Jul 172017
 

DIPANGGIL KE JAKARTA, SEMUA DIRUT PERKEBUNAN NEGARA

Semua Direktur Utama PN dan PT Perkebunan (PNP dan PTP) dari seluruh Indonesia sekitar akhir Agustus nanti akan dikumpulkan di Jakarta untuk mendengarkan pengarahan dari Presiden Soeharto. Tetapi Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Tanaman Keras Ir. Hasjrul Harahap selesai diterima Presiden Soeharto dikediaman jalan Cendana hari Rabu, tidak bersedia menjelaskan lebih terperinci dalam rangka apa para dirut itu dikumpulkan.

Awal April lalu Kepala Negara memanggil Dewan Komisaris dan Direksi Pertamina ke Istana Merdeka, dan mereka ini diinstruksikan untuk memperbaiki sistem pengobatan dan efisiensi pengelolaan perusahaan negara itu.

Ada kemungkinan pemanggilan para pengelola perusahaan perkebunan negara itu juga mirip pemanggilan pengelola Pertamina tersebut. Sebab beberapa waktu lalu berdasarkan pengamatan di lapangan, pernah disiarkan di surat kabar ini banyaknya kebocoran diperkebunan­pekerbunan milik negara, khususnya didaerah Sumatera Utara.

Kepada pers kemarin Menmud Hasjrul Harahap hanya mengatakan, kepada para direktur utama, Presiden Soeharto akan memberikan petunjuk langsung mengenai pemantapan, pemahaman dan pengamalan tugas dan tanggung jawab perusahaan perkebunan milik negara sebagai aparat pemerintah dalam pembangunan.

Dua Tugas Pokok

Diingatkan, perkebunan negara mempunyai dua tugas pokok. Pertama, bagaimana meningkatkan produktivitas dan berusaha seefisien mungkin untuk memberikan keuntungan sehingga dapat memberikan sumbangan yang cukup bagi negara.

Kedua, bagaimana supaya perkebunan negara tersebut dapat merupakan penggerak perkebunan rakyat yang oleh GBHN diamanatkan menjadi tulang punggung pembangunan perkebunan ditanah air. Sedangkan perkebunan negara hanya menjadi pendukung dan perkebunan besar swasta menjadi penunjang.

Menurut Ir. Hasjrul Harahap beberapa mata dagangan perkebunan dewasa ini sebagian besar telah diusahakan oleh rakyat. Misalnya karet sudah 80 persen. Maka dagangan strategis lainnya, misalnya kelapa sawit yang akan dijadikan primadona ekspor oleh pemerintah, sedang diusahakan melalui PIR (Perkebunan Inti Rakyat).

Karena pemerintah ingin lebih mendorong peningkatan ekspor non minyak dan gas bumi demi penghasilan devisa bagi pembangunan negara, peningkatan produksi PNP dan PTP tampaknya juga akan ditekankan Kepala Negara dalam pertemuan akhir Agustus nanti.

Kelapa Sawit

Mengenai terbuangnya 1.000 ton kelapa sawit setiap hari di daerah Sumatera Utara seperti yang diberitakan Kompas akhir pekan lalu, Ir. Hasjrul Harahap mengakui, sekarang ini produksi kelapa sawit memang meningkat. Ini disebabkan dilepaskannya serangga penyerbuk tahun lalu. Peningkatan produksi tersebut membuat pabrik kewalahan dan terlambat mengolahnya. Tapi itu tidak berarti hasil kelapa sawit itu dibuang atau dibakar.

Yang dilaporkan media massa tentang ada yang terbuang menurut Menmud, bukannya dibuang. Yang dilihat wartawan ketika itu adalah kelapa sawit yang diturunkan di jalan oleh sopir truk untuk menghindari uji petik angkutan jalan raya, Sedangkan yang dilaporkan dibakar, bukan biji kelapa sawitnya, tetapi tandan yang sudah diambil buah segarnya.

Peningkatan produksi sekarang menurut Hasjrul Harahap, sudah diperhitungkan sebelumnya. Karena itu pihak perkebunan sudah tujuh kali mengadakan rapat bersama dan langkah-langkah untuk mengatasi peningkatan produksi tersebut sudah diambil. Antara lain dengan meningkatkan kemampuan pengolahan dengan meningkatkan daya steam (penguapan) untuk merebus buah tandan segar.

Dijelaskan, setiap kali merebus buah segar kelapa sawit sekarang ini dibutuhkan cukup 60 menit. Tetapi dengan semakin banyaknya buah segar per tandan dengan penyerbukan oleh serangga sekarang, dibutuhkan tambahan 15 menit lagi. Karena tandannya rapat-rapat buahnya sehingga steam-nya untuk memasak membutuhkan waktu lebih lama.

Peningkatan kemampuan pengolahan antara lain dengan membagi (memotong) tandannya serta meningkatkan daya pemasakan dengan meningkatkan daya tekanan steam.

Sementara itu menyangkut masalah pengangkutan kepada Gubernur Sumatera Utara telah diminta bantuan untuk mengatur pengangkutan kelapa sawit ke pabrik dengan sistem rayonisasi sehingga lebih efisien.

Upaya lainnya dengan membiarkan kelapa sawit di pohon dulu kalau pabriknya belum mampu mengolah. Kalau biasanya 6-7 hari dipetik, ditunda sampai 10/hari.

Pemecahan dalam jangka panjang menurut Hasjrul Harahap dengan menambah pabrik kelapa sawit, tapi ini membutuhkan waktu karena investasinya cukup besar. Dikatakan dengan penyerbukan melalui serangga sekarang produksi diperkirakan akan meningkat 15 persen. (RA)

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (09/08/1984)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 913-914.


Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: