Agu 042017
 

DAOED BEUREUEH DAN BAITUL A’LA

 

 

Hampir boleh dikatakan, istilah apapun yang diberikan kepadanya. tidak menjadi soal, dari seorang Abu sampai kepada istilah pemberontak. Kira-kira begitulah, terserah, apa yang mau diistilahkan.

Namun ada suatu hal yang ada dalam dirinya, yaitu suatu keiriginan yang sangat besar, sehingga kemudian tampaknya ada kesan “Anger dan Rebelion” seakan memang menjadi seorang pemberang, merengek dan kemudian memberontak. Seakan memperlihatkan sifat yang kekanak-kanakan, benarkah yang seperti itu?

Bisa saja diartikan yang seperti itu namun kebenarannya akan sangat bertentangan Apa yang ada dalam “pemberontakan” yang dilakukan pada waktu itu hanyalah suatu upaya koreksi, yaitu koreksi untuk memberi tempat dan mengakomodasi faham keragaman yang semestinya dimungkinkan dalam kehidupan bernegara dan bersatu dalam menuju suatu kesatuan nasional.

Memang disayangkan bahwa kesadaran yang seperti itu baru kita hayati kemudian, sesudah puluhan tahun, seperti pada masa sekarang ini.

Dalam konteks itulah sebenarnya pemberontakan yang dilakukan makin mempunyai makna, karena pemberontakan itu sendiri tidak sekedar membagai bagian dari keinginan untuk memberi bentuk dan isi keragaman dalam nasionalisme Indonesia.

Atau bisa saja pemberontakan diberi sebuah label yang negatif, namun pemberontakan itu sendiri di dalamnya tidak pernah mengandung efek psikologis yang dapat merupakan trauma.

Pemberontakan yang di Aceh hanyalah sebuah episode dalam keragaman kehidupan itu sendiri, yang maksudnya memberi akomodasi keragaman, yaitu suatu hal yang berkonotasi melangkah ke depan dan berbuat sesuatu.

Bagi Tgk. Muhamad Dawud Beureu’eh, pemberontakan itu sendiri telah merupakan bagian dari hidupnya, sebagai pembuat sejarah, sekaligus mencatat dirinya sebagai pelaku sejarah, dalam perspektifnya melihat ke depan dan berbuat sesuatu, guna mengisi hari depan yang disongsongnya.

Aceh dan Tgk. Muhamad Dawud Beureu’eh, bukanlah simbol pemberontakah atau simbol keberangan. Jelas karenanya, di dalam perspektif yang seperti itu ada keinginan meraih masa depan yang lebih baik, dengan cara menawarkan kemajuan dalam berpikir dan berbuat.

Hanya saja mungkin kita tidak jeli melihat masalah itu sebagaimana adanya. Mari kita melihat dan meminjaunya dari apa yang tersirat, maka kemudian kita makin bijaksana dan dewasa dalam membangun negara yang kokoh.

Sejauh itu kaum kita berbicara masalah tersebut secara demikian, maka kejernihan berpikir dalam memanang pemberontakan yang dilakikan oleh Tgk. Muhammad Daoed Beureu’eh merupakan hal yang tidak perlu dipertentangkan apalagi kalau mesti dicap dengan suatu dosa besar.

Aceh Sekarang

Bumi Aceh memang bergetar, bukan saja di darat, juga isi perutnya. Karena isi perutnya itu maka Aceh memerlukan berbagai kecanggihan teknologi untuk mengeksplorasinya, sehingga hasilnya menjadi devisa negara.

Di masa perang, darurat perang, dan masa damai, Aceh memang berperanan cukup penting dalam hal-hal yang seperti ini. Sebagai hal yang tak dapat dihindarkan akibat harkat tersebut, maka masuklah industri modern dengan segala kecanggihannya ke daerah Aceh. Sungguh, kecanggihan itu sendiri bukannya sesuatu yang haram, apalagi mubazir, sama sekali tidak.

Berbagai loncatan terjadi, bahkan kadang seperti “sinar laser”, karena demikian cepatnya, silau hampir mata terpejam memandangnya.

Aceh terkaget-kaget, bukan saja manusianya, juga bumi yang mendukungnya. Semuanya seakan seperti tak sengaja. Sama tak sengajanya jika kemudian teknologi tinggi menggeser dan mendesak sektor yang tradisional, terutama yang merupakan bahan yang dimamah dan dibiarkan oleh manusia. yaitu manusia yang memamah biak alam dan kehidupan pertanian.

Orang berlomba untuk meninggalkan ketradisionalannya. bukan saja karena kebutuhan yang mendesak. tetapi lebih lagi karena “snobisme” yang mengiming dan menjeratnya. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, begitulah mereka diarak pada perubahan yang tidak mereka duga. Mereka bukan saja tidak siap.juga kucar-kacir dalam mempersepsi kemoderan dan kehidupan yang lebih sophistikasi.

Ada tantangan baru bagi masyarakat Aceh, yang terutama karena ke­ Islamannya. Ternyata industri dengan segala kecanggihannya menurut perubahan yang mendasar sesuatu yang mengarah pada hal-hal yang negatip, yang antara lain menipisnya penghayatan agama dan berbagai implikasi lain­nya yang menyangkut masalah pendidikan dan adat istiadat. Semua ini akibat persepsi yang salah meng nai kemodeman dan hidup sebagai masyarakat maju.

Bukan hanya itu, kemodeman yang ditafsirkan membuat semakin kurangnya semangat menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, kurangnya sikap dan tingkah laku yang jujur, luntur pula sikap moral yang Islam, serta makin berkurangnya kesediaan untuk hidup secara sederhana dan bersih hati.

Kesemuanya ini memang tantangan namun apa daya tantangan itu tidak gayung bersambut. Kurang antisipasi dengan segera, membuahkan pelbagai perilaku yang kurang menguntungkan, sehingga dengan secara tak sengaja, menghambat pembangunan itu sendiri. Ternyata, pembangunan memang tidak hanya menyangkut fisiknya, yang lebih penting adalah manusianya.

Pendidikan, Sekali Lagi Pendidikan

Apa yang telah digambarkan dalam awal tulisan ini, beberapa pandangan Tengku Muhamad Daoed Beureu’ eh, khususnya tentang perspektif pada masa depannya, yaitu mengutamakan masalah-masalah agama, pendidikan dan adat istiadat, kini menampakkan lagi kebenarannya.

Bagi Aceh, tiga komponen utama ini memang merupakan dasar yang paling asasi dalam pembangunan. Harus berjalan secara sinkron dan seimbang.

Pada hakekatnya, dalam masa ketuaannya yang seperti sekarang ini, Tgk.Muhamad Daoed Beureu’eh yaitu, sejak tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1979, secara berakit-rakit ke hulu, merentang dan merajut kembali cita-citanya dengan mendirikan pusat-pusat kegiatan bagi masyarakat dan umat Islam yaitu untuk kembali menyadari dirinya sebagai makhluk yang lemah dan kurang dalam pengetahuannya.

Melalui Masjid Baitul A’la yang lebih dikenal dengan nama Masjid Abu Beureueh, di sebuah kota kecil Buerunuen lebih kurang lima kilometer dari Sigli.

Di Masjid ini kini dia tinggal, dan dari Masjid Baitul A’la pula diharapkan mampu memancarkan kembali sinar bagi upaya-upaya kemajuan daerah Aceh menyambut datang dan terlaksananya pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya.

Timbul pertanyaan, mampukah dia merealisir cita-cita yang masih tersisa, sementara umur semakin menggrogoti dirinya.

Pada hakekatnya, ide dan cita-cita itu harus dikembangkan, dengan ada atau tanpa hadirnya bentuk fisik pencetus ide tersebut.

Lagi-lagi harus diakui, Baitul ia hanya sebuah nama, dan sebagai nama dia dapat berarti bermacam ragam. Tinggal kini bagaimana menerjemahkan isi dari kandungan keinginan serta cita-cita yang ditanamkan, guna mendukung dan melaksanakan pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Ide dan cita-cita itu sendiri sewajarnya tidak bertentangan dengan tujuan pembangunan yang dicanangkan.

Dalam pengisiannya, beragam pemikiran mungkin saja ditawarkan, selama pemikiran-pemikiran itu berhasrat untuk melengkapi, sekaligus menyempurnakan tujuan dan isi pembangunan itu sendiri.

Bagi daerah Aceh, ide pemikiran yang bertumpu pada agama, pendidikan, serta adat istiadat, sesuatu tawaran yang semestinya dipandang sebagai gagasan yang bukan saja orisinil, bahkan mempunyai kerangka pikir yang cukup tinggi nilai kemanusiaannya.

Betapa tidak, gagasan yang ditawarkan oleh Darul A’la, bukan sekedar karena Masjidnya bukan pula karena assesorisnya, tetapi yang terpenting hasrat untuk membentuk manusia Indonesia yang dengan pendidikan yang telah diperolehnya itu, dia bukan saja mampu hidup mandiri tanpa menggantungkan dirinya kepada orang lain.

Selebihnya, para alumnus yang dihasilkan nantinya oleh Darul A’la, merupakan individu-individu yang tinggi moralnya, tinggi pula semangat dan berani menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan serta memperlihatkan tingkah laku yang jujur, serta nantinya, mereka itu berani untuk hidup secara sederhana bukan karena terpaksa tetapi karena tanggung jawab imannya, dan mempunyai hati yang bersih.

Langkah-langkah manusia yang seperti itu sekarang ini? Tampaknya memang demikian. Dalam kelangkaan yang seperti itu, kembali Tgk. Muhammad Daoed Beureu’eh menanmpilkan pemikiran yang berspektrum dan mempunyai perspektif masa depan yang lebih baik. Bukankah hari esok selalu didambakan menjadi lebih baik dari hari kemarin?

Barangkali hal yang seperti ini merupakan tantangan lain, dan merupakan “warna” yang selama ini kurang dimengerti dan diketahui mengenai Tengku Muhamad Daoed Beureu’eh. (RA)

 

 

Jakarta, Pelita

Sumber : PELITA (12/12/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 642-646.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: