Apr 202018
 

DENGAN KERJA KERAS, KESEJAHTERAAN DIHARAPKAN JADI KENYATAAN

 

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Presiden Soeharto mengatakan, kesejahteraan lahir batin rakyat daerah Timor Tirnur harus menjadi pusat perhatian Indonesia yang paling utama di masa datang. “Kesejahteraan lahir batin seluruh rakyat Indonesia itu pula, yang menjadi harapan kita memasuki tahun baru, tahun 1992. Dengan bekerja keras, dengan lindungan Tuhan Yang Maha Esa, kita percaya harapan kita itu akan menjadi kenyataan,” kata Presiden dalam pidatonya akhir tahun 1991 dan menyambut tahun 1992 melalui TVRI dan RRI Selasa malam.

Indonesia mengalami musibah yang tidak diharapkan, yaitu yang dikenal sebagai Peristiwa Dili 12 Nopember. “Semua aspek yang menjadi latar belakang dan peristiwa itu sendiri secara luas dan terbuka telah diketahui bersama dari laporan KPN yang saya bentuk,” tandasnya.

Dalam kesempatan ini, secara khusus, Presiden sekali lagi menyampaikan rasa bela sungkawa, yang sedalam-dalamnya kepada semua keluarga masyarakat Timor Timur yang anggota keluarganya yang tidak berdosa telah tewas dalam insiden itu. “Saya juga ingin menyatakan rasa ikut prihatin saya kepada keluarga-ke luarga di wilayah propinsi termuda itu yang sampai saat ini ada sanak keluarganya yang belum kembali ke rumah,” Ianjut Presiden.

Menurut Kepala Negara, banyak pelajaran yang harus diambil hikmahnya dari musibah ini. Dengan memperbaiki semua kekurangan dan kesalahan di masa lampau, Presiden mengajak seluruh jajaran pemerintah dan ABRI yang bertugas di daerah itu bersama-sama seluruh masyarakat melanjutkan pembangunan daerah Timor Timur.

 

Ekonomi

Menyinggung masalah ekonomi, kata Presiden, dalam tahun 1991 Indonesia mengalami musim kering yang keras dan panjang. Menghadapi keadaan ini telah diupayakan secara keras agar kebutuhan pangan tetap cukup dan swasembada beras dapat dipertahankan.

“Pengalaman ini menyadarkan kita, betapa perlunya memberi perhatian yang besar pada pembahan-pembahan iklim agar dapat mengambil langkah-langkah pengamanan jauh sebelurnnya,” kata Presiden.

Kekeringan seperti ini pernah terjadi di masa lampau dan dapat terjadi lagi di tahun-tahun mendatang, lanjutnya. Perubahan iklim ini disebabkan oleh pembahan iklim dunia sebagai akibat pemanasan bumi. “Sebagian besar bertambah panasnya bumi ini diakibatkan oleh kurangnya perhatian terhadap kelestarian lingkungan dan gaya hidup boros di negara-negara industri maju,” ujarnya.

Karena itu, kata Presiden, sambil tetap membangun sektor industri yang penting untuk kemajuan bangsa, perlu secara berencana dan terus-menerus memperhatikan kelestarian lingkungan baik di kota-kota maupun di desa-desa, di sungai-sungai dan di laut-laut maupun di gunung-gunung. “Kita harus memelihara sumberdaya dan lingkungan hidup agar anak cucu kita di masa datang mewarisi tanah air yang tidak tercemar dan dapat menjadi sumber kehidupan yang subur.”

Menurut Presiden, keserasian pembangunan dalam berbagai sektor ekonomi memang harus mendapatkan perhatian secara khusus. Kecepatan pembangunan pada suatu sektor yang belum dapat diimbangi oleh dukungan sektor lainnya dapat menimbulkan masalah baru.

“Karena itu dari waktu ke waktu, secara kenyal harus ditempuh berbagai kebijaksanaan penyesuaian untuk memelihara momentum kemajuan ekonomi yang telah dicapai. Dengan demikian akan menciptakan ekonomi yang tumbuh sehat, seimbang dan berkelanjutan,” kata Presiden.

Dalam hubungan ini, pengendalian inflasi dan keseimbangan neraca pembayaran tetap merupakan kebijakan pemerintah yang penting. “Saya menyadari bahwa kebijakan ini telah mengakibatkan kesulitan perkreditan di berbagai kalangan dunia usaha, namun langkah-langkah yang berat itu harus diambil secara berani, dan harus dipikul bersama dengan penuh kesadaran agar perekonomian tetap berkembang secara sehat dan aman.”

Cara itu ditempuh, sambil mencari jalan keluar yang tidak membahayakan perekonomian, secara keseluruhan, proyek-proyek besar dan strategis bagi perekonomian Indonesia dalam jangka panjang yang diundur waktu pembangunannya, lanjut Pak Harto.

Sejalan dengan bangkitnya prakarsa dan kemampuan masyarakat, hasil langkah-langkah deregulasi dan debirokratisasi yang telah dilakukan pada tahun-tahun lalu, tahun ini telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup memadai. “Laju inflasi juga berhasil dikendalikan, sehingga berada sedikit di bawah 10 persen. Gambaran perekonomian kita di tahun ini menunjukkan bahwa kita tetap memiliki ketahanan ekonomi,” kata Presiden.

Di tahun yang akan datang, lanjut Presiden, kewaspadaan harus ditingkatkan dalam pengendalian perekonomian nasional, karena sekarang pun telah ada tanda­tanda bahwa perekonomian dunia sedang mengalami kelesuan dan mengandung berbagai kemungkinan yang sulit diramal. “Yang penting adalah kebulatan tekad kita untuk bekerja keras, memanfaatkan secara tepat setiap peluang yang terbuka.”

 

Persaingan

Presiden Soeharto mengkhawatirkan dalam tahun 1992 akan kemungkinan munculnya negara kelompok-kelompok ekonomi yang pada akhimya melahirkan pertarungan antara kekuatan-kekuatan ekonomi besar dunia. Dalam pertarungan itu negara-negara yang lemah ekonminya dan yang sedang membangun akan menjadi korban pertarungan.

Kepala Negara menyebutkan, dengan berakhimya perang dingin, perhatian semua masyarakat dunia tercurah pada masalah ekonomi dan pembangunan. “Di samping, mengandung hal-hal yang membesarkan hati, perkembangan itu juga dapat mengandung hal-hal yang dapat memprihatinkan. Yang membesarkan hati adalah, apabila dana-dana sangat besar yang dahulu tersedot untuk perlombaan persenjataan, sekarang dialihkan untuk perbaikan ekonomi dan perbaikan bangsa-bangsa.”

Sebaliknya yang memprihatinkan adalah jika kesempatan perbaikan ekonomi dan pembangunan itu mengakibatkan lahimya kelompok-kelompok ekonorni yang kelak akan berhadapan satu sama lain, lanjut Pak Harto.

Menghadapi kemungkinan yang memprihatinkan itu, Presiden menyerukan kepada semua pihak untuk memikul tanggungjawab bersama untuk membangun tatanan dunia baru di bidang ekonomi maupun politik yang menjamin kebersamaan, keadilan, kemajuan dan kesejahteraan bersama.

 

Kesadaran Berbangsa

Presiden Soeharto menegaskan, pembinaan kesadaran kebangsaan harus benar­ benar memperoleh perhatian seluruh bangsa, karena kesadaran kebangsaan itulah nyawa kelangsungan hidup negara Indonesia.

“Pengalaman negara-negara lain menunjukkan bahwa kesadaran kebangsaan yang tidak terpelihara dengan baik akan merosot, yang mengakibatkan suatu negara terpecah -belah dan malahan sampai bubar.”

Dalam perubahan dunia tadi, lanjut Presiden terbukti bahwa adanya bangsa­bangsa yang dahulu merupakan satu bangsa kemudian terpecah-belah. “Dengan segala keprihatinan dan rasa simpati, Indonesia mengharapkan agar mereka dapat menyelesaikan masalah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.”

Indonesia dapat menarik pelajaran sangat berharga dari perkembangan ini, yaitu rasa persatuan dan kesatuan bangsa tidak bisa dianggap sebagai barang jadi. Persatuan dan kesatuan bangsa perlu terus-menerus dipupuk dengan penuh ketekunan dan dibina bersama dengan penuh tanggungjawab, lanjutnya.

Menurut Kepala Negara, rasa kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan harus diperkuat dengan langkah-langkah nyata di segala bidang kehidupan. Perubahan-perubahan yang diinginkan perlu dilakukan dengan sikap tanggungjawab, hati-hati dan waspada.

“Perubahan-perubahan itu tidak boleh membuka celah-celah yang rawan, sehingga membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Itulah sebabnya Indonesia bertekad untuk memelihara stabilitas nasional yang dinamis. Itulah sebabnya Indonesia memikul tanggungjawab bersama untuk mendinamisasi stabilitas yang memang merupakan kepentingan utama Indonesia untuk memelihara dan memantapkan persatuan bangsa dan meneruskan pembangunan,” kata Presiden.

Dikatakan, sikap Indonesia dalam menghadapi perubahan-perubahan dunia itu sangat jelas. “Indonesia akan tetap berusaha sekuat tenaga melaksanakan amanat Pembukaan UUD untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Indonesia, lanjut Pak Harto, dalam menghadapi perubahan dunia itu akan berdaya upaya sekuat tenaga, agar di satu pihak, dapat memanfaatkan peluang yang terbuka bagi kelancaran pembangunan dan di lain pihak berupaya untuk menghindarkan hal­ hal yang merugikan pembangunan Indonesia.

 

Tiga Tugas Nasional

“Tahun 1992 merupakan tahun yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Ada tiga tugas nasional yang besar pada tahun 1992, yakni Pemilu 1992, pelantikan dan sidang pertama MPR dan DPR hasil Pernilu dan KTT Gerakan Non Blok,” kata Pak Harto.

Pemilu merupakan momen penting untuk menyegarkan kehidupan kebangsaan, melalui Pemilu Indonesia akan merniliki MPR baru dengan demikian bangsa Indonesia akan menyegarkan wawasan, gagasan, rencana dan kebijakan untuk lima tahun berikutnya serta rnernilih Presiden/Mandataris yang akan diberi amanah untuk melaksanakan GBHN 1993, lanjutnya.

Menurut Kepala Negara, Pemilu merupakan lembaga pendidikan politik yang penting bagi bangsa Indonesia umumnya dan bagi generasi muda pada khususnya. “Karena itu saya serukan kepada seluruh lapisan kepernirnpinan nasional, yang bergerak dalam jajaran pemerintahan maupun yang berkecimpung di masyarakat, perlu mernpersiapkan seluruh generasi rnuda Indonesia agar mereka menjadi warga negara yang merniliki kesadaran kebangsaan yang tinggi dan rnengetahui hak serta kewajibannya.”

Dalam pelaksanaan Pemilu, lanjut Presiden, hams dicegah jangan sampai timbul fanatisrne golongan dalarn bentuk apapun juga, sebab fanatisme golongan akan memecah belah bangsa.

 

Dunia Ketiga

Perjuangan Indonesia, kata Presiden, untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik rnerupakan bagian dan perjuangan negara-negara dunia ketiga yang umumnya lahir setelah Perang Dunia Kedua.

“Masalah-masalah pokok yang dihadapi pada dasarnya adalah sama dengan yang dihadapi negara-negara dunia ketiga lainnya yaitu memerangi keterbelakangan dan kerniskinan. Aspirasi bangsa Indonesia pada dasamyajuga tidakjauh berbeda, karena itu dengan terus memelihara kerjasama yang adil dengan negara-negara industri maju, Indonesia perlu mempererat kerjasama antara negara-negara yang sedang rnernbangun. Selarna ini Indonesia sudah melakukan hal itu dan tetap akan melakukannya rnelalui berbagai forum dan badan-badan internasional,” kata Presiden.

Indonesia, lanjutnya, berharap agar KTT Gerakan Non Blok yang akan berlangsung tahun depan dapat dikembangkan menjadi forum kerjasama negara-negara dunia ketiga, untuk mewujudkan dunia yang lebih baik demi kemajuan dan keseja hteraan rakyat anggota Gerakan Non Blok pada khususnya dan seluruh umat manusia pada umumnya.

“Menjelang berakhimya tahun ini, dengan perasaan lega, kita dapat mengatakan bahwa Indonesia telah melampaui tahun 1991 dengan selamat dan makin memiliki ketahanan nasional, walaupun menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang tidak ringan. Karena itulah kita mengungkapkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Presiden.

 

 

Sumber : Angkat an Bersenjata (02/01/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 14-19.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: