DAUD BEUREUEH PEJUANG SEPANJANG MASA

DAUD BEUREUEH PEJUANG SEPANJANG MASA

Jakarta, Pelita

Barangkali Teungku Muhammad Daud Beureuh tidak akan mendapat tempat di hati para pembesar negeri ini, sekiranya ia tetap bersikeras mendirikan negara Islam.

Bahkan mungkin saja ia habis diterjang peluru meringkuk dalam penjara, atau hidupnya diawasi secara ketat oleh para petugas yang sama sekali tidak ramah kepadanya.

Namun , sejarah mencatat lain, Daud Beureuh pada bulan Mei 1962 resmi kembali ke pangkuan lbu Pertiwi, dengan segala konsekuensinya. Misalnya, ia tidak lagi mengangkat senjata. malah sebaliknya, seperti dikatakannya Van Dijk, ia menyatakan Aceh bukan lagi daerah-harh (daerah perang) melainkan daerah as-Salam (daerah damai).

Daud Beuereuh memang sudah membuat lembaran tersendiri di dalam sejarah Republik Indonesi a. Ia selama kurang-lebih sembilan tahun (1953-1962) mengangkat senjata, menentang kekuasaan Pemerintah RI dan berusaha mendirikan Negara Islam.

Kesan yang terakhir inilah yang banyak tertanam di benak setiap warganegara RI, terlepas dari soal pro dan kontra pada waktu itu. Padahal ia sebenarnya juga merupakan salah seorang pejuang sejati yang senantiasa ingin membaktikan jiwa dan raganya untuk kepentingan bangsa, rakyat dan negara ini.

Tulisan berikut, mencoba menelusuri jejak langkah perjuangan tokoh kharismatis tersebut, yang kini telah memasuki usia 88 tahun.

Tokoh Pendidik dan Orator

Daud Beureuh, adalah putra Aceh asli, kelahiran kampung Beueuh. Demikian dijelaskan oleh Anggraini dalam tulisannya. “Siapa Teungku Daud Beureuh bekas Gubernur Aceh yang Memberontak?” (Indonesia Merdeka, Oktober 1953).

Ada suatu kebiasaan pada sebagian orang Sumatera untuk meletakkan nama kampung sendiri di akhir namanya, demikian pula halnya dengan Teungku Muhammad Daud.

Selanjutnya Anggraini  mengatakan Daud Beureuh  bukanlah  seorang akademisi. Ia tidak pernah duduk di bangku kuliah. Pendidikannya hanyalah Verolg-School (sekarang Sekolah Dasar). Akan tetapi. ia memperdalam pengetahuan agamanya dengan mempelajari “buku kuning” di pesantren. Pesantren tidak hanya menjadikan Daud Beureuh seorang santri yang saleh, melainkan telah mencetak dirinya menjadi ulama dan pemimpin agama yang ulung, serta memiliki commitment yang tinggi terhadap pendidikan rakyatnya.

Demikianlah, pada tahun 1931 atau setelah keluar dari “penjara” suci. Teungku Muhammad Daud mendirikan Pesantren  dan Madrasah Ababiah di Sigli.

Popularitas Daud Beureuh yang semakin meluas di Aeeh. mungkin dikarenakan aktivitasnya dalam dunia pendidikan. Sehingga ketika para ulama Aceh membentuk organisasi ulama yang diberi nama PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) pada tahun 1939, maka Teungku Daud diminta untuk memimpin organisasi itu.

Dalam priode berikutnya ia berkali-kali terpilih untuk menduduki kursi paling atas dalam PUSA. Dari sini tampak bahwa Daud Beureuh adalah seorang pemimpin yang acepatable di mata rakyat Tanah Rencong.

Komenter mengenai diri Daud Beureuh juga datang dari Dr. A.J. Piekaar. Sejarawan dari Negeri Belanda yang ahli tentang Indonesia itu dalam bukunya, “Aceh en de Oorlog met Japan” berceritera Daud Beureuh adalah seorang yang sangat low profile (rendah hati). Ia selalu hormat dan simpatik dalam setiap pergaulan baik dengan sesamanya maupun dengan orang Eropa.

Maka dari itu tak seorangpun percaya, bahwa beliaulah yang kelak akan memimpin “pemberontakan” rakyat Aceh terhadap Belanda, menjelang Jepang mendarat di Nusantara.

Piekaar juga menyebutkan, Daud Beureuh adalah seorang orator yang pandai “menaklukkan” massa. Kepandaian ini terlihat ketika ia menjadi ketua umum PUSA. Ia mengadakan propaganda di seluruh Aceh menjelang Perang Pasific untuk melawan Belanda. Ternyata rakyat Aceh menyambut dengan baik ajakan tersebut.

Wibawa dan kepemimpinan yang dimiliki oleh Daud Beureuh digunakannya untuk membangun tanah leluhurnya. Ia ingin agar rakyat Aceh hidup rukun dan sejahtera serta kembali ke mardlatillah kelak kemudian hari.

Demikianlah, Daud Beureh tidak henti-hentinya membangun berbagai sarana dan perasarana kehidupan seperti jalan, saluran air, tempat ibadah (masjid) dan lain-lain.

Tidak ada yang diharapkan dari aktivitasnya itu kecuali mendapat keridhoan  Allah SWT sehingga bisa kembali kepada-Nya dengan tenang.

James Siegal menyebutkan, Daud Beureuh pernah memimpin penggalian saluran air sepanjang tujuh belas kilometer dengan kedalaman kira-kira 1,5 meter dalam waktu satu bulan.

Rakyat dengan penuh gairah mengerjakan pembangunan itu. Dikabarkan, tidak kurang dari 300 orang rakyat Aceh setiap hari berswadaya bahu-membahu mengerjakan saluran air tersebut. Bahkan sewaktu-waktu, jumlah pekerja itu membengkak sampai kira-kira 2000 orang.

Gubernur Aceh yang datang melihat-lihat proyek tersebut mengatakan, kalau proyek itu ditangani oleh pemerintah maka biayanya ditaksir tidak kurang dari seratus juta rupiah.

Pemimpin  Politik

Daud Beureuh tidak hanya bergelut dalam masalah-masalah sosial dan pendidikan, tetapi ia pun terjun ke dunia politik. Dalam arti ia selalu memperhatikan nasib bangsa dan negara. Ia mengetahui dengan persis ke arah mana politik berjalan.

Sewaktu Perang Pasific sudah di ambang pintu, ia sudah meramalkannmya dan yakin, bahwa Belanda akan angkat kaki dari bumi Nusantara. Oleh karena itu, ia dengan segera memimpin rakyat Aceh memberontak terhadap Belanda dan menyambut kedatangan Jepang.

Demikian juga, Daud Beureuh sudah mengetahui tanda-tanda bahwa fasisme Jepang ingin agar Indonesia berada dalam “asuhannya.” Sehingga, ia bertindak agak revolusioner terhadap Pemerintah Pendudukan Jepang. Konon, karena tindakannya itu, pihak Jepang bermaksud menjebloskannya ke dalam penjara. Namun hal itu, ternyata tidak jadi kenyataan.

Setelah Jepang bertekuk lutut terhadap Sekutu, Daud Beureuh dengan tegar terjun ke medan juang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang masih muda itu. Ia tidak segan-segan menentang orang-orang yang cenderung memihak Belanda.

Hal ini terbukti bahwa Daud Beureuh memerangi kaum ulee­balang (bangsawan Aceh) yang menyambut kedatangan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia yang mencapai puncaknya dalam Peristiwa Gumbok. Pertempuran antara ulama dengan para bangsawan), sehingga kaum pengkhianat itu terenyahkan dari bumi Tanah Rencong.

Melihat wibawa dan semangatnya yang tinggi, Belanda pun memalingkan matanya agar Daud Beureuh mau bekerja sama dengan kaum bule untuk mempersiapkan diri membentuk Negara Sumatera Utara. Demikianlah, dikisahkan ada sepucuk surat dari Belanda untuk Paduka Teungku Muhammad Daud.

Isinya sudah tentu rayuan agar mau bergabung dengan Belanda. Namun, semangat yang membaja pada diri Teungku Daud sama sekali tidak lebur karenanya. Bahkan sebaliknya ia memimpin, pasukan terjun ke medan pertempuran menentang setiap agressi.

Tulisan Anggraini yang dikutip oleh M. Nur El Ibrahimy mengisahkan, sewaktu Agressi Belanda Pertama Wakil Presiden Hatta sedang berada di Bukit Tinggi. Kemudian Hatta dengan segera mengangkat Daud Beureuh menjadi Gubemur Militer untuk daerah Aceh, Langkat dan Tanah Karo.

Pada waktu Belanda melancarkan Agresinya yang kedua, dan Yogya diduduki Belanda. Daud Beureuh berusaha melancarkan serangan terhadap Belanda di Aceh. Salah satu hasilnya adalah, di daerah Aceh RRI tetap mengudara walaupun dengan sembunyi-sembunyi.

Sementara di Yogya RRI sudah bungkam terkubur oleh serangan Belanda. Apa yang diinginkan Daud Beureuh dari perjuanganya hanyalah tegaknya hukum Islam di daerah yang sangat dicintainya itu. Hal ini terbukti, ketika Bung Kamo berkunjung ke Aceh, beliau meminta kepada Teungku Daud agar rakyat Aceh dikenihkan dengan segala kekuatannya untuk mengusir Belanda.

Daud Beureuh menyambut permintaan itu dengan mengatakan: “……kami rakyat Aceh dengan senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang “fisabilillah”, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada diantara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berani mati syahid.”

 Janji Soekarno

Kemudian Daud Beueuh pun minta kepada Presiden Soekarno, agar bila perang telah usai kepada rakyat Aceh diberikan hak untuk mengurus daerahnya sendiri (otonomi), terutama dalam menjalankan syarat Islam.

Permintaan itu disanggupi oleh Presiden. Namun, ketika Daud Beureuh memohon kesediaan Presiden agar memberikan perjanjian secara tertulis, Presiden menjawab sambil menangis: “Apa gunanya jadi Presiden kalau tidak dipercaya.” Kemudian Bung Karno pun berjanji: “……Wallah,Billah, kepada Rakyat Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam.”

Melihat tangis dan jawaban Presiden tersebut, Teungku Daud tidak sampai hati untuk memaksakan Presiden agar menandatangani perjanjian secara tertulis. Ketika itu Daud Beureuh yakin bahwa Presiden Soekarno kelak, akan menepati janjinya.

Tibalah gilirannya Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, ini tentunya disambut baik oleh seluruh lapisan rakyat, termasuk rakyat Aceh dengan Daud Beureuhnya. Akan tetapi, otonomi daerah Aceh tidak kunjung tiba.

Bahkan sebaliknya, Aceh dijadikan bagian dari Propinsi Sumatra Utara, sehingga rakyat Aceh marah, dan memberontak di bawah pimpinan Daud Beureuh. Terlintaslah goresan hitam dalam perjalanan hidup Teungku Muhammad Daud Beureuh.

Mengenai peristiwa Aceh dan Daud Beureuh ini dapat dibaca dalam berbagai buku. Antara lain, karya Van Dijk, Darul Islam Sebuah Pemberontakan yang lebih memperhatikan Darul Islam secara keseluruhan Karya Antony Raid, The Blood of the People yang lebih memperhatikan masalah Aceh secara keseluruhan.

Di samping itu, banyak juga buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang terlibat atau menyaksikan langsung masalah Aceh. Buku yang paling penting yang lebih khusus menyoroti Daud Beureuh adalah karya M. Nur El Ibrahimy yang berjudul Teungku Muhammad Daud Beureuh. (Jakarta: Gunung Agung, 1986)

Sumber: PELITA (11/04/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 770-783

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.