Mar 022014
 

Catur  Hikmat  dalam  Perjuangan  “SO 1 Maret ’49”[1]

Slamet Sutrisno[2]

 

 Makalah ini, demikian juga setiap makalah dengan topik apapun tentu saja   terlepas dari pilihan faset, sudut pandang atau perspektif karena mustahil akan mampu melukiskan suatu  pokok bahasan atau  peristiwa sejarah secara utuh. Maka itu penulis memilih  “hikmat/hikmah “ sebagai perspektif dalam melakukan kajian atas Serangan Oemoem 1 Maret 1949 (SO 1 Maret ’49) yang melegenda, sebagai sebuah babak perjuangan “hidup-mati-”nya  Revolusi Kemerdekaan 1945.

Penulis memilih kamus klasik terbitan 1952, bahwa “hikmat/hikmah “ adalah: kepandaian, ilmu, kebijaksanaan dan kesaktian (“Kamus Saku,” oleh Reksosiwojo, ST Muh.Sa’id dan A.Sutan Pamuntjak; J.B.Wolters,Jakarta, Groningen; 1952). Catur hikmat berarti adanya (paling kurang) empat jenis hikmat yang termuat dalam momen SO 1 Maret ‘49, sebagai serangkaian pembelajaran bangsa terutama kaum elit dan kaum muda masa kini. Catur hikmat itu mencakup: (i) eksistensi  triumvirat (ii) keunggulan  strategi  (iii)  kesadaran masa depan dan (iv) dharma. Tekanan yang dipilih makalah ini dalam pikiran penulis adalah hikmat pertama, yakni triumvirat.

Eksistensi Triumvirat

Istilah “Triumvirat” atau Tritunggal ketokohan/ kepemimpinan baru muncul di fase awal perjuangan Orde Baru, yang terdiri atas: Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX), Adam Malik dan Jendral TNI Soeharto.Apabila kita baca dengan cermat sejarah perjuangan kemerdekaan dan  perjalanan sejarah republik, sejumlah triumvirat dengan mudah akan dikenali dan dijumpai. Fakta tritunggal  kepemerintahan, kenegaraan dan kepemimpinan kenegara-bangsaan ini boleh jadi akan menarik untuk dikaji secara akademis melalui penelitian serius.

 Triumvirat pertama kali yang muncul dalam perjuangan kemerdekaan tak ayal lagi adalah: Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Syahrir. Dalam SO 1 Maret ‘49, triumvirat yang mudah dibangun adalah Panglima Besar Letjen Soedirman, Sultan Hamengku Buwono IX dan Letkol. Soeharto. Kelak dalam perjuangan menegakkan pembangunan nasional yang lebih tertata, triumvirat yang terkenal adalah Sultan Hamengku Buwono IX, Adam Malik dan Jendral Soeharto. Apabila kita buka lembaran sejarah, kabinet demi  kabinet masa lalu, dari  Wakil Perdana Menteri (Waperdam) sampai Menteri Koordinator (Menko) pada umumnya berjumlah tiga bidang. Sebenarnya fakta konstelasi ini juga dapat dikembangkan sebagai triumvirat.

 Ada keuntungan lain dari perspektif triumvirat dalam kajian SO 1 Maret 1949, yaitu  dapat  menghindarkan  dari tendensi “klaim”  dan  pandangan kemutlakan kebenaran, yang agak sulit diterima akal sehat. Betapapun seorang pemimpin, pejabat atau tokoh berperan sangat gamblang dalam SO 1 Maret 1949 itu entah sebagai  apa, dimana dan bilamana, –pemrakarsa, pemberi izin atau komandan perang–  dengan nafas kearifan sebenanya tidak akan  pernah  terjadi bahwa peran dan ketokohan itu bisa diasumsikan mutlak atau absolutismenya.

 Dengan memilih tema “triumvirat” itu akan diperoleh  nafas kearifan  dimana  kita akan diajari oleh sejarah dalam mencerna  realitas bahwa senantiasa akan terjadi korelasi, interaksi dan bahkan integrasi diantara para aktor-aktor perjuangan manapun. Pangsar Jendral Sudirman, Sultan HB IX dan Letkol  Soeharto dalam kenyataannya selalu melakukan tiga domain itu –korelatif, interaktif dan integratif—sehingga kebersamaan dan keselarasan yang sudah tertonggak dalam sejarah perjuangan kenegara-bangsaan itu sebaiknya tidak “diganggu” dengan klaim- klaim kemutlakan peran.

 Hal ini cocok belaka dengan falsafah kenusantaraan terutama falsafah kejawaan yang tidak mengenal kemutlakan. Camkan “unen-unen” berikut: mulur-mungkret, mobah-mosik, owah-gingsir, ajur-ajer, empan-papan, muna-muni, lambe-ati, lembah-manah, andhap-asor, ngono ya ngono nanging aja ngono.  Keseluruhan unen-unen itu adalah ajaran kebijaksanaan tentang tata-hubungan manusia dengan manusia,dengan masyarakat, dengan Tuhan, dengan alam, pendek kata: ajaran penyikapan terhadap realitas atau “kasunyatan.”

 Dalam kenyataannya semacam klaim kemutlakan  kebenaran  bisa saja tejadi dalam kebanggaan dan romantisme sejarah perjuangan, apalagi jika perjuangan itu memberikan kisah manis kemenangan. Sejarah SO 1 Maret 1949 dalam tinjauan makalah ini tidak perlu lagi memutlakkan para aktornya secara terpisah atau parsial,   terutama  karena para aktor itu sendiri memang tidak ingin dimutlakkan atau dalam bahasa lebih popular: dikultuskan. Perspektif triumvirat inilah salah satu percobaan analisis  kesejarahan yang lebih mengedepankan kebersamaan dan keselarasan. Hanya dengan segala kebersamaan dan keselarasan itulah, bukan hanya dalam pemeranan para tokoh dan pemimpin, melainkan juga rakyat jelata yang tidak pernah bisa dihapus peran perjuangannya dalam bukan hanya SO 1 Maret 1949,melainkan juga dalam sekuen dan momen-momen perjuangan  lainnya yang sama heroiknya.

 Relevan dengan pola pikir tadi, kemanunggalan ABRI dan Rakyat yang dikemukakan dalam perjuangan Orde Baru, dengan konsep Dwifungsi, sesungguhnya merupakan justru konsistensi sejarah. Sulit memandang  peran-peran dan profesi-profesi kemodernan dalam sapuan kesamarataan dunia. Misalnya pada peran dan profesi TNI, agaknya tidak bisa disamaratakan dan diserupakan dengan kemiliteran di Negara-negara maju karena latar belakang sejarah  kelahiran dan  kerangka  sosial budaya yang memang berlainan. Namun demikian sejarah juga yang memberitahukan bahwa Indonesia kontemporer sedang menapaki  perjalanan   modernnya dalam jalur-jalur yang  sebagian  disontek dari Negara maju, yang belum tentu cocok. Kini kita semua banyak masygul, bahkan pemimpin tidak tahu di persimpangan manakah Negara-bangsa ini sedang berada.

 Tipologi perjuangan yang mengintegraskan antara kekuatan militer, diplomasi para pemimpin Negara dan politikus, dan perjuangan tersendiri rakyat banyak adalah trilogi kejuangan keindonesiaan yang nyata. Dalam kerangka survival NKRI, SO 1 Maret 1949 selain melahirkan triumvirat yang handal dalam kepemimpinannya sekaligus melahirkan trilogi kejuangan tersebut. Dengan demikian, kemutlakan  penghargaan juga tidak cocok apabila dialamatkan kepada hanya salah satu dari trilogi tersebut. Kelak dua windu kemudian di tahun 1965, survival kenegaraan dari ancaman  kudeta G30S/PKI juga selalu menunjukkan trilogi yang mirip: peran pemerintahan sipil, peran TNI dan peran rakyat yang tidak bersedia dikecoh oleh G30S/PKI.

Demikianlah kalau dipelajari sejarah SO 1 Maret 1949 menyangkut  “purwa- madya dan wasana”-nya, ketiga unsur triumvirat tersebut telah memainkan  peranan masing-masing dalam sebuah simfoni perjuangan  secara harmonis. Marilah diawali dengan peran Sultan Hamengku Buwono IX, yang pengorbanannya baik selaku Sultan, pejabat tinggi pemerintahan (Menteri) maupun seluruh asset keraton, tidak diragukan telah diberikan secara optimal untuk “mengasuh bayi NKRI.” Walaupun Sultan adalah penguasa riil NKRI saat itu karena Presiden dan Wapres ditawan Belanda dan Pangsar Jendral Sudirman memimpin  gerilya di luar ibukota Negara; Sultan secara proporsional dan prosedural tidak mau meninggalkan Pangsar Sudirman dalam dalam prolog  SO 1 Maret 1949.

Letkol Soeharto, notabena, adalah sorang opsir komandan yang terbukti menjadi pilihan Pangsar Jendral Sudirman dan Sultan., untuk memimpin SO 1 Maret itu. Bahwa Soeharto yang terpilih, apalagi oleh tokoh-tokoh puncak yang kalibernya tidak sembarangan, ini berarti ke dua pemimpin besar itu –Pangsar Jendral Sudirman dan Sultan Hamengku Buwono IX—nyata-nyata menaruh dan memberi kepercayaan sepenuhnya kepada Soeharto, bukan perwira militer yang lain. Sekali lagi, ke tiga anggota triumnvirat itu tak pelak  lagi  selalu berkorelasi, berinteraksi dan berintegrasi dalam menyukseskan SO 1 Maret 1949. Sinergi dan resultante ke tiga energi akalbudi dan spiritual ke tiga pemimpin sipil dan militer itulah telah menorehkan  tonggak sejarah perjuangan gemilang pada SO 1 Maret ‘49.

Keunggulan Strategi

Hikmat  ke dua yang dapat dipetik adalah keunggulan strategi penyerangan, karena suskes SO 1 Maret ini adalah tidak mungkin tanpa strategi jitu dan penuh keandalan. Dalam buhul keunggulan strategi ini tentu saja dominan  aktornya adalah Soeharto. Strategi inipun terbuhul dalam  rumus  trilogi keberhasilan, yakni : (i) tekad ideologis (ii) kecerdasan dan (iii) strategi. Jadi, keunggulan strategi yang dibangun oleh Soeharto dkk  tidak bisa dipisahkan dari  etos kejuangan atau tekad ideologis, dalam hal ini yang mencolok   adalah ideologi kerakyatan atau perang semesta, dan tidak bisa dilepaskan dari taraf kecerdasan pemikir strategi itu. Sedangkan dalam dimensi tekad ideologis, Pangsar Jendral Sudirman dan Sultan kembali eksis bersama keunggulan strateginya Soeharto.

Kesadaran Masa Depan

Hikmat ke tiga adalah kesadaran kuat akan masa depan, dalam hal ini adalah masa depan NKRI, masa depan bangsa. Sekelumit tinjauan filosofis akan bermanfaat dalam meluaskan wawasan kita. Ciri pokok dari sifat dasar manusia adalah dikenalnya masa depan sebagai pemahaman dan sekaligus acuan. Lain dari makhluk pra-manusia –hewan dan tumbuhan—manusia mengubah alam semesta (kodrati) menjadi fenomena “dunia” (sosiokultural). Perbedaan kategorisnya adalah bahwa hanya pada dunia dikenal arti dan makna, karena tumbuhan dan hewan hanya “ada” di alam semesta tanpa arti apapun bagi “mereka.” Hanyalah manusia mampu memaknai kehidupannya dan dia sadar dan insyaf bahwa hidup dalam suatu dunia yang memang bermakna.

 Masa depan adalah sebagian dan satu dimensi dari makna tersebut, maka itu manusia bukan “ada” melainkan bereksistensi di dunianya. Secara begitu, manusia tidak akan mau dilanda kenihilan hidup sebab kenihilana dalah nirmakna. Andre Malraux (Daoed Yoesoef;1978) pernah berkata: “Misteri terbesar itu bukanlah bahwa kita telah diombang-ambingkan diantara kesimpangsiuran zat dan bintang-bintang, akan tetapi di dalam keterkurungan ini kita dapat memetik dari diri sendiri daya cipta yang cukup kuat guna membantah kenihilan kita.” Tanpa kesadaran akan masa depan, kita benar-benar hidup secara nirmakna dan SO 1 Maret ’49 adalah perjuangan besar untuk membantah kenihilan kenegara-bangsaan setelah terpuruk oleh pendudukan Belanda pada 1947 dan 1948.

Dharma

Hikmat yang ke empat adalah  penyelenggaraan suatu  Dharma. Ini berasal dari ajaran Hindu akan dharma hidup dan kehidupan, yang berarti  kewajiban dan kebajikan. Barangkali sejak awal para aktor triumvirat itu telah memahami dan melaksanakan  ajaran kejawaan: rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani.

 Dharma, tak kurang sesungguhnya merupakan etos perjuangan kenegara-bangsaan. Akan tetapi sayang, masa kini masyarakat kebangsaan telah dininabobo dengan segala macam HAM yang senyatanya telah memupus kesadaran akan makna dharma kehidupan.

***

[1] Makalah, disampaikan dalam peringatan 65 Tahun SO 1 Maret 1949, di Museum Memorial HM. Soeharto

[2] Dosen Sejarah Pergerakan Nasional & Filsafat Perdamaian di Fakultas Filsafat UGM

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: