Sep 132017
 

DEPTAN 1988 BANGUN EMPAT PABRIK GULA

 

 

Jakarta, Antara

Berbarengan dengan usaha untuk meningkatkan produksi gula menjadi 2,3 juta ton dalam tahun 1988 nanti rnelalui peningkatan produktivitas setiap hektarnya, pemerintah saat ini juga merencanakan pembangunan pabrik gula di Baturaja. Ladongi, Los Palos dan Paguyaman.

Mengutip laporan sidang Kabinet Terbatas yang dipirnpin Presiden Soeharto di Bina Graha, Jakarta hari Rabu , Humas Departemen Pertanian mengungkapkan, pabrik gula yang akan dibangun di Baturaja (Sumatera Selatan) berkapasitas 8.000 ton tebu per hari, di Ladongi (Sulsel) 4.000 ton, Los Palos (Timtim) 3.000 ton dan pabrik Paguyaman (Sulut) sebesar 4.000 ton.

Belurn diketahui, sumber dana untuk membiayai pembangunan keempat pabrik gula yang diperkirakan mencapai sebesar 350 juta dolar AS atau sekitar Rp.560 miliar tersebut.

Beberapa waktu lalu, Sekretaris Dewan Gula Indonesia Soedjai Kartasasmita memperkirakan bahwa harga gula di pasaran internasional akan semakin melonjak akibat menipisnya stok gula dunia yang saat ini sudah berada di bawah 40 juta ton.

Menurunnya stok gula, antara lain terjadi akibat tumbuhnya kesadaran masyarakat tentang bahaya penggunaan zat-zat pemanis buatan bagi kesehatan, di samping terjadinya peningkatan konsumsi akibat membaiknya situasi perekonornian dunia.

Harga gula tebu pernah mencapai titik terendah yaitu pada akhir tahun 1985 ketika harga gula pasir di pasar London (London Daily Price) anjlog menjadi Rp. 220 sekilogramnya.

Di samping akibat tingginya stok gula pasir dunia (di atas 41 juta ton), ditemukannya berbagai bahan subsitusi yaitu pemanis sintetis seperti “cyclamate” atau sirup fructosa yang biaya produksinya lebih murah namun kadar kemanisannya 50 kali lipat dibandingkan gula tebu, juga ikut memberikan andil anjlognya harga gula saat itu.

Kesulitan yang dihadapi Indonesia untuk memproduksi gula tebu antara lain tingginya biaya produksi akibat masih digunakannya mesin-mesin tua yang rendah produkti vitasnya sedangkan untuk menggantinya perlu investasi yang sangat besar.

Sebagai bahan perbandingan, sebuah pabrik penggilingan tebu di Indonesia memperkerjakan karyawan empat kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan pabrik berkapasitas sama di Australia yang terkenal sangat efisien biaya produksinya.

Di samping itu, usaha penanaman tebu di tanah-tanah subur di P. Jawa juga harus bersaing dengan komoditi pertanian lainnya seperti padi atau tanaman pangan lainnya.

Menurut catatan, harga gula (white sugar) tertinggi di pasar London pada periode antara 20 Maret-20 April, 1987 mencapai 206 dollar (sekitar Rp. 338.000 per ton) (LS) T.A17115:00/H02/87-05-07/mb).

 

 

Sumber: ANTARA (07/05/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 449-450.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: