Mei 292017
 

PENEGASAN PRESIDEN SOEHARTO :

DI BUMI INDONESIA TAK BOLEH ADA JUDI BENTUK APAPUN JUGA

Presiden Soeharto memerintahkan di bumi Indonesia tidak boleh ada judi dalam bentuk apapun juga, baik yang formil maupun tidak.

Perintah ini disampaikan Presiden lewat Menhankam/Pangab Jendral M.Yusuf, yang datang melapor, Senin kemarin, di Bina Graha

Menurut Jendral Yusuf, perintah ini dikeluarkan sehubungan dengan adanya laporan dan sinyalemen di beberapa tempat ada yang menyelenggarakan perjudian di rumah kediaman dengan mengumpulkan beberapa teman sejawat, seperti disiarkan oleh beberapa harian tentang terjadinya hal itu di Jombang. Dikatakan perbuatan judi yang demikian itu pun tidak boleh ditolerir.

Dalam hubungan itu Presiden menginstruksikan kepada seluruh aparat negara, agar menindak seluruh perjudian, formil ataupun tidak. Siapa pun pelakunya harus ditindak, baik dia pegawai negeri dan apa saja. Kalau yang bersangkutan tidak mau menghentikan perbuatan judi tersebut, dia diberhentikan dari pekerjaannya.

“Pokoknya Presiden memerintahkan, bahwa dalam bentuk apa pun juga bukan hanya formil, pokoknya perjudian di Bumi Indonesia ini tidak boleh ada,” kata Yusuf.

Dalam hubungan larangan judi tersebut, selaku Menhankam/Pangab Jendral Yusuf juga sudah memerintahkan kepada semua aparat negara, agar menghentikan perbuatan judi, kalau tidak mau diberhentikan dari pekerjaan.

Kepada Presiden dilaporkannya bahwa larangan judi yang semula dikeluarkan, sudah dilaksanakan secara baik dan ditaati. Rumah judi yang formil sudah ditutup, tidak ada lagi. Tetapi persoalannya ada laporan dan sinyalemen bahwa di beberapa tempat ada pihak2 yang mengadakan perjudian di rumah kediamannya.

Jendral Yusuf mengharapkan, agar suasana yang baik sekarang ini, dan usaha bersama untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, terus lebih ditingkatkan lagi dan diperluas, bukan hanya status quo. Menurutnya yang demikian ini merupakan jalan terbaik yang harus ditempuh, dalam rangkaian meningkatkan ketahanan nasional.

Menhankam juga melaporkan pelaksanaan mutasi di lingkungan Hankam, yaitu Pangdam II Bukit Barisan Brigjen TNI AD. M.Sanif diganti oleh Brigjen TNI-AD Edy Sudrajat yang sebelumnya Pangkopur Kostrad.

Pangdam X “Lambung Mangkurat” (Kalsel) Mayjen Sudiman Saleh dan Pangdam IX “Mulawannan” Brigjen Murgito juga akan diganti, tetapi penggantinya belum disebutkan oleh Menhankam/Pangab.

Brigjen Murgito ditunjuk sebagai Pangdam VHI/Brawijaya menggantikan Letjen Witarmin. “Kalaupun saya sebut orangnya kau tidak kenal”, ucap Jendral Yusuf tentang Pangdam IX “Mulawarman” yang baru tsb.

Dalam pada itu Brigjen Sanit telah ditunjuk sebagai Asisten Operasi Hankam, menggantikan Letjen Seno Hartono yang sekarang menjabat sebagai Pangkowilhan IV. Asisten Logistik Hankam Laksamana Muda Kasenda ditunjuk sebagai Panglima Armada menggantikan Laksda Prasojo Mahdi, sedang Asisten Logistik Hankam belum disebutkan siapa pejabatnya.

Selain kedua hal tersebut Menhankam juga melaporkan rencana peresmian lapangan terbang “Ranai” di Natuna lapangan terbang yang akan diresmikan beberapa hari lagi itu akan mampu didarati oleh semua jenis pesawat terbang, sipil maupun militer. (RA)

Jakarta, Pelita

Sumber : PELITA (12/11/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 629-630.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: