berat itu, kiranya Presiden Soeharto akan berjuang memperoleh dukungan masyarakat dunia, terutama dari negara-negara maju (Utara) agar mau membangun di negara-negara GNB (Selatan) atas dasar semangat kerjasama yang saling menguntungkan.

 

Perjuangan Diplomasi

Langkah Pak Harto ke PBB kali ini memang merupakan suatu awal perjuangan diplomasi ekonomi pembangunan yang panjang, rumit, berbelit serta meminta kesabaran dan ketekunan setelah KTT X GNB. Manuver diplomasi ekonomi itu tentu memerlukan penjelajahan ke seantero penjuru dunia, sedikitnya dalam tiga tahun mendatang. Semua itu, tidak lain, adalah demi kemajuan GNB.

Malahan untuk periode GNB mendatang ini, makna perjuangan diplomasi ekonomi pembangunan akan jauh lebih berperanan dan menentukan ketimbang perjuangan diplomasi di bidang politik. Diplomasi ekonomi pembangunan agaknya, memang harus jadi orientasi baru GNB masa depan.

Hanya dengan ketekunan berdiplomasi itulah GNB bisa memperoleh dukungan dari masyarakat internasional, terutama dari negara-negara maju dan lembaga-lembaga internasional yang bonafid.

Namun bargaining position dari diplomasi ekonomi itu haruslah bertumpu pada potensi yang dimiliki oleh negara-negara anggota GNB sendiri yang kini 108 negara- untuk bersatu kukuh dan bekerjasama sungguh-sungguh. Mau tidak mau, political will segenap anggota GNB itulah, sebagaimana mereka tunjukkan dalam KTT X GNB, akan menjadi modal dasar diplomasi ekonomi pembangunan tersebut pada masa mendatang.

Diplomasi ekonomi pembangunan itu diyakini- untuk jangka panjang-akan mampu melahirkan langkah seiring terciptanya kerja-sama Selatan-Selatan dan kerjasama Utara-Selatan. Kerjasama itu, satu sama lainnya, diharapkan akan saling memperkuat kemauan sehingga tercapai Tata Dunia Baru yang membahagiakan semua pihak.

Bentangan masalah yang akan dibawa oleh Presiden Soeharto dari hasil-hasil KTT X GNB ke depan Sidang Umum PBB, New York, 24 September nanti tentu bermakna sangat strategis bagi kerjasama internasional, terutama bagi masyarakat dunia ketiga. Kita percaya dan berharap, dengan kearifan pengalaman Pak Harto sebagai negarawan selama ini, perjuangan diplomasi ekonomi itu akan membuahkan hasil yang lebih menggembirakan semua pihak, khususnya GNB.

 

 

Sumber : BISNIS INDONESIA (15/09/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 199-201.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: